Call Center.pngStop Illegal.png

 

Lokasi

Secara geografis Kawasan Cagar Alam (CA) wolo Tadho berada di wilayah Kecamatan Riung Kabupaten Ngada Propinsi Nusa Tenggara Timur. Secara astronomis berada di 1210 00” -  1210 06” BT  dan  08o 26’ – 08o 24,3’ LS dengan luas 4.016,8 Ha. Batas terluar dari Kawasan CA Wolo Tadho adalah

·         Sebelah Utara berbatasan dengan TWAL Tujuh Belas Pulau

·         Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Wangka

·         Sebelah Barat berbatasan dengan CA Riung

·         Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Nagekeo

 

Sejarah Kawasan

Kawasan Cagar Alam (CA) Wolo Tadho ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Alam berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor:429/Kpts-II/92 tentang Penetapan Kawasan Hutan Wolo Tadho Kelompok Hutan Ngada Wolo Merah Riung tanggal  5 Mei 1992.

 

Dasar Hukum

Peraturan perundangan yang digunakan sebagai dasar hukum atau status kawasan Cagar Alam Wolo Tadho adalah:

·         Keputusan Menteri Kehutanan Nomor:89/Kpts-II/1983 tanggal 2 Desember 1983 tentang penunjukan areal hutan di Wilayah Propinsi Dati.I Nusa Tenggara Timur seluas + 1.667.962 sebagai kawasan hutan.

·         Keputusan Menteri Kehutanan Nomor:429/Kpts-II/92 tanggal 5 Mei 1992 tentang Penetapan Kawasan Hutan Wolo Tadho Kelompok Hutan Ngada Wolo Merah Riung.

·         Sedangkan peraturan perundangan yang digunakan sebagai dasar Penyusunan Dokumen Blok Pengelolaan CA Wolo Tadho adalah

·         Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya

·         Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan

·         Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang

·         Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

·         Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah

·         Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan Serta Pemanfaatan Hutan sebagaimana telah diubah melalui Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan serta Pemanfaatan Hutan

·         Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 108 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam

·         Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kehutanan Nomor: P.76/Menlhk-Sekjen/2015 tentang Kriteria Zona Pengelolaan Taman Nasional dan Blok Pengelolaan Cagar Alam, Suaka Margasatwa, Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Alam

·         Perdirjen KSDAE Nomor P.11/KSDAE/SET/KSA.0/9/2016 tanggal 30 September 2016 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan Rancangan Zona Pengelolaan atau Blok Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam

 

Potensi Ekologi

Kawasan Cagar Alam Wolo Tadho merupakan perwakilan ekosistem hutan dataran sedang dan hutan mangrove dengan dominasi Rhizopora apiculata. Kondisi Lingkungan kawasan ini berada di daerah yang terjal serta memiliki tipologi kawasan yang beragam yaitu hutan, savana, dan sungai. Tutupan lahan kawasan meliputi hutan sekunder dan hutan pantai.

Jenis-jenis flora campuran yang tumbuh di kawasan ini antara lain jenis-jenis kayu hitam (Diospyros sp), Waru (Hibiscus tiliaciusi),Ketapang (Terminalia catappa), Kepuh (Streculia foetida), Ampupu (Eucalyptus urophylla), Asam (Tamarindus indica), Johar (Cassia siamea) dan Kayu manis (Cinamomum burmani). Jenis-Jenis fauna yang ditemukan dalam kawasan ini adalah Rusa timor (Russa timorensis), landak, kera (Macaca ints), biawak timor (Varanus fitnorensis), babi hutan (Sus vitatus), ayam hutan (Gallus galus), serta berbagai jenis burung misalnya nuri (Lorius doniicella), beo (Gracula religiose), dan perkici dada kuning (Trichoglosus haeniatodus). Selain kekayaan alamnya, kawasan ini sangat penting sebagai daerah tangkapan air bagi daerah sekitarnya Oleh karena potensi sumber daya alamnya  tersebut, maka kawasan ini ditetap­kan sebagai cagar alam.

