best joomla menu module
Call Center.pngStop Illegal.png
100_3258.JPG17 pulau.JPG20160721_161823.jpgDSC00453.JPGDSC00546.jpgDSC_0044.JPGDSC_0404.JPGDSC_0530.JPGDSC_0556.JPGDSC_0648.JPGDSC_0768.JPGDSC_0964.JPGIMG_3146.JPGIMG_5732.JPGIMG_6219.JPGIMG_6411.JPGP1020015.JPG_DSC0323.JPGwae wuul.JPG

Sumba, 03 Februari 2020

Unit Penanganan Satwa (UPS) BBKSDA NTT melebarkan sayapnya dengan menyambangi Pulau Sumba, tepatnya di Desa Palanggai, Kecamatan Pahunga Lodu, Kabupaten Sumba Timur untuk melaksanakan operasi penanganan konflik buaya dengan manusia. Dengan anggota yang terdiri dari Theodorus Nim Tefa, Oktovianus A. Sene, Heru Wijanarko, dan Inosensius Tampani, tim ini bekerja sama dengan Balai Taman Nasional (BTN) Matalawa selama 4 hari dari tanggal 27 sampai dengan 30 Januari 2020.

Terjunnya UPS BBKSDA NTT di Pulau Sumba ini berawal dari informasi masyarakat Desa Palanggai kepada BTN Matalawa yang diteruskan ke BBKSDA NTT. Masyarakat menyampaikan keresahan akan hadirnya buaya muara (Crocodylus porosus) di pesisir Pantai Warambe’di yang memasuki pemukiman dan memangsa hewan ternak.  BTN Matalawa kemudian berkoordinasi dengan BBKSDA NTT yang telah memiliki UPS dengan personil terlatih dan berpengalaman serta peralatan/perlengkapan memadai.

Koordinasi lintas sektoral antara UPS BBKSDA NTT, BTN Matalawa, dan unsur SKPD setempat (Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sumba Timur) dalam upaya untuk penanganan konflik satwa liar (buaya muara) dengan manusia di Kabupaten Sumba Tikur menghasilkan rumusan sebagai berikut :

1. Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sumba Timur menyampaikan bahwa buaya yang dievakuasi dari lokasi konflik selama kegiatan operasi ini akan direlokasi ke Hutan Lindung Wanga dengan pertimbangan tidak dijumpai aktivitas masyarakat di dalamnya;

2. Selain relokasi ke Hutan Lindung Wanga akan dilakukan langkah alternatif lain berupa penyiapan kandang transit. Terkait dengan hal tersebut Pemerintah Daerah Sumba Timur, BBKSDA NTT, BTN Matalawa dan parapihak terkait lainnya perlu duduk bersama mencari solusi tentang penampungan buaya yang dievakuasi dari lokasi konflik;

3. BBKSDA NTT diminta untuk memberikan pelatihan teknis kepada masyarakat yang tinggal di wilayah rawan konflik buaya dengan manusia;

4. BBKSDA NTT dimohon untuk dapat membagikan petunjuk/ pedoman pembuatan perangkap apung (floating trap) agar dapat dibuat oleh Pemerintah Daerah Sumba Timur;

5. Sebagai upaya preventif perlu dibuat papan himbauan di lokasi rawan konflik, pendekatan kepada pemerintah desa dan tokoh mayarakat setempat, serta melaksanakan sosialisasi secara berkala.

 

Dalam peninjauan ke lokasi konflik di Pantai Warambe’di, dijumpai aktivitas manusia telah mengintervensi ekosistem pesisir. Ekosistem mangrove rusak berat akibat pembabatan pohon untuk menunjang budidaya rumput laut. Pendirian/ pemapanan kandang ternak milik masyarakat pun berdekatan dengan bibir pantai. Ketidakseimbangan ekosistem telah mengusik rantai makanan dimana buaya muara berada pada posisi top predator, dan tersedianya hewan ternak di area habitatnya telah menjadi substitusi primer pakan buaya muara. Tidak menutup kemungkinan terjadinya korban jiwa manusia jika memperhatikan tingginya pemanfaatan area tersebut oleh masyarakat sekitar.

