Call Center.pngStop Illegal.png
100_3258.JPG17 pulau.JPG20160721_161823.jpgDSC00453.JPGDSC00546.jpgDSC_0044.JPGDSC_0404.JPGDSC_0530.JPGDSC_0556.JPGDSC_0648.JPGDSC_0768.JPGDSC_0964.JPGIMG_3146.JPGIMG_5732.JPGIMG_6219.JPGIMG_6411.JPGP1020015.JPG_DSC0323.JPGwae wuul.JPG

Riung, 12 September 2018

Taman Wisata Alam Laut (TWAL) 17  Pulau merupakan salah satu kawasan konservasi yang berada di Pulau Flores, secara administrasi pemerintahan kawasan tersebut berada di wilayah Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dalam pengelolaannya TWA Tujuh Belas Pulau seluas 7.303,16 Ha tersebut dikelola oleh Balai Besar KSDA NTT, dengan status Penunjukkan Kolektif yang merujuk pada Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : No. SK.3911/Menhut-VII/KUH/2014,  tanggal 14 Mei 2014, tentang Penunjukan Kawasan Hutan dan dan Konservasi Perairan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kawasan konservasi dengan fungsi TWA tersebut yang di dominasi wilayah konservasi perairan  memiliki keanekaragaman hayati yang sangat melimpah berupa ekosistem laut, ekosistem mangrove,  dan merupakan salah satu habitat biawak komodo (Varanus komodoensis).

Dalam rangka optimalisasi potensi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya untuk dapat dikembangkan dan dimanfaatkan secara lestari agar mampu meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat disekitarnya, maka TWA Tujuh Belas Pulau telah dibagi menjadi 5 (lima) blok pengelolaan yaitu : Blok Perlindungan seluas 352,14 ha (4,82%), Blok Perlindungan Bahari seluas 164,07 ha (2,25%), Blok Pemanfaatan seluas 1.191,74 ha (16,32%), Blok Khusus seluas  39,86 ha (0,55%), dan Blok Tradisional seluas 5.555,35 ha (76,07%). 

Seiring dengan tingkat perkembangan zaman dan perkembangan jumlah penduduk, diikuti dengan berbagai kepentingan dan kebutuhan ekonomi yang dapat menunjang kehidupan dan memutar roda perekonomian masyarakat lokal, maka pengelolaan potensi kawasan secara lestari harus mengutamakan sisi pemanfaatan masyarakat pada blok tradisional. Untuk melakukan pengelolaan yang baik memerlukan data dan informasi yang akurat terkait pemanfaatan potensi alam oleh masyarakat lokal khususnya pada kawasan TWAL 17 Pulau.

Data kualitatif dan kuantitatif menyangkut potensi ekologi yang berkorelasi dengan kepentingan masyarakat lokal mutlak diperlukan, sebagai tujuan pengelolaan dan indikator kelestarian.  Untuk memperoleh data tersebut maka diperlukan kegiatan inventarisasi pemanfaatan oleh masyarakat pada blok tradisional TWAL 17 Pulau sebagai upaya untuk mengetahui berbagai aktivitas masyarakat yang berhubungan dengan pemanfaatan potensi alam pada kawasan konservasi tersebut, dan sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil kebijakan dalam kerangkan pengelolaan kawasan hutan berbasis masyarakat.

Dari hasil analisis terhadap data/ informasi yang diperoleh, diketahui hal-hal sebagai berikut :

1.           Responden

Masyarakat yang berhasil dijumpai pada saat pelaksanaan kegiatan yang sedang beraktifitas di kawasan TWAL 17 Pulau khususnya pada Blok Tradisional sebanyak 20 orang, yang terdiri dari nelayan tangkap ikan sebanyak 9 orang dan nelayan budidaya rumput laut sebanyak 11 orang. Tingkat pendidikan masyarakat tersebut SD-SLTA dengan usia 30-75 tahun, seluruhnya berjenis kelamin laki-laki, dan berasal dari Kelurahan Nangamese. Berdasarkan wawancara, diketahui bahwa waktu aktivitas masyarakat (nelayan) pada Blok Tradisional adalah setiap hari dengan mempertimbangkan kondisi cuaca dan kalender bulan (terang/gelap).