 

Potensi Ekonomi Sosial Budaya

Kawasan Cagar Alam Wolo Tadho berada di Kabupaten Ngada kecamatan Riung dan berbatasan langsung degan 4 Desa. Desa-desa yang dimaksud, yaitu Desa Tadho, Desa Latung, Kelurahan Benteng Tengah dan Kelurahan Nangamese. Jumlah penduduk dan jumlah KK masing-masing Desa yaitu 1.456 jiwa, 1.983 jiwa, 763 jiwa, dan 1.1453 jiwa. Jika dilihat dari usia produktif maka penduduk yang produktif sebanyak 2.245  jiwa dan yang nonproduktif sebanyak 1.156 jiwa.

Mata pencaharian yang paling dominan di wilayah studi ini adalah bekerja sebagai petani kebun/sawah yaitu sebanyak ± 33,4 %, kemudian urutan kedua sebanyak ±25,43 % sebagai nelayan. Urutan ketiga dengan pekerjaan serabutan sebanyak ±8,13%, bekerja sebagai buruh/pegawai swasta ±6,15%. Selanjutnya urutan kelima sebagai PNS/ABRI/Polisi sebanyak ±4,13%. Kemudian urutan ketujuh sebanyak 2,75% merupakan penduduk yang bermatapencaharian sebagai pedagang.

Sarana pendidikan sudah cukup banyak tersedia di Kecamatan Riung baik pendidikan dasar, menengah dan atas. Terdapat fasilitas pendidikan berupa Paud 6 buah, SD 4 buah, MIS 2 buah, SMP 2 buah, MTS 2 buah, SMA 1 buah dan MA 2 buah. Fasilitas kesehatan berupa puskesmas 1 buah dan pustu 2 buah. Perekonomian daerah ini cukup maju karena berada diskeitar kawasan TWAL Tujuh Belas Pulau yang merupakan tempat wisata sehingga banyak dikunjungi wisatawan.

Secara budaya masayrakat sekitar kawasan tidak mempunyai kearifan lokal budaya yang bersinggungan dengan kawasan CA Wolo Tadho namun sebagian orang-orang terutama di Kampung Riung Lama melakukan ziarah di makam lelehur pejuang yang berada di dalam kawasan.

 

Aksesibiltas Kawasan

Kawasan Cagar Alam (CA) Wolo Tadho dapat diakses dengan menggunakan :

Jalur udara dengan rute :

·         Kupang – Soa : setiap hari sekitar 1 jam, dilanjutkan perjalanan darat ke lokasi CA Wolo Tadho sekitar 4 jam.

·         Kupang – Ende setiap hari  sekitar 45 menit, dilanjutkan dengan perjalanan darat dari Ende – Mbay – ke lokasi CA Wolo Tadho sekitar 5 jam

·         Jalur laut dengan rute :

·         Kupang – Ende menggunakan kapal ferry 2 kali seminggu sekitar 18 jam, dilanjutkan dengan perjalanan darat Ende –Riung- ke lokasi CA wolo Tadho sekitar 5 jam.

·         Kupang – Ende menggunakan kapal PELNI 2 minggu sekali sekitar 18 jam, dilanjutkan dengan perjalanan darat Ende – Riung – ke lokasi CA Wolo Tadho sekitar 5 jam.

 

Iklim

Kondisi iklim di wilayah Riung sebagaimana halnya seperti sebagian besar wilayah di NTT adalah iklim tropis dengan variasi suhu dan penyinaran yang rendah dengan kisaran suhu antara 26,43oC – 28,85oC, kelembapan udara 62,80% - 86,37% curah hujan rata-rata tahunan antara 1.000 sampai dengan 3.000 mm/tahun. Angin pada umumnya kencang yang berpengaruh pada kegiatan pertanian dan perikanan. Pada musim hujan sering terjadi badai yang kuat.

Rata-rata suhu minimum dan maksimum harian berkisar antara 26 – 32oC dengan panjang hari ± 12 jam. Pola umum iklim di wilayah ini adalah musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan berlangsung antara November sampai dengan Maret dan musim kemarau antara April sampai dengan Oktober. Pola iklim ini dikendalikan oleh pola angin moonson yang berasal dari tenggara yang relatif kering dan dari arah barat laut yang membawa banyak uap air.

