best joomla menu module
Call Center.pngStop Illegal.png
100_3258.JPG17 pulau.JPG20160721_161823.jpgDSC00453.JPGDSC00546.jpgDSC_0044.JPGDSC_0404.JPGDSC_0530.JPGDSC_0556.JPGDSC_0648.JPGDSC_0768.JPGDSC_0964.JPGIMG_3146.JPGIMG_5732.JPGIMG_6219.JPGIMG_6411.JPGP1020015.JPG_DSC0323.JPGwae wuul.JPG

 

Konsep Perlindungan Hutan Berbasis Ekosistem

Pendekatan perlindungan hutan berbasis ekosistem (PBE) berarti melindungi semua fungsi hutan pada semua skala, sepanjang waktu, sebagai prioritas pertama dan kemudian berupaya melestarikan diversitas nilai manfaat dalam batas-batas kapasitas ekologi.  Dengan kata lain PBE memusatkan perhatian pertama kali pada “apa yang ditinggalkan” dan kemudian “apa yang dimanfaatkan” tanpa harus menimbulkan kerusakan ekosistem. Dalam kenyataan atau dalam praktek, kita tidak mungkin mengelola seluruh komponen, interaksi dan proses dalam suatu ekosistem. Hal yang mungkin kita lakukan adalah memanipulasi aspek-aspek tertentu dari ekosistem dan tetap mempertahankan atau melestarikan sifat-sifat tertentu yang diperlukan, serta memperhitungkan kesemuanya sebagai hal-hal yang akan mempengaruhi masukan, proses, interaksi dan keluaran ekosistem, dalam hal ini melalui kegiatan Patroli Pengamanan Habitat.Kegiatan Patroli Pengamanan Habitat merupakan suatu upaya untuk menjaga, melindungi, dan mempertahankan hutan dari berbagai gangguan yang dapat mengganggu dan merusak sumber daya alam yang ada di dalamnya.

Prinsip-prinsip perlindungan hutan berbasis ekosistem melalui patroli pengamanan habitat adalah sebagai berikut :

1.   Menitik beratkan pada apa yang ditinggalkan dan tidak pada apa yang diambil.

2.   Menerapkan prinsip pencegahan kerusakan dalam semua rencana dan aktivitas.

3.   Semua rencana dan aktivitas diarahkan untuk melindungi hutan agar tetap berfungsi pada semua level, waktu dan ruang.

4.   Semua rencana dan aktivitas ditujukan untuk melindungi, menjaga dan bila perlu memperbaiki diversitas biologi dalam ekosistem hutan.

5.   Menghargai dan menjaga kerusakan alami dalam hutan.

6.   Melindungi, menjaga dan memperbaiki struktur, komposisi dan fungsi komunitas pada semua level.

7.   Melindungi, menjaga, memperbaiki saling keterkaitan ekosistem pada semua level.

8.   Memahami bahwa konsep lansekap sangat tergantung pada semua jasad dan proses-proses didalamnya.

9.   Rencanakan aktivitas yang seimbang dalam aspek-aspek ekologi, sosial dan ekonomi.

10.Evaluasi keberhasilan semua aktivitas berdasarkan ukuran persyaratan ekologi.

 

Maksud dari kegiatan Patroli Pengamanan Habitat biawak Komodo (Varanus komodoensis) di kawasan CA Wae Wuul dan TWA Tujuh Belas Pulau adalah sebagai upaya pihak pengelola dalam melakukan perlindungan dan pengamanan biawak komodo berserta habitatnya dari segala gangguan dan ancaman agar tetap terjaga kelestariannya.

Tujuannya adalah untuk memastikan kondisi biawak komodo beserta habitatnya dalam kondisi tetap lestari dan memperoleh data terkait gangguan dan ancaman terhadap kawasan guna mendukung kebijakan pengelolaan kawasan lebih lanjut.

Kegiatan patroli pengamanan dilaksanakan pada titik dan area/sekitar titik pemantauan populasi biawak komodo yang pernah dilakukan dan lokasi-lokasi yang merupakan area beraktivitasnya biawak komodo (Coverage).  Untuk memperoleh data dilaksanakan dengan teknik pengamatan langsung dan tidak langsung. Teknik pengamatan langsung yakni melihat dan menyaksikan adanya aktivitas ataupun kondisi habitat biawak komodo, sedangkan pengamatan tidak langsung yakni adanya aktivitas di sekitar habitat biawak komodo, namun tak dapat melihat dan menyaksikan langsung aktivitas tersebut (menggunakan indera pendengaran).

