Call Center.pngStop Illegal.png
100_3258.JPG17 pulau.JPG20160721_161823.jpgDSC00453.JPGDSC00546.jpgDSC_0044.JPGDSC_0404.JPGDSC_0530.JPGDSC_0556.JPGDSC_0648.JPGDSC_0768.JPGDSC_0964.JPGIMG_3146.JPGIMG_5732.JPGIMG_6219.JPGIMG_6411.JPGP1020015.JPG_DSC0323.JPGwae wuul.JPG

Camplong, 14 November 2018

Pada hari Kamis, tanggal 14 November 2018, bertempat di Aula Wisma Oemathonis Kabupaten Kupang, Balai Besar KSDA NTT melaksanakan kegiatan konsultasi publik draft desain tapak pengelolaan pariwisata alam pada blok pemanfaatan Taman Wisata Alam (TWA) Camplong. Acara tersebut dihadiri oleh: Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kabupaten Kupang; Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Kupang; Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Kupang; Bagian Administrasi Sumber Daya Alam Setda Kabupaten Kupang; Kecamatan Fatuleu; Kelurahan Camplong I; Desa Camplong II; Desa Oebola Dalam; tokoh masyarakat Kelurahan Camplong I; tokoh masyarakat Desa Camplong II; dan tokoh masyarakat Desa Oebola Dalam.

Desain tapak adalah pembagian ruang pengelolaan pariwisata alam di zona/blok pemanfaatan dan zona/blok perlindungan/rimba/bahari yang diperuntukkan bagi ruang publik dan ruang usaha penyediaan jasa/sarana pariwisata alam (Peraturan Direktur Jenderal PHKA Nomor: P. 3/IV-SET/2011 jo Peraturan Direktur Jenderal PHKA Nomor: P. 5/IV-SET/2015).

Penyusunan dokumen desain tapak bertujuan agar pelaksanaan dan pengembangan pengelolaan pariwisata alam dapat dilakukan secara serasi dan harmonis dengan lingkungan alam sekitarnya sesuai kaidah, prinsip, dan fungsi konservasi sesuai potensi sumber daya alam, kondisi sosial dan ekonomi masyarakat, budaya dan aktivitas masyarakat sekitar TWA Camplong. Desain tapak TWA Camplong hanya dilakukan pada blok Pemanfaatan seluas 22,72 Hektar atau sekitar 3,3% dari luas seluruh kawasan 696,6 Hektar yang dibagi dalam Ruang Usaha dan Ruang Publik.

Ruang Usaha adalah bagian dari zona/blok pemanfaatan taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam karena letak, kondisi dan potensinya dimanfaatkan untuk kepentingan pengusahaan pariwisata alam bagi usaha penyediaan sarana wisata alam. Adapun jenis-jenis kegiatan usaha penyediaan sarana wisata alam meliputi wisata tirta, transportasi, akomodasi, wisata petualangan dan olah raga minat khusus.

Ruang Publik adalah bagian dari blok/zona perlindungan/ rimba/bahari/pemanfaatan di suaka margasatwa, taman nasional, taman hutan raya dan taman wisata alam karena letak, kondisi dan potensinya dimanfaatkan untuk kepentingan pengunjung, pengelolaan dan pengusahaan pariwisata alam bagi usaha penyediaan jasa wisata alam serta sarana pendukung wisata alam. Adapun jenis-jenis kegiatan usaha penyediaan jasa wisata alam, meliputi: informasi pariwisata, pramuwisata, transportasi, perjalanan wisata, cinderamata, serta makanan dan minuman.

Penyusunan draft dokumen desain tapak merupakan lanjutan dari tahapan penyusunan dokumen perencanaan kawasan TWA Camplong sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Kawasan Suaka Alam Dan Kawasan Pelestarian Alam, yaitu diawali dengan Dokumen Penataan Blok TWA Camplong yang disahkan pada tahun 2016, Dokumen Rencana Pengelolaan TWA Camplong yang disahkan pada tahun 2017, kemudian dilanjutkan dengan Draft Dokumen Desain Tapak TWA Camplong yang disusun dan di lakukan konsultasi publik pada bulan 14 November 2018.