Pemantauan buaya muara di Pantai Warambe’di selama 3 hari berturut-turut oleh UPS BBKSDA NTT bersama dengan BTN Matalawa dan Babinsa Koramil 1601-03 berhasil menjumpai seekor buaya muara dari 6 ekor yang dilaporkan oleh masyarakat. Beberapa kali umpan yang dipasang menarik perhatian buaya muara dan sempat tergigit, namun terlepas. Hingga tanggal 30 Januari 2020, tidak ada satupun umpan pada jerat (snarebite) yang dimakan buaya di 4 titik pemantauan sehingga seluruh peralatan tersebut dibongkar dan dibersihkan.

Tim UPS BBKSDA NTT bersama dengan BTN Matalawa dan Babinsa Koramil ditemani masyarakat 

 

Untuk menutup operasi penanganan konflik, UPS BBKSDA NTT melakukan pendekatan kepada masyarakat nelayan untuk memberikan pemahaman dan pengetahuan praktis tentang upaya penanganan/ penangkapan buaya yang menyerang manusia. Pengetahuan teknis penangkapan buaya yang tidak melukai/ menyakiti satwa dan keselamatan manusianya terjamin dengan menggunakan peralatan sederhana begitu menarik animo masyarakat.

 Tim UPS BBKSDA NTT mempersiapkan peralatan

 

Minggu keempat di Bulan Januari 2020 menjadi pekan padat aktivitas bagi UPS BBKSDA NTT. Bagaimana tidak, 3 pulau disambangi dalam rangka respons penanganan konflik buaya muara dengan manusia. Pulau Timor, Pulau Lembata, dan Pulau Sumba menjadi bukti diakuinya kualitas dan kapasitas BBKSDA NTT. Hal ini tidak lantas menjadikan UPS BBKSDA NTT jumawa, mengingat masih perlunya peningkatan kapasitas SDM dan peralatan/perlenglapan operasional, serta yang terpenting adalah partisipasi parapihak untuk memastikan bahwa buaya muara maupun satwa liar lain dan manusia dapat hidup harmonis.

 

---HUMAS BBKSDA NTT---

Penanggung jawab berita : Kepala Sub Bagian Data, Evaluasi, Pelaporan, dan Kehumasan

Sumber berita : Unit Penanganan Satwa BBKSDA NTT

Pengolah berita : Dewi Indriasari

Berita Terbaru

UNIT PENANGANAN SATWA BBKSDA N...

Sumba, 03 Februari 2020 Unit Penanganan Satwa (...

Bbksda Ntt Serahkan Santunan U...

Penyerahan santunan dari BBKSDA NTT ke keluarga ...

TRAGEDI DI LEMBATA KALA “NENEK...

Lembata, 31 Januari 2020 Ah, barangkali judul di ...

Peta Rencana Kerja Resort Tahu...

Kupang, 22 Januari 2020   Peta Rencana Kerja Res...

Festival Menipo 2019

Kepala BBKSDA NTT (kiri) dan Gubernur NTT (tenga...

Serunya Penyuluhan TSL di Maum...

Maumere, 26 November 2019 Pendidikan koservasi ...

Festival Menipo 2019

  Kupang, 15 Oktober 2019       Pada Senin ...

SRAK Biawak Komodo

Kupang, 16 Oktober 2019 Pada tanggal 15 Oktober...

Jemboreng ke TWA Menipo

Kupang, 1 November 2019 Menipo, “pulau” yang se...

Upaya Penyelamatan Paus Pilot

 Identifikasi dan Pengukuran Paus Pilot Maumere...

Kunjungan Kepala BBKSDA NTT di...

  Penyambutan Kepala Balai Besar KSDA NTT Mala...

Patroli Merah Putih di Batas N...

Atambua,  Agustus 2019 Presiden Republik Indone...

Workshop Pelestarian Penyu

  Maumere, 19 Juli 2019. Dalam rangka menjaga...

Komodo Kembali Ke Habitatnya D...

 Persiapan Pelepasliaran Komodo di Pulau Oentolo...

