Call Center.pngStop Illegal.png
100_3258.JPG17 pulau.JPG20160721_161823.jpgDSC00453.JPGDSC00546.jpgDSC_0044.JPGDSC_0404.JPGDSC_0530.JPGDSC_0556.JPGDSC_0648.JPGDSC_0768.JPGDSC_0964.JPGIMG_3146.JPGIMG_5732.JPGIMG_6219.JPGIMG_6411.JPGP1020015.JPG_DSC0323.JPGwae wuul.JPG

BBKSDA NTT, 13 September 2018

Latar Belakang

Taman Wisata Alam (TWA) Ruteng terletak di bagian barat Pulau Flores yang secara administrasi termasuk wilayah Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur. Masyarakat sekitar TWA Ruteng yang disebut Orang Manggarai memiliki pengetahuan yang baik dalam hal penamaan kelompok tumbuhan. Masyarakat membedakan jenis tumbuhan menjadi beberapa kelompok, yaitu: pohon berkayu (haju), herba (saung) dan liana (wase), rumput (remang), tumbuhan berduri (karot), pohon bebuahan (wua haju), dan sayuran (ute).

Pemanfaatan jumlah spesies tumbuhan hutan oleh masyarakat Suku Manggarai di Pegunungan Ruteng adalah sebanyak 161 spesies  yang terbagi ke dalam 12 macam pemanfaatan salah satunya adalah pemanfaatan tumbuhan obat. Jumlah spesies tersebut lebih dari 60% di dalam Hutan Ruteng, yaitu sebanyak 276 spesies (Wiriadinata 1998), sebanyak 252 spesies (Verheijen 1977). Penelitian Iswandono (2016) mencatat sebanyak 73 spesies tumbuhan obat di dalam kawasan TWA Ruteng.

Peranan 3 pilar dalam pengembangan tanaman obat adalah bahwa pilar agama dalam hal ini kelompok biarawan pengembang tanaman obat tradisional secara komersial bersama dengan Pihak BBKSDA NTT akan membantu masyarakat adat dalam mengembangkan pemanfaatan tanaman obat secara komersial.  Pilar pemerintah dalam hal ini Balai Besar KSDA NTT akan membuat demonstrasi plot (demplot) tanaman obat tradisional Manggarai yang menjadi contoh berbagai spesies tanaman obat budidaya. Masyarakat menanam tanaman obat tradisional di lahan milik pekarangan untuk kepentingan pengembangan komersial.  Rencana tersebut kemudian menjadi salah satu Role Model pada Balai Besar KSDA NTT dengan model  Pengembangan Tanaman Obat di TWA Ruteng berbasis tiga pilar (Agama, Adat dan Pemerintah).

Tujuan Role Model ini adalah meningkatkan peran serta tokoh agama dan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan tumbuhan obat baik komersial maupunnon komersial yang berdampak pada dukungan masyarakat sekitar TWA Ruteng dalam menjaga kelestarian kawasan TWA Ruteng sebagai sumber plasma nutfah tumbuhan obat.

Tahapan yang dilalui dalam rangka persiapan Role Model ini sebagai berikut :

1.           Penyusunan Draft dan Pengesahan Dokumen Role Model

Penyusunan draft Role Model secara bersama-sama melibatkan seluruh pejabat struktural dan pejabat fungsional lingkup Balai Besar KSDA NTT.  Dokumen ini berisi rencana tindakan, tugas dan tanggung jawab serta langkah-langkah yang dirancang untuk melakukan pengembangan tanaman obat di Manggarai dan Manggarai Timur  yang  telah dituangkan dalam satu dokumen secara lengkap. Pembentukan tim penyusun Role Model.

2.           Koordinasi dengan stakeholder terkait.

Stakeholders yang terlibat dalam kegiatan rencana aksi meliputi unsur pemerintah, agama dan adat.  BBKSDA NTT sudah melakukan koordinasi dengan stkeholder terkait di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur. Pada Tahun 2013 telah terbentuk Sekretariat Bersama Forum Kolaborasi Pengelolaan Kawasan Hutan TWA Ruteng Berbasis Tiga Pilar tingkat Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur yang dapat menjadi dasar untuk mengidentifikasi stakeholder yang terlibat.

