Call Center.pngStop Illegal.png

GEOLOGI

Di era Palaeozoic (245-290 juta) tahun yang lalu, di bumi hanya terdapat satu super kontinen bernama Pangaea. Kira-kira 150-215 juta tahun lalu, pada masa Mesoic, benua tunggal tersebut terpidah oleh perluasan Laut Tethys menjadi dua bagian benua Laurasia dan  Gondwanaland; Benua Laurasia membentuk Amerika Utara, Eropa, dan Asia; Gondwanaland membentuk Arab, Amerika Selatan, Afrika,Australia, New Guinea, Antartika, India, New Zealand, dan sebagian dari Asia Tenggara. Zona subduksi telah berkembang secara simultan sepanjang batas selatan blok Asia membentuk tanda-tanda  Java Trench atau palung Jawa. Di sana, mengikuti gerakan umum ke arah utara dari Gondwanaland dan bagian India-Australia-Antartika miring ke arah utara mengarah ke zona subduksi. 
Evolusi kepulauan di Nusa Tenggara sangat kompleks dan masih dalam perdebatan. Namun, adalah mungkin untuk membuat klasifikasi ke dalam kelompok, yaitu oceanic dan continental islands. Pulau-pulau oceanic muncul dari dasar laut dan terisolasi yang bukan merupakan bagian dari pecahan benua. Di Nusa Tanggara dan Maluku, pulau-pulau oceanic, berasal baik dari inner volcanic arc dan outer arc, lebih muda dari masa pertengahan Miocene (15 Ma). Sebagian besar darinya nampak di atas permukaan laut pada akhir masa Miocene-Pliocene. Pulau-pulau Continental adalah bagian dari massa benua terletak di lempeng benua, dimana sekarang terpisah dari benua utama oleh lautan. (Sumber : The Ecology of Nusa Tenggara & Maluku, Periplus Edition, 1997). 

 

GARIS WALLACEA

Kepaulauan Nusa Tenggara, masuk di dalam wilayah Wallacea. Yaitu wilayah yang membentang sepanjang 5.000 kilometer di sekitar garis khatulistiwa, yang terdiri dari 13.500 pulau lebih. Wilayah ini berada di antara Paparan Sunda (Semenanjung Malaya, Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Bali) dan Australia-Nugini. Pulau-pulau yang termasuk wilayah Wallacea antara lain pulau-pulau Nusa Tenggara (Lombok, Komodo,Flores, dan Sumba), Timor, Sulawesi dan Maluku Utara (Halmahera, Aru), dengan total luas 338.494 km2  Garis yang memisahkan flora dan fauna ini menunjukkan fenomena adanya flora-fauna di barat yang mirip margasatwa di Asia dan flora-fauna di timur yang berbau Australia. Kawasan Wallacea sangat kaya akan fauna campuran dari kedua Benua. Kondisi geografisnya yang dipisahkan oleh samudera, berakibat ditemukannya ratusan spesies endemik. (Sumber:Teka-teki “Garis” Wallace: Majalah Burung, No.1 Edisi Juli 2006).

 

TUTUPAN HUTAN


RePPProt (1989,1990), menyatakan bahwa tutupan hutan (forest cover) di wilayah Nusa Tenggara Timur seluas 21%. Tipe hutan di  Nusa Tenggara Timur, dibedakan ke dalam : tidal forest (mangrove, nypa, & palm), coastal forest, swamp forest, moist primary lowland forest, riparian forest, moist sub-montane forest, moist montane forest, forest on limestone rock, dan mixed savanna. 