Kunjungan Sekda Provinsi NTT k...

 Sekda Provinsi NTT beserta rombongan dan Petuga...

Melepasliar Sanca Timor di Hut...

Pelepasliaran Sanca Timor di Hutan Egon Ilemedo ...

BBKSDA NTT sajikan KOPIKO di d...

Kepala BBKSDA NTT (Peci Hitam) Didampingi Pejaba...

Penemuan Bangkai Lumba-lumba d...

Maumere, 30 Juni 2019 Pada hari Minggu tanggal ...

Menyelamatkan Komodo Yang Masu...

Kupang, 2 Juli 2019 Balai Besar KSDA NTT melalu...

Evakuasi Dramatis Buaya Muara ...

  Kupang, 1 Juli 2019 Balai Besar KSDA NTT mel...

Repatriasi Kura-kura Leher Ula...

Pict. Kepala BBKSDA NTT dan Direktur WCS-IP Kup...

Gerakan Masyarakat Kota Ruteng...

Pada tanggal 25 Januari 2019 Balai Besar KSDA NT...

Hari Peduli Sampah Nasional (H...

Gubernur NTT dan Kepala BBKSDA NTT Senin, 4 Mar...

Penilaian METT Balai Besar KSD...

Dalam  rangka Pencapaian Target Indikator Kinerj...

Evaluasi Kesesuaian Fungsi Kaw...

  Penetapan kawasan Cagar Alam (CA) Mutis Timau p...

Simaksi dan SATS-DN Menuju Onl...

  Balai Besar KSDA Nusa Tenggara Timur diberi ama...

Mbou (Komodo) di Torong Padang

  Torong Padang, suatu tanjung di Utara Pulau Flo...

Ekosistem Blue Carbon di Batas...

    Ekosistem blue carbon adalah ekosistem diman...

Datang dan Bergema

  Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Te...

Samurai versus Buaya Pemakan M...

          Balai Besar KSDA NTT kedatangan seoran...

Bushcraft di Pulau Menipo

  Bushcraft adalah berkegiatan di alam bebas yang...

Sosialisasi Tumbuhan Dan Satwa...

            Pada sore hari di medio bulan Desembe...

Kabupaten Timor Tengah Selatan...

  Selama ini, kita mengenal Cagar Alam (CA) Mut...

Sio Manise Untuk Peningkatan P...

  Hasil diagnostic reading permasalahan pada Ba...

Analisis Pohon konflik TWA Rut...

Perambahan kawasan dan illegal logging TWA Ruteng ...

Perlindungan Habitat Komodo Be...

  Konsep Perlindungan Hutan Berbasis Ekosistem P...

Monitoring TSL (Ular) Usulan K...

Kupang, 7 Desember 2018 Wilayah kerja Balai Bes...

Pengamanan Kolaboratif TWA 17 ...

  Taman Wisata Alam (TWA) Tujuh Belas Pulau merup...

Rekreasi ke Camplong

  Kupang, 05/12/2018-Rekreasi, atau dulu kita bia...

Panduan Interpreter Wisata Ala...

  Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan ya...

Ruteng, The Refreshness of Flo...

Step on Flores land, it’s not only about the Kom...

Alam Spektakuler TWA Menipo

Memandang deburan ombak pantai selatan yang meng...

Ayo Wisata Bahari ke TWAL Telu...

TWAL Teluk Maumere juga dikenal dengan nama Gugu...

Eksotis dan Komplit, Wisata di...

Eksotis, kata yang mewakili Taman Wisata Alam La...

Pameran, Media Sosialisasi dan...

Pameran konservasi dilaksanakan dengan tujuan un...

Pentingnya Pembinaan Kader Kon...

    Telah menjadi kesadaran bersama bahwa kele...

Monitoring TSL (Burung) Usulan...

Kupang, 7 Desember 2018 Wilayah kerja Balai Besar...

Kunjungan TK Bintang Al Quran ...

“Awas tangannya.....” “Awas jarinya....” Kupang,...

Pilot Drone BBKSDA NTT

Kupang, 26 November 2018 Balai Besar KSDA NTT mer...