2.           Sarana

Sarana utama yang digunakan, baik oleh nelayan tangkap ikan maupun nelayan budidaya rumput laut adalah Perahu Motor dengan kapasitas mesin 5,5 PK berbahan bakar solar atau bensin.

3.           Jenis Alat yang digunakan

Selama observasi dan wawancara, alat tangkap yang dijumpai dan digunakan oleh Nelayan tangkap ikan hanya 2 jenis yaitu alat pancing senar dan pukat tarik jenis payang.  Adapun hasil tangkapannya adalah ikan, dengan uraian sebagai berikut :

a.           Rata-rata hasil tangkapan ikan masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan pada Blok Tradisional di kawasan TWAL 17 Pulau sebanyak 2 – 4 Kg/hari dengan jenis ikan beragam;

b.            Hasil tangkapan ikan tersebut dijual kepenampung dengan harga jual Rp. 20.000,-/Kg sehingga setiap harinya para nelayan memperoleh penghasilan kotor (Bruto) sebesar Rp. 40.000,- s/d 80.000,-. Penghasilan bersih para nelayan tangkap ikan ± Rp.1.200.000/bulan. Dari observasi diketahui bahwa pendapatan rata-rata masyarakat di Kabupaten Ngada adalah sebesar Rp. 700.000,-/bulan, maka apabila dibandingkan dengan hasil wawancara, pendapatan rata-rata masyarakat nelayan tangkap ikan sebesar Rp. 1.200.000,-/bulan dan nelayan budidaya rumput laut sebesar Rp. 900.000,-/bulan, diketahui bahwa pendapatan masyarakat pemanfaat kawasan pada Blok Tradisional TWAL 17 Pulau masih di atas rata-rata pendapatan masyarakat Kabupaten Ngada.

4.           Informasi tambahan

a.     Penangkapan ikan secara tradisional dan Budidaya Rumput Laut merupakan mata pencaharian utama masyarakat di Kecamatan Riung khususnya di kelurahan Nangamese, sehingga membutuhkan perhatian khusus dari pihak Pemerintah dalam rangka peningkatan mutu hasil tangkapan/budidaya melalui program pemberdayaan masyarakat.

b.     Kegiatan patroli pengamanan kawasan TWAL 17 Pulau perlu  lebih ditingkatkan khususnya pada lokasi Blok Tradisional, dengan melibatkan masyarakat nelayan lokal, guna mengantisipasi penangkapan ikan menggunakan kompresor dan obat bius yang dapat mengakibatkan rusaknya terumbu karang dan menurunnya kualitas air laut yang berdampak pada hasil tangkapan ikan dan kualitas rumput laut.

c.      Pemukiman sementara di pesisir Pulau Ontoloe dimanfaatkan oleh masyarakat yang berdomisili di Kelurahan Nangamese, Desa Sambinasi Barat, dan Desa Tadho, sebanyak 11 KK sebagai tempat tunggu/jaga dalam rangka pembudidayaan rumput laut. 

Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan Inventarisasi Pemanfataan oleh Masyarakat pada Blok Tradisional TWAL 17 Pulau Tahun 2018, maka disarankan beberapa hal sebagai berikut :

1.        Bahwa kegiatan patroli pengamanan kawasan TWA Tujuh Belas Pulau perlu lebih ditingkatkan khususnya pada lokasi Blok Tradisional, dengan melibatkan masyarakat nelayan lokal;

2.        Penangkapan ikan secara tradisional dan Budidaya Rumput Laut merupakan mata pencaharian utama masyarakat di Kecamatan Riung khususnya di Kelurahan Nangamese, sehingga membutuhkan perhatian khusus dari pihak Pemerintah maupun lembaga lainnya dalam rangka peningkatan mutu hasil tangkapan/budidaya melalui program pemberdayaan masyarakat;