 

KARST


Kawasan karst di Indonesia mencakup luas sekitar 15,4 juta Ha tersebar hampir di seluruh Indonesia. Perkiraan umur dimulai sejak 470 juta tahun lalu sampai yang terbaru sekitar 700.000 tahun. Keberadaan kawasan ini menunjukkan bahwa pulau-pulau Indonesia banyak yang pernah menjadi dasar laut, namun kemudian terangkat dan mengalami pengerasan. Wilayah karst biasanya berbukit-bukit dengan banyak gua.
Sebaran kawasan karst di  Indonesia adalah di : Gunung Leuser (Aceh), Perbukitan Bohorok (Sumut), Payakumbuh (Sumbar) Bukit Barisan, mencakup Baturaja (Kab. Ogan Kombering Ulu), Sukabumi Selatan (Jabar), Gombong Kebumen (Jawa Tengah),Pegunungan Kapur Utara, mencakup daerah Kudus, Pati, Grobogan, Blora dan Rembang Jawa Tengah, Pegunungan Kendeng, Jawa Timur, Pegunungan Sewu, yang membentang dari Kab. Bantul di barat hingga Kab. Tulungagung di timur; Sistem perbukitan Blambangan, Jawa Timur; Pegunungan Schwaner (Kalbar);Kawasan Pegunungan Sangkulirang-Tanjung Mangkaliat seluas 293.747,84 hektare, memiliki gua-gua dengan lukisan dinding manusia purba (Kalimantan Timur); Perbukitan Maros Pangkajene, terletak di Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan , seluas 4.500 hektare dan beberapa di antara gua-gua yang ada memiliki lukisan purba; Kawasan karst Wowolesea, memiliki sistem air asin hangat (Sulawesi Tenggara); Pulau Muna; Kepulauan Tukangbesi; Pulau Seram (Maluku); Pulau Halmahera (Maluku Utara); Kawasan karst Fakfak (Papua Barat); Pulau-pulau Biak dan Pegunungan Tengah dan Pegunungan Lorentz (Papua).
Di wilayah Provinsi NTT, sebaran karst terdapat di perbukitan di bagian barat Pulau Flores, tempat lokasi banyak gua, salah satu di antaranya adalah Liang Bua; perbukitan karst Sumba; dan pegunungan karst Timor Barat (Sumber: wikipedia/karst).


 

CORAL TRIANGLE


Coral Triangle (CT)  adalah kawasan segitiga coral terpenting di dunia, yang meliputi 6 negara, yaitu Phillipina, Indonesia, Papua New Guinea, Malaysia, Timor Lester, dan Kepulauan Solomon. Termasuk bagian dari wilayah ini, masing-masing dengan  keragaman manusia, binatang, tumbuhan,  dan geofisik, merupakan bagian dari Coral Triangle.
CT adalah kawasan dengan keagaman hayati lautnya yang sangat tinggi di dunia, dengan lebih dari 500 spesies coral, 3.000 spesies ikan, dan yang masih memiliki sisa ekosistem hutan mangrove  terbaik di dunia. Kawasan ini dihuni lebih dari  150 juta manusia. Maka, kawasan ini merupakan pusat keragaman laut terbaik di dunia, sangat vital utuk pemeliharaan ekosistem yang sehat dan perikanan untuk kesehatan dan kesejahteraan manusia di dunia. Namun, penangkapan ikan yang tidak lestari, polusi, perubahan iklim, dan pengrusakan habitat mengancam kawasan ini.
Coral Triangle Innitiative (CTI) merupakan inisiatif kerjasama antar pemerintah untuk mempromosikan kesehatan laut dengan membantu masyarakat mengelola sumberdaya perairannya melalui pembangunan dan penguatan pengelolaan kawasan perairan laut (marine protected areas/MPA), mempromosikan manajemen lansekap laut pada skala luas, memperbaiki perikanan, adapatasi terhadap perubahan iklim, dan pemulihan spesies terancam punah. (Sumber: Conservation International)   

Perairan laut di Provinsi Nusa Tenggara Timur, merupakan bagian dari kawasan Coral Triangle ini. Pada tahun 2009, Menteri Kelautan dan Perikanan mengeluarkan keputusan Nomor KEP.38/MEN/2009 tentang Pencadangan Kawasan Konservasi Perairan Nasional Laut Sawu dan sekitarnya. Laut Sawu merupakan bagian Selatan dari kawasan Coral Triangle, terletak di persimpangan  Samudera Pasifik dan Hindia dan menjadi koridor migrasi utama bagi 18 jenis paus, termasuk 2 jenis paus langka yaitu paus biru dan paus sperma.