Sejarah Kawasan

Taman Wisata Alam Camplong mengalami beberapa tahapan sejarah pembentukan antara lain; Pada tanggal 11 Mei 1929 kawasan ini ditunjuk oleh Residen Timor melalui Keputusan Nomor : 180 seluas ± 475 hektar sebagai Hutan Tutupan yang terpelihara, Tanggal 17 Maret 1980 kawasan ini ditunjuk oleh Menteri Pertanian RI melalui Keputusan Nomor: 183/Kpts/Um/3/1980 yang tergabung dengan Kelompok Hutan Sisimeni Sanam, Tanggal 30 Maret 1982 Gubernur Nusa Tenggara Timur menunjuk kawasan ini sebagai Taman Wisata melalui Keputusan Nomor :46/BKLH/1982 seluas ± 2.000 hektar, Tanggal 12 Desember 1983, melalui Keputusan Nomor 89/Kpts/Um/83 tentang Tata guna Hutan Kesepakatan (TGHK) Menteri Pertanian menunjuk kawasan ini sebagai Hutan Wisata, secara parsial ditetapkan sebagai Taman Wisata Alam berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : SK.347/Menhut-II/2010, tanggal 25 Mei 2010 pada saat penataan tata batas kawasan yang dilakukan Balai Planologi Kehutanan Wilayah IV Nusa Tenggara tanggal 8 Juni 1982 Kawasan yang riil ditata batas adalah seluas 696,60 hektar.

 

Letak dan Luas

Secara administratif kawasan hutan Taman Wisata Alam Camplong terletak pada empat wilayah desa yaitu:   Desa Camplong I, Desa Camplong II, Desa Naunu dan Desa Oebola. Keempat Desa tersebut di atas berada dalam wilayah Kecamatan Fatuleu Kabupaten Kupang.   Berdasarkan letak astronomis kawasan hutan Taman Wisata Alam Camplong terletak antara 1230 39’ - 1240 23’ Bujur Timur dan   90 57’ - 100 30’   Lintang Selatan.

Batas-batas kawasan sebagai berikut:  sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Camplong I sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Naunu, sebelah Barat berbatasan dengan Desa Camplong II dan Desa Oebola yang terdapat di tengah kawasan sebagai desa enclave.

 

Iklim

Iklim merupakan gabungan dari berbagai kondisi cuaca sehari-hari, atau dapat juga dikatakan  bahwa iklim merupakan rata-rata cuaca dalam waktu yang lama.  Unsur iklim yang berpengaruh terhadap karakteristik suatu wilayah adalah curah hujan, temperatur udara, kelembaban udara, kecepatan angin, penyinaran matahari dan evaporasi. Kawasan TWA Camplong termasuk pada tipe iklim E dan D menurut Schmitdt dan Ferguson dengan musim penghujan yang relatif pendek, yakni terjadi pada bulan Nopember sampai dengan Maret dan musim kemarau antara bulan April s/d bulan Oktober pada setiap tahunnya.

 

Jenis Tanah, Batuan dan Topografi

Kawasan Taman Wisata Alam Camplong berada pada sekitar 245 - 480 mdpl dengan topografi landai, bergelombang, berbukit atau bergunung dan kondisi tanah berkapur atau karst. Lapisan tanahnya yang tidak dalam, pH tanah berkisar 5,8 – 6,5. Berdasarkan peta Geologi Indonesia skala 1:2.000.000,  Kecamatan Fatuleu termasuk pada  formasi geologi dari jenis batuan : Deret Sonebait dan Ofu, neogen, aluvial  dan paleogen.   Sedangkan berdasarkan peta tanah bagan Indonesia skala 1: 1.250.000 (Lembaga Penelitian Tanah Bogor, 1968), jenis-jenis tanah yang berada di wilayah Kecamatan Fatuleu termasuk jenis Aluvial dengan bentuk dataran mediteran dan tanah-tanah komplek dengan bentuk pengunungan komplek. Jenis tanah tersebut dicirikan dengan kelabilan, mudah tererosi, drainase kurang baik serta mudah merekah pada musim panas.