3.        Pemukiman sementara di pesisir Pulau Ontoloe pada Blok Pemanfaatan yang dimanfaatkan oleh masyarakat yang berdomisili di Desa Tadho sebanyak 11 KK sebagai tempat tunggu/jaga dalam rangka pembudidayaan rumput laut, dapat ditata menjadi hunian yang berbasis wisata dalam rangka pemberdayaan masyarakat berbasis ekowisata, tentunya disertai dengan kajian yang lebih mendalam;

4.        Dibutuhkan peran para pihak ketiga, baik pemanfaat jasa wisata maupun LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) untuk bersama-sama untuk melakukan pemberdayaan masyarakat berbasis ekowisata khususnya untuk para nelayan budidaya rumput laut di pesisir Pulau Ontoloe; 

5.        Kegiatan serupa hendaknya dapat dilaksanakan pula pada Blok Pemanfaataan di kawasan TWA Tujuh Belas Pulau, mengingat tingginya aktivitas masyarakat berupa kegiatan pemandu wisata, maupun kunjungan wisata.

 

@Juna Mardani_BBKSDA NTT

Berita Terbaru

Evaluasi Kesesuaian Fungsi Kaw...

  Penetapan kawasan Cagar Alam (CA) Mutis Timau p...

Simaksi dan SATS-DN Menuju Onl...

  Balai Besar KSDA Nusa Tenggara Timur diberi ama...

Mbou di Torong Padang

  Torong Padang, suatu tanjung di Utara Pulau Flo...

Ekosistem Blue Carbon di Batas...

    Ekosistem blue carbon adalah ekosistem diman...

Datang dan Bergema

  Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Te...

Samurai versus Buaya Pemakan M...

          Balai Besar KSDA NTT kedatangan seoran...

Bushcraft di Pulau Menipo

  Bushcraft adalah berkegiatan di alam bebas yang...

Sosialisasi Tumbuhan Dan Satwa...

            Pada sore hari di medio bulan Desembe...

Kabupaten Timor Tengah Selatan...

  Selama ini, kita mengenal Cagar Alam (CA) Mut...

Sio Manise Untuk Peningkatan P...

  Hasil diagnostic reading permasalahan pada Ba...

Analisis Pohon konflik TWA Rut...

Perambahan kawasan dan illegal logging TWA Ruteng ...

Perlindungan Habitat Komodo Be...

  Konsep Perlindungan Hutan Berbasis Ekosistem P...

Monitoring TSL (Ular) Usulan K...

Kupang, 7 Desember 2018 Wilayah kerja Balai Bes...

Pengamanan Kolaboratif TWA 17 ...

  Taman Wisata Alam (TWA) Tujuh Belas Pulau merup...

Rekreasi ke Camplong

  Kupang, 05/12/2018-Rekreasi, atau dulu kita bia...

Panduan Interpreter Wisata Ala...

  Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan ya...

Ruteng, The Refreshness of Flo...

Step on Flores land, it’s not only about the Kom...

Alam Spektakuler TWA Menipo

Memandang deburan ombak pantai selatan yang meng...

Ayo Wisata Bahari ke TWAL Telu...

TWAL Teluk Maumere juga dikenal dengan nama Gugu...

Eksotis dan Komplit, Wisata di...

Eksotis, kata yang mewakili Taman Wisata Alam La...

Pameran, Media Sosialisasi dan...

Pameran konservasi dilaksanakan dengan tujuan un...

Pentingnya Pembinaan Kader Kon...

    Telah menjadi kesadaran bersama bahwa kele...

Monitoring TSL (Burung) Usulan...

Kupang, 7 Desember 2018 Wilayah kerja Balai Besar...

Kunjungan TK Bintang Al Quran ...

“Awas tangannya.....” “Awas jarinya....” Kupang,...

Pilot Drone BBKSDA NTT

Kupang, 26 November 2018 Balai Besar KSDA NTT mer...

Konservasi Penyu TWA Menipo

  Perkembangan Konservasi Penyu di TWA Menipopada...