Konservasi Penyu TWA Menipo

  Perkembangan Konservasi Penyu di TWA Menipopada...

Konsultasi Publik Tapak TWA Ca...

Camplong, 14 November 2018 Pada hari Kamis, tangg...

FGD Tata Kelola PNBP TWAL G.P....

Maumere, 09 November 2018 Seksi Konservasi Wila...

Rescue Buaya Muara di Soliu

  Kupang, 2 November 2018 Pada tanggal 31 Oktobe...

Pemberdayaan Masyarakat di Des...

Maumere, 19 Oktober 2018. Balai Besar KSDA NTT m...

Pelatihan Penanganan Konflik M...

Kupang, 19 Oktober 2018. Dalam upaya mitigasi pe...

Guru Pemerhati KSDAE

Soe, 27 September 2018 Sebagai Unit Pelaksana Tek...

Konflik Satwa (Buaya) di Welul...

Maubesi, 17 September 2018 Pada tanggal 6 Septe...

Pemberdayaan Masyarakat Desa P...

BBKSDA NTT, 13 September 2018 Dalam pengelolaan T...

Upaya Pembangunan Karakter Gen...

BBKSDA NTT, 13 September 2018   Balai Besar KS...

Role Model Tanaman Obat Berbas...

BBKSDA NTT, 13 September 2018 Latar Belakang Tam...

Inventarisasi Masyarakat Tradi...

Riung, 12 September 2018 Taman Wisata Alam Laut (...

Penanganan Bangkai Paus Sperm...

Alor, 10 September 2018 Pada hari Senin,  tangg...

Nuri Diserahkan Sukarela di SK...

Maumere, 31 Agustus 2018 Balai Besar Konservasi...

Daging Penyu dan Lumba Lumba d...

Maumere, 31 Agustus 2018   Sebagai tindak lanj...

Penyerahan Satwa Secara Sukare...

Maumere, 28 Juni 2018 Balai Besar KSDA (BBKSDA) N...

Monitoring Penangkaran Ex-Situ...

Monitoring Penangkaran Ex-Situ Rusa Timor di Kota ...

Penyelamatan Komodo di Desa Ba...

Bari, 22 Juli 2018 Sehubungan dengan adanya inf...

Pengiriman Kulit Buaya dari Al...

Kupang, 2 Maret 2018. Sebanyak enam lembar kulit ...

TWA Camplong, Bukan TPA Camplo...

Camplong, 21 Februari 2018 “Ayo bergerak bersama”...

Partisipasi BBKSDA NTT di HMPI...

Kupang, 16 Desember 2017. Balai Besar KSDA Nusa T...

Kerjasama Pelestarian Kura-Kur...

Kupang, 28 September 2017 Dalam rangka Optimalisa...

Sosialisasi Perlindungan Rugu/...

Borong, 27  September 2017 Bertempat di Aula Dina...

Burung Beo dan Gigi Duyung Dia...

Kupang, 18 September 2017 Pada hari Senin tanggal...

Pembahasan Draft Role Model BB...

Kupang, 6 september 2017   BBKSDA NTT melaksanak...

Kerjasama Antara BBKSDA NTT da...

Kupang, 28 Agustus 2017. Bertempat di Kantor Bala...

Gubernur NTT di Stand Kehutana...

Kupang, 13 Agustus 2017 Gubernur NTT, Drs. Frans ...

Jelajah Sepeda Tahun 2017 di T...

Kupang, 13 Agustus 2017 Jelajah Sepeda Kompas 201...

Peringatan Hari Konservasi Ala...

Kupang, 10 Agustus 2017 Melalui Keppres Nomor 22 ...

Buaya Punya Kandang Baru

Kupang, 4 Agustus 2017 Buaya memiliki sifat 'homi...

Darurat Peredaran Tumbuhan dan...

Kupang, Februari 2017. Hanya dalam kurun waktu ...

1 Ekor Buaya Betina Diamankan

Kupang, 9 Mei 2017. Menindaklanjuti laporan dar...

Konservasi Penyu di TWA Menipo

Kupang, 19 Maret 2017. 150 ekor tukik hasil pen...