 

Hidrologi

Secara hidrologi kawasan hutan Taman Wisata Alam Camplong merupakan kawasan resapan air dan pemasok air bagi wilayah sekitarnya. Terdapat beberapa sumber mata air yang berasal dari dalam kawasan maupun di luar kawasan yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, terutama untuk kebutuhan air bersih untuk konsumsi rumah tangga, kebutuhan minuman ternak maupun untuk kebutuhan pengairan lahan, kegiatan agroforestry tradisional (mamar).  

Potensi Flora

Komposisi ekosistem tumbuhan dapat diartikan variasi jenis flora yang menyusun suatu komunitas. Komposisi jenis tumbuhan merupakan daftar floristik dari jenis tumbuhan yang ada dalam suatu komunitas, komposisi jenis vegetasi penyusun komunitas hutan. Taman Wisata Alam Camplong memiliki vegetasi yang merupakan perwakilan tipe ekosistem hutan dataran sedang, terletak pada ketinggian sekitar 245 – 480 mdpl. Secara alamiah tipe ekosistem di sini dapat dikelompokkan  ke dalam 2 tipe ekosistem, yaitu ekosistem hutan musim, ditandai dengan vegetasi yang kurang tinggi (antara 15-20 m), banyak percabangan dan pada musim kering menggugurkan daunnya, serta ekosistem hutan savanna. Beberapa jenis tumbuhan sangat penting untuk keseimbangan ekosistem, seperti keberadaan Ficus spp. dan beberapa jenis pohon berbunga  lainnya seperti Alstonia scholaris, Cassia javanica. Keberadaan  Ficus tertentu (“nisum” Ficus sp) sangat penting selain berfungsi sebagai sumber  pangan bagi beberapa jenis satwa dan konservasi mata air di Taman Wisata Alam Camplong  juga  menjadi tempat bersarang lebah madu yang  punya peranan penting dalam produksi madu. Di TWA Camplong terdapat 104 species flora dari 51 family, beberapa jenis yang meudah dijumpai adalah jenis Johar (Cassia siamea), Kenanga (Cananga odorata), Asam (Tamarindus indicus), Bidara (Zizipus timorensis), Jati (Tectona grafis), Kesambi (Shcleichera oleosa), Dysoxylum sp, serta beberapa jenis Ficus sp.

 

Potensi Fauna

Jenis-jenis satwa liar yang umum dijumpai antara lain adalah kera ekor panjang (Macaca fascicularis), biawak timor (Varanus timorensis), ular sanca timor (Phyton timorensis), sri gunting (Dicrurus leucopatus), raja udang (Alcedo othis) dan beberapa jenis aves lainnya.

 

Mata Air dan Kolam Renang

Didalam kawasan terdapat tidak kurang dari sebelas mata air yang airnya sangat jernih. Selain dimanfaatkan oleh penduduk setempat untuk keperluan sehari-hari seperti mandi, mencuci, memasak, dan air minum, salah satu mata air yang debitnya paling besar dan tidak pernah mengalami kekeringan pada musim kemarau (bersifat “permial”), telah dilengkapi dengan sebuah kolam renang bernama “Oenaek” (air besar).

 

Gua Alam dan Penjelajahan Hutan

Disekitar kolam renang Oenaek terdapat gua-gua alam atau gua karang yang terletak di sebuah bukit berkapur. Dengan tipe vegetasi hutan yang masih utuh serta udara yang sejuk, maka kawasan ini cukup memadai bagi para pengunjung yang senang melakukan lintas alam atau penjelajahan hutan, berkemah, dan memotret, menikmati keindahan alam, studi wisata, penelitian, dan mempelajari keanekaragaman hayati flora fauna lainnya.