Konsultasi Publik Tapak TWA Ca...

Camplong, 14 November 2018 Pada hari Kamis, tangg...

FGD Tata Kelola PNBP TWAL G.P....

Maumere, 09 November 2018 Seksi Konservasi Wila...

Rescue Buaya Muara di Soliu

  Kupang, 2 November 2018 Pada tanggal 31 Oktobe...

Pemberdayaan Masyarakat di Des...

Maumere, 19 Oktober 2018. Balai Besar KSDA NTT m...

Pelatihan Penanganan Konflik M...

Kupang, 19 Oktober 2018. Dalam upaya mitigasi pe...

Guru Pemerhati KSDAE

Soe, 27 September 2018 Sebagai Unit Pelaksana Tek...

Konflik Satwa (Buaya) di Welul...

Maubesi, 17 September 2018 Pada tanggal 6 Septe...

Pemberdayaan Masyarakat Desa P...

BBKSDA NTT, 13 September 2018 Dalam pengelolaan T...

Upaya Pembangunan Karakter Gen...

BBKSDA NTT, 13 September 2018   Balai Besar KS...

Role Model Tanaman Obat Berbas...

BBKSDA NTT, 13 September 2018 Latar Belakang Tam...

Inventarisasi Masyarakat Tradi...

Riung, 12 September 2018 Taman Wisata Alam Laut (...

Penanganan Bangkai Paus Sperm...

Alor, 10 September 2018 Pada hari Senin,  tangg...

Nuri Diserahkan Sukarela di SK...

Maumere, 31 Agustus 2018 Balai Besar Konservasi...

Daging Penyu dan Lumba Lumba d...

Maumere, 31 Agustus 2018   Sebagai tindak lanj...

Penyerahan Satwa Secara Sukare...

Maumere, 28 Juni 2018 Balai Besar KSDA (BBKSDA) N...

Monitoring Penangkaran Ex-Situ...

Monitoring Penangkaran Ex-Situ Rusa Timor di Kota ...

Penyelamatan Komodo di Desa Ba...

Bari, 22 Juli 2018 Sehubungan dengan adanya inf...

Pengiriman Kulit Buaya dari Al...

Kupang, 2 Maret 2018. Sebanyak enam lembar kulit ...

TWA Camplong, Bukan TPA Camplo...

Camplong, 21 Februari 2018 “Ayo bergerak bersama”...

Partisipasi BBKSDA NTT di HMPI...

Kupang, 16 Desember 2017. Balai Besar KSDA Nusa T...

Kerjasama Pelestarian Kura-Kur...

Kupang, 28 September 2017 Dalam rangka Optimalisa...

Sosialisasi Perlindungan Rugu/...

Borong, 27  September 2017 Bertempat di Aula Dina...

Burung Beo dan Gigi Duyung Dia...

Kupang, 18 September 2017 Pada hari Senin tanggal...

Pembahasan Draft Role Model BB...

Kupang, 6 september 2017   BBKSDA NTT melaksanak...

Kerjasama Antara BBKSDA NTT da...

Kupang, 28 Agustus 2017. Bertempat di Kantor Bala...

Gubernur NTT di Stand Kehutana...

Kupang, 13 Agustus 2017 Gubernur NTT, Drs. Frans ...

Jelajah Sepeda Tahun 2017 di T...

Kupang, 13 Agustus 2017 Jelajah Sepeda Kompas 201...

Peringatan Hari Konservasi Ala...

Kupang, 10 Agustus 2017 Melalui Keppres Nomor 22 ...

Buaya Punya Kandang Baru

Kupang, 4 Agustus 2017 Buaya memiliki sifat 'homi...

Darurat Peredaran Tumbuhan dan...

Kupang, Februari 2017. Hanya dalam kurun waktu 2 ...

1 Ekor Buaya Betina Diamankan

Kupang, 9 Mei 2017. Menindaklanjuti laporan dari ...

Konservasi Penyu di TWA Menipo

Kupang, 19 Maret 2017. 150 ekor tukik hasil penet...