Pelaksanaan konsultasi publik draft dokumen desain tapak TWA Camplong menghasilkan beberapa kesepakatan yang tertuang dalam berita acara konsultasi publik yang ditandatangani oleh peserta yang hadir, diantaranya:

  • Taman Wisata Alam Camplong merupakan kawasan konservasi yang harus menjadi aset bersama sehingga perlu komitmen bersama dalam pengelolaan kawasan terutama masyarakat lokal, Pemda Kabupaten Kupang dan Balai Besar KSDA NTT;
  • Desain tapak pengelolaan pariwisata alam pada blok pemanfaatan TWA Camplong terdiri dari ruang publik dan ruang usaha;
  • Ruang usaha dimanfaatkan untuk kepentingan pengusahaan pariwisata alam bagi usaha penyediaan sarana wisata alam (Investor/BUMN/BUMD/BUMDes/Koperasi) yang akan mendukung pariwisata di TWA Camplong khususnya serta Kabupaten Kupang dan Provinsi NTT pada umumnya;
  • Ruang publik dimanfaatkan untuk kepentingan pengunjung, pengelolaan dan pengusahaan pariwisata alam bagi usaha penyediaan jasa wisata alam serta sarana pendukung wisata alam yang akan mendukung pariwisata di TWA Camplong khususnya serta Kabupaten Kupang dan Provinsi NTT pada umumnya;

Tahapan berikutnya dari penyusunan desain tapak TWA Camplong yaitu melakukan perbaikan dokumen sesuai masukan peserta konsultasi publik kemudian dilanjutkan dengan pembahasan dokumen di tingkat Pusat (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan cq. Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi). Hasil pembahasan di tingkat pusat digunakan dalam penyempurnaan dokumen guna mendapatkan pengesahan dari Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi.

©Rio Duta – BBKSDA NTT

Berita Terbaru

Evaluasi Kesesuaian Fungsi Kaw...

  Penetapan kawasan Cagar Alam (CA) Mutis Timau p...

Simaksi dan SATS-DN Menuju Onl...

  Balai Besar KSDA Nusa Tenggara Timur diberi ama...

Mbou di Torong Padang

  Torong Padang, suatu tanjung di Utara Pulau Flo...

Ekosistem Blue Carbon di Batas...

    Ekosistem blue carbon adalah ekosistem diman...

Datang dan Bergema

  Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Te...

Samurai versus Buaya Pemakan M...

          Balai Besar KSDA NTT kedatangan seoran...

Bushcraft di Pulau Menipo

  Bushcraft adalah berkegiatan di alam bebas yang...

Sosialisasi Tumbuhan Dan Satwa...

            Pada sore hari di medio bulan Desembe...

Kabupaten Timor Tengah Selatan...

  Selama ini, kita mengenal Cagar Alam (CA) Mut...

Sio Manise Untuk Peningkatan P...

  Hasil diagnostic reading permasalahan pada Ba...

Analisis Pohon konflik TWA Rut...

Perambahan kawasan dan illegal logging TWA Ruteng ...

Perlindungan Habitat Komodo Be...

  Konsep Perlindungan Hutan Berbasis Ekosistem P...

Monitoring TSL (Ular) Usulan K...

Kupang, 7 Desember 2018 Wilayah kerja Balai Bes...

Pengamanan Kolaboratif TWA 17 ...

  Taman Wisata Alam (TWA) Tujuh Belas Pulau merup...

Rekreasi ke Camplong

  Kupang, 05/12/2018-Rekreasi, atau dulu kita bia...

Panduan Interpreter Wisata Ala...

  Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan ya...

Ruteng, The Refreshness of Flo...

Step on Flores land, it’s not only about the Kom...

Alam Spektakuler TWA Menipo

Memandang deburan ombak pantai selatan yang meng...

Ayo Wisata Bahari ke TWAL Telu...

TWAL Teluk Maumere juga dikenal dengan nama Gugu...

Eksotis dan Komplit, Wisata di...

Eksotis, kata yang mewakili Taman Wisata Alam La...

Pameran, Media Sosialisasi dan...

Pameran konservasi dilaksanakan dengan tujuan un...

Pentingnya Pembinaan Kader Kon...

    Telah menjadi kesadaran bersama bahwa kele...

Monitoring TSL (Burung) Usulan...

Kupang, 7 Desember 2018 Wilayah kerja Balai Besar...

Kunjungan TK Bintang Al Quran ...