Hasil dari pelaksanaan kegiatan role model pengembangan tanaman obat berbasis 3 Pilar di TWA Ruteng dijabarkan sebagai berikut :

1.           Pembentukan kelompok masyarakat pengembang tanaman obat

Pembentukan kelompok masyarakat pengembang tumbuhan obat berdasarkan minat dari masyarakat adat. Informasi mengenai kelompok masyarakat yang akan dibentuk diperoleh antara lain dari para biarawan pengembang tumbuhan obat komersial.Lahan yang disediakan untuk ditanami seluas ± 1 hektar untuk ditanami berbagai tumbuhan obat sebagai bahan baku pembuatan obat tradisional.  Bibit yang akan ditanam berasal dari TWA Ruteng dan bibit tanaman dari luar kawasan hutan. Dalam pelaksanaan kegiatannya akan mendapatkan bimbingan secara khusus dari kesusteran Puteri Reinha Rosari (PRR).

2.           Demplot tanaman obat / budidaya di lahan masyarakat

Masyarakat melakukan budidaya tumbuhan obat pada lahan milik ulayat. Kawasan TWA Ruteng menjadi sumber benih ketersediaan tanaman obat selain dari benih yang diusahakan dari luar kawasan hutan.  BBKSDA NTT bersama-sama dengan biarawan akan memberikan bimbingan dan pelatihan kepada masyarakat agar memiliki kemampuan dalam mengembangkan tanaman obat tradisional secara komersial.

3.           Pemberdayaan masyarakat

Bantuan pemberdayaan ditujukan kepada kelompok masyarakat adat dan kelompok biarawan pengembang tanaman obat dalam bentuk insentif kegiatan pengembangan tanaman obat selama tahun anggaran 2018.  Bantuan tersebut meliputi kegiatan pengelolaan demplot dan penanaman tanaman obat pada lahan milik.

Kelompok masyarakat pengembang tumbuhan obat saat ini, yaitu kelompok Mangkeng Herbal akan mendapatkan bantuan peralatan untuk melakukan pengolahan hasil tanaman obat tradisional, berupa alat pengupas biji, penggiling bahan, dan pengemasan.

Kegiatan pelatihan dilakukan oleh petugas Balai Besar KSDA NTT yang memiliki pengetahuan mengenai pemanfaatan tumbuhan obat dan dari kesusteran Puteri Reinha Rosari (PRR). Beberapa produk yang diajarkan kepada kelompok tani Mangkeng Herbal adalah:

a.           Minyak obat yang dengan bahan utama berupa sirih hutan (Piper bettle) yang umum ditemukan pada berbagai ketinggian di wilayah TWA Ruteng sebagai tumbuhan yang merambat.  Masyarakat lokal menyebutnya dengan kalakode. Minyak obat ini  untuk mengobati berbagai penyakit kulit, alergi, penawar racun dan penyakit dalam.

b.           Minyak obat dari kesusteran dari beberapa tumbuhan liar hutan dan minyak zaitun untuk mengobati penyakit kulit dan asma.

c.           Teh herbal dari bahan tumbuhan perdu Drymis piperita yang berasal dari tumbuhan dari dalam kawasan TWA Ruteng untuk obat kuat laki-laki (Afrodisiak) dan penyakit paru-paru serta penyakit dalam lainnya. 

d.           Pembuatan jamu segar dari berbagai bahan empon-empon dan jamu beras kencur dari bahan kencur dan tepung beras. 

4.           Sosialisasi dan kesepakatan 3 Pilar

Tempat sosialisasi dan kesepakatan tiga pilar berada di mbaru gendang (rumah adat Orang Manggarai), dengan tujuan agar mendekatkan 3 pilar dalam suasana budaya Manggarai. Kegiatan dilakukan secara bermusyawarah dengan duduk bersila bersama-sama membentuk sebuah lingkaran dalam rumah adat yang disebut lonto leok.  Dalam lonto leok semua orang memiliki kedudukan yang sama dan memiliki hak yang sama dalam berpendapat. Pengambilan keputusan dengan cara mufakat dan bukan suara terbanyak.