Iklim di wilayah Riung termasuk semi arid dengan 3 - 4 bulan musim hujan dan 8 – 9 bulan musim kering. Kondisi iklim demikian mempengaruhi pola pertanian yang hanya melakukan kegiatannya pada musim hujan. Hal demikian juga mempengaruhi produktivitas tenaga kerja pertanian yang rata-rata kurang dari 5 jam per minggunya akibat waktu bertani yang hanya dilakukan selama 3-4 bulan setahun. Curah hujan untuk saat ini juga dipengaruhi perubahan iklim global yang berdampak periode atau musim hujan dan kemarau yang sulit untuk diprediksi dan fenomena musim hujan dan musim kemarau yang ekstrim. Akibat dari perubahan iklim ini adalah kekeringan, gagal tanam, gagal panen dan gangguan hama dan penyakit yang serius.

 

Geologi dan Tanah

Pada wilayah Riung kondisi geologi terdiri dari batuan endapan permukaan, batuan hasil gunung api tua, batuan karbonat formasi baru yang berumur miosen tengah. Batuan di wilayah ini tersusun oleh batu gamping berselingan dengan batugamping pasiran. Ketebalan formasi ini mencapai 1.200 meter. Susunan urutan batuan dari muda ke tua yang ada dapat dikelompokkan menjadi endapan permukaan hasil kegiatan gunung api dan batuan sedimen (Hermawan, 2007).

Satuan wilayah morfologi terbagi dalam 3 wilayah (Hermawan, 2007), yaitu:

·         Morfologi dataran bentukan asal fluvial yang secara kenampakan memperlihatkan topografi yang relatif pedataran dengan kemiringan lereng tidak lebih dari 3%. Batuan yang menyusun satuan ini terdiri dari endapan sungai dan pantai terdiri dari lempung, lanau, pasir, kerikil dan kerakal.

·         Morfologi pebukitan bergelombang yang umumnya berupa rangkaian pebukitan dengan kemiringan lereng yang beragam dari kemiringan lereng yang landai hingga agak curam. Batuan yang menyusun satuan ini terutama batuan vulkanik yang terdiri dari breksi, lava, konglomerat dan tufa sedangkan dari sedimen laut terdiri dari batu pasir, batu lanau, batu lempung, napal dan batu gamping berselingan dengan batuan gunung api seperti: batu pasir tufaan, tufa, konglomerat dan breksi gunung api. Faktor yang dominan dalam pembentukan morfologi ini adalah proses endogenik dan struktur geologi.

·         Morfologi pebukitan terjal berupa rangkaian pebukitan dengan kemiringan lereng yang agak curam hingga terjal. Batuan yang menyusun satuan ini, yaitu terutama batuan vulkanik yang terdiri dari breksi, lava, konglomerat dan tufa. Sedimen laut terdiri dari batupasir, batu lanau, batu lempung, napal dan batu gamping berselingan dengan gunung api seperti batupasir tufaan, tufa, konglomerat dan breksi gunung api. Faktor yang dominan dalam pembentukan morfologi ini adalah proses endogenik dan struktur geologi. Morfologi ini merupakan suatu produk gunung api yang berselingan dengan sedimen laut dengan batuan yang menyusunnya yaitu: lava, breksi, konglomerat dan tufa, sedangkan sedimen laut berupa batugamping, napal, pasiran, batupasir tufaan, batupasir gampingan dan batu lempung.

 

Hidrologi

Kawasan Riung merupakan karst yang potensial memilikin cadangan air dalam bentuk mata air dan sungai bawah tanah yang muncul ke permukaan karena topografi yang memotong muka tanah setempat dan dipengaruhi struktur geologi (Hermawan, 2007). Potensi sumber air yang dimanfaatkan untuk wilayah Riung (Riung Dalam Angka, 2010), meliputi:

1. Desa Taen Terong sebanyak 2 mata air dengan debit 3,74 liter/detik.

2. Desa Rawangkalo sebanyak 3 mata air dengan debit 16,14 liter/detik

3. Desa Wangka sebanyak 1 mata air dengan debit 2,5 liter/detik.

4.Desa Wangka selatan sebanyak 3 mata air dengan debit 3,07 liter/detik.

5. Pada desa-desa wilayah pesisir penduduk juga memenuhi kebutuhan airnya dengan menggali sumur di sekitar pekarangan rumahnya.