“Awas tangannya.....” “Awas jarinya....” Kupang,...

Pilot Drone BBKSDA NTT

Kupang, 26 November 2018 Balai Besar KSDA NTT mer...

Konservasi Penyu TWA Menipo

  Perkembangan Konservasi Penyu di TWA Menipopada...

Konsultasi Publik Tapak TWA Ca...

Camplong, 14 November 2018 Pada hari Kamis, tangg...

FGD Tata Kelola PNBP TWAL G.P....

Maumere, 09 November 2018 Seksi Konservasi Wila...

Rescue Buaya Muara di Soliu

  Kupang, 2 November 2018 Pada tanggal 31 Oktobe...

Pemberdayaan Masyarakat di Des...

Maumere, 19 Oktober 2018. Balai Besar KSDA NTT m...

Pelatihan Penanganan Konflik M...

Kupang, 19 Oktober 2018. Dalam upaya mitigasi pe...

Guru Pemerhati KSDAE

Soe, 27 September 2018 Sebagai Unit Pelaksana Tek...

Konflik Satwa (Buaya) di Welul...

Maubesi, 17 September 2018 Pada tanggal 6 Septe...

Pemberdayaan Masyarakat Desa P...

BBKSDA NTT, 13 September 2018 Dalam pengelolaan T...

Upaya Pembangunan Karakter Gen...

BBKSDA NTT, 13 September 2018   Balai Besar KS...

Role Model Tanaman Obat Berbas...

BBKSDA NTT, 13 September 2018 Latar Belakang Tam...

Inventarisasi Masyarakat Tradi...

Riung, 12 September 2018 Taman Wisata Alam Laut (...

Penanganan Bangkai Paus Sperm...

Alor, 10 September 2018 Pada hari Senin,  tangg...

Nuri Diserahkan Sukarela di SK...

Maumere, 31 Agustus 2018 Balai Besar Konservasi...

Daging Penyu dan Lumba Lumba d...

Maumere, 31 Agustus 2018   Sebagai tindak lanj...

Penyerahan Satwa Secara Sukare...

Maumere, 28 Juni 2018 Balai Besar KSDA (BBKSDA) N...

Monitoring Penangkaran Ex-Situ...

Monitoring Penangkaran Ex-Situ Rusa Timor di Kota ...

Penyelamatan Komodo di Desa Ba...

Bari, 22 Juli 2018 Sehubungan dengan adanya inf...

Pengiriman Kulit Buaya dari Al...

Kupang, 2 Maret 2018. Sebanyak enam lembar kulit ...

TWA Camplong, Bukan TPA Camplo...

Camplong, 21 Februari 2018 “Ayo bergerak bersama”...

Partisipasi BBKSDA NTT di HMPI...

Kupang, 16 Desember 2017. Balai Besar KSDA Nusa T...

Kerjasama Pelestarian Kura-Kur...

Kupang, 28 September 2017 Dalam rangka Optimalisa...

Sosialisasi Perlindungan Rugu/...

Borong, 27  September 2017 Bertempat di Aula Dina...

Burung Beo dan Gigi Duyung Dia...

Kupang, 18 September 2017 Pada hari Senin tanggal...

Pembahasan Draft Role Model BB...

Kupang, 6 september 2017   BBKSDA NTT melaksanak...

Kerjasama Antara BBKSDA NTT da...

Kupang, 28 Agustus 2017. Bertempat di Kantor Bala...

Gubernur NTT di Stand Kehutana...

Kupang, 13 Agustus 2017 Gubernur NTT, Drs. Frans ...

Jelajah Sepeda Tahun 2017 di T...

Kupang, 13 Agustus 2017 Jelajah Sepeda Kompas 201...

Peringatan Hari Konservasi Ala...

Kupang, 10 Agustus 2017 Melalui Keppres Nomor 22 ...

Buaya Punya Kandang Baru

Kupang, 4 Agustus 2017 Buaya memiliki sifat 'homi...

Darurat Peredaran Tumbuhan dan...

Kupang, Februari 2017. Hanya dalam kurun waktu 2 ...

1 Ekor Buaya Betina Diamankan

Kupang, 9 Mei 2017. Menindaklanjuti laporan dari ...

Konservasi Penyu di TWA Menipo

Kupang, 19 Maret 2017. 150 ekor tukik hasil penet...