5.           Publikasi pelaksanaan kegiatan

Publikasi progres keberhasilan pelaksanaan kegiatan pengembangan usaha tanaman obat oleh masyarakat adat telah dilakukan melalui Website bbksda ntt, yaitu http://bbksdantt.menlhk.go.id/ kemudian Facebook BBKSDA NTT dan Instagram. Publikasi kegiatan meliputi tahap persiapan, pelaksanaan kegiatan dan paska kegiatan Tahun 2018.

6.           Monitoring, evaluasi, pelaporan

Monitoring dan evaluasi dilakukan setiap awal bulan oleh pengelola kegiatan di Bidang KSDA Wilayah II dan Balai Besar KSDA NTT, selanjutnya dilaporkan Kepala Balai Besar KSDA NTT terkait progres pelaksanaan kegiatan pengembangan tanaman obat.

7.           Keberlanjutan

Hasil dari monitoring dan evaulasi yang dilakukan pada akhir kegiatan akan menunjukkan tingkat keberhasilan pelaksanaan kegiatan pengembangan tanaman obat. Kelemahan–kelemahan yang ditemukan dalam pelaksanaan kegiatan akan diperbaiki dalam Role Model dan diterapkan pada tahun berikutnya dan juga pada kawasan konservasi lainnya lingkup Balai Besar KSDA NTT. 

@Elisa Iswandono - BBKSDA NTT

Berita Terbaru

Evaluasi Kesesuaian Fungsi Kaw...

  Penetapan kawasan Cagar Alam (CA) Mutis Timau p...

Simaksi dan SATS-DN Menuju Onl...

  Balai Besar KSDA Nusa Tenggara Timur diberi ama...

Mbou di Torong Padang

  Torong Padang, suatu tanjung di Utara Pulau Flo...

Ekosistem Blue Carbon di Batas...

    Ekosistem blue carbon adalah ekosistem diman...

Datang dan Bergema

  Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Te...

Samurai versus Buaya Pemakan M...

          Balai Besar KSDA NTT kedatangan seoran...

Bushcraft di Pulau Menipo

  Bushcraft adalah berkegiatan di alam bebas yang...

Sosialisasi Tumbuhan Dan Satwa...

            Pada sore hari di medio bulan Desembe...

Kabupaten Timor Tengah Selatan...

  Selama ini, kita mengenal Cagar Alam (CA) Mut...

Sio Manise Untuk Peningkatan P...

  Hasil diagnostic reading permasalahan pada Ba...

Analisis Pohon konflik TWA Rut...

Perambahan kawasan dan illegal logging TWA Ruteng ...

Perlindungan Habitat Komodo Be...

  Konsep Perlindungan Hutan Berbasis Ekosistem P...

Monitoring TSL (Ular) Usulan K...

Kupang, 7 Desember 2018 Wilayah kerja Balai Bes...

Pengamanan Kolaboratif TWA 17 ...

  Taman Wisata Alam (TWA) Tujuh Belas Pulau merup...

Rekreasi ke Camplong

  Kupang, 05/12/2018-Rekreasi, atau dulu kita bia...

Panduan Interpreter Wisata Ala...

  Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan ya...

Ruteng, The Refreshness of Flo...

Step on Flores land, it’s not only about the Kom...

Alam Spektakuler TWA Menipo

Memandang deburan ombak pantai selatan yang meng...

Ayo Wisata Bahari ke TWAL Telu...

TWAL Teluk Maumere juga dikenal dengan nama Gugu...

Eksotis dan Komplit, Wisata di...

Eksotis, kata yang mewakili Taman Wisata Alam La...

Pameran, Media Sosialisasi dan...

Pameran konservasi dilaksanakan dengan tujuan un...

Pentingnya Pembinaan Kader Kon...

    Telah menjadi kesadaran bersama bahwa kele...

Monitoring TSL (Burung) Usulan...

Kupang, 7 Desember 2018 Wilayah kerja Balai Besar...

Kunjungan TK Bintang Al Quran ...

“Awas tangannya.....” “Awas jarinya....” Kupang,...

Pilot Drone BBKSDA NTT

Kupang, 26 November 2018 Balai Besar KSDA NTT mer...

Konservasi Penyu TWA Menipo

  Perkembangan Konservasi Penyu di TWA Menipopada...

Konsultasi Publik Tapak TWA Ca...

Camplong, 14 November 2018 Pada hari Kamis, tangg...

FGD Tata Kelola PNBP TWAL G.P....

Maumere, 09 November 2018 Seksi Konservasi Wila...

Rescue Buaya Muara di Soliu

  Kupang, 2 November 2018 Pada tanggal 31 Oktobe...

Pemberdayaan Masyarakat di Des...

Maumere, 19 Oktober 2018. Balai Besar KSDA NTT m...

Pelatihan Penanganan Konflik M...

Kupang, 19 Oktober 2018. Dalam upaya mitigasi pe...

Guru Pemerhati KSDAE

Soe, 27 September 2018 Sebagai Unit Pelaksana Tek...

Konflik Satwa (Buaya) di Welul...

Maubesi, 17 September 2018 Pada tanggal 6 Septe...

Pemberdayaan Masyarakat Desa P...

BBKSDA NTT, 13 September 2018 Dalam pengelolaan T...

Upaya Pembangunan Karakter Gen...

BBKSDA NTT, 13 September 2018   Balai Besar KS...

Role Model Tanaman Obat Berbas...

BBKSDA NTT, 13 September 2018 Latar Belakang Tam...

Inventarisasi Masyarakat Tradi...

Riung, 12 September 2018 Taman Wisata Alam Laut (...

Penanganan Bangkai Paus Sperm...

Alor, 10 September 2018 Pada hari Senin,  tangg...

Nuri Diserahkan Sukarela di SK...

Maumere, 31 Agustus 2018 Balai Besar Konservasi...

Daging Penyu dan Lumba Lumba d...

Maumere, 31 Agustus 2018   Sebagai tindak lanj...

Penyerahan Satwa Secara Sukare...

Maumere, 28 Juni 2018 Balai Besar KSDA (BBKSDA) N...

Monitoring Penangkaran Ex-Situ...

Monitoring Penangkaran Ex-Situ Rusa Timor di Kota ...

Penyelamatan Komodo di Desa Ba...

Bari, 22 Juli 2018 Sehubungan dengan adanya inf...

Pengiriman Kulit Buaya dari Al...

Kupang, 2 Maret 2018. Sebanyak enam lembar kulit ...

TWA Camplong, Bukan TPA Camplo...

Camplong, 21 Februari 2018 “Ayo bergerak bersama”...

Partisipasi BBKSDA NTT di HMPI...

Kupang, 16 Desember 2017. Balai Besar KSDA Nusa T...

Kerjasama Pelestarian Kura-Kur...

Kupang, 28 September 2017 Dalam rangka Optimalisa...

Sosialisasi Perlindungan Rugu/...

Borong, 27  September 2017 Bertempat di Aula Dina...

Burung Beo dan Gigi Duyung Dia...

Kupang, 18 September 2017 Pada hari Senin tanggal...

Pembahasan Draft Role Model BB...

Kupang, 6 september 2017   BBKSDA NTT melaksanak...

Kerjasama Antara BBKSDA NTT da...

Kupang, 28 Agustus 2017. Bertempat di Kantor Bala...

Gubernur NTT di Stand Kehutana...

Kupang, 13 Agustus 2017 Gubernur NTT, Drs. Frans ...

Jelajah Sepeda Tahun 2017 di T...

Kupang, 13 Agustus 2017 Jelajah Sepeda Kompas 201...

Peringatan Hari Konservasi Ala...

Kupang, 10 Agustus 2017 Melalui Keppres Nomor 22 ...

Buaya Punya Kandang Baru

Kupang, 4 Agustus 2017 Buaya memiliki sifat 'homi...

Darurat Peredaran Tumbuhan dan...

Kupang, Februari 2017. Hanya dalam kurun waktu 2 ...

1 Ekor Buaya Betina Diamankan

Kupang, 9 Mei 2017. Menindaklanjuti laporan dari ...

Konservasi Penyu di TWA Menipo

Kupang, 19 Maret 2017. 150 ekor tukik hasil penet...