Pendataan dilakukan secara pengambilan titik koordinat habitat biawak komodo, aktivitas yang berindikasi mengakibatkan pelanggaran di bidang LHK, aktivitas satwa mangsa dan aktivitas lain, kondisi vegetasi disekitar habitat biawak komodo, dan data lain yang disusun dalam bentuk Tally Sheet. Kegiatan dokumentasi dilakukan dalam bentuk pengisian tallysheet dan pengambilan gambar/foto serta bila memungkinkan perekaman dalam bentuk video, yang memuat hasil pelaksanaan kegiatan dilapangan.

Lokasi pelaksanaan kegiatan adalah CA Wae Wull dan TWA 17 Pulau. CA Wae Wuul secara administratif berada di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat. Ditetapkan sebagai Cagar Alam melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : SK.427/KPTS-II/1996, tanggal 09 Agustus 1996, tentang Penetapan Kelompok Hutan Wae Wuul (RTK 139) seluas 1.484,84 Ha sebagai Kawasan Hutan Tetap dengan Fungsi Cagar Alam. Kawasan tersebut di dominasi oleh Padang Savana, dan merupakan salah satu habitat biawak komodo (Varanus komodoensis). TWA 17Pulau secara administrasi berada di Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dalam pengelolaannya TWA Tujuh Belas Pulau seluas 7.303,16 Ha berstatus Penunjukkan Kolektif yang merujuk pada Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : SK.3911/Menhut-VII/KUH/2014, tanggal 14 Mei 2014, tentang Penunjukan Kawasan Hutan dan dan Konservasi Perairan Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Dari hasil Kegiatan Patroli Pengamanan Habitat Biawak Komodo (Varanus komodoensis) di Cagar Alam Wae Wuul dan TWA Tujuh Belas Pulau, dapat disimpulkan bahwa kondisi habitat satwa biawak komodo perlu diperhatikan terutama pada areal perambahan, penggembalaan liar, serta area rawan kebakaran. Dikarenakan dengan adanya hal tersebut di atas maka akan mengganggu dan mengancam keberlangsungan hidup satwa biawak komodo serta satwa mangsa utamanya, dan dikhawatirkan akan mengganggu keseimbangan ekosistem yang ada.

Tinjauan Pustaka

Malamassam, Daud. Prof. Dr., 2009.  Modul Pembelajaran Mata Kuliah Perencanaan Hutan.  Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin, Makassar.

Sumardi,  Prof.  Dr. .....  Bahan Kuliah Perlindungan Hutan Lanjut.  Program Studi Ilmu Kehutanan, Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Wuran, Arakib. A.Md. 2018. Patroli Pengamanan Habitat Komodo (Varanus komodoensis) pada kawasan Cagar Alam Wae Wuul. Ditjen KSDAE. BBKSDA NTT. Ruteng.

Daing, David. SST. 2018. Patroli Pengamanan Habitat Komodo (Varanus komodoensis) pada kawasan TWA Tujuh Belas Pulau. Ditjen KSDAE. BBKSDA NTT. Ruteng.

 

 

©Arakib Wuran – BBKSDA NTT

Berita Terbaru

Komodo Kembali Ke Habitatnya D...

 Persiapan Pelepasliaran Komodo di Pulau Oentolo...

Kunjungan Sekda Provinsi NTT k...

 Sekda Provinsi NTT beserta rombongan dan Petuga...

Melepasliar Sanca Timor di Hut...

Pelepasliaran Sanca Timor di Hutan Egon Ilemedo ...

BBKSDA NTT sajikan KOPIKO di d...

Kepala BBKSDA NTT (Peci Hitam) Didampingi Pejaba...

Penemuan Bangkai Lumba-lumba d...

Maumere, 30 Juni 2019 Pada hari Minggu tanggal ...

Menyelamatkan Komodo Yang Masu...

Kupang, 2 Juli 2019 Balai Besar KSDA NTT melalu...

Evakuasi Dramatis Buaya Muara ...

  Kupang, 1 Juli 2019 Balai Besar KSDA NTT mel...

Repatriasi Kura-kura Leher Ula...

Pict. Kepala BBKSDA NTT dan Direktur WCS-IP Kup...

Gerakan Masyarakat Kota Ruteng...

Pada tanggal 25 Januari 2019 Balai Besar KSDA NT...

Hari Peduli Sampah Nasional (H...

Gubernur NTT dan Kepala BBKSDA NTT Senin, 4 Mar...

Penilaian METT Balai Besar KSD...

Dalam  rangka Pencapaian Target Indikator Kinerj...

Evaluasi Kesesuaian Fungsi Kaw...

  Penetapan kawasan Cagar Alam (CA) Mutis Timau p...

Simaksi dan SATS-DN Menuju Onl...

  Balai Besar KSDA Nusa Tenggara Timur diberi ama...

Mbou (Komodo) di Torong Padang

  Torong Padang, suatu tanjung di Utara Pulau Flo...

Ekosistem Blue Carbon di Batas...

    Ekosistem blue carbon adalah ekosistem diman...

Datang dan Bergema

  Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Te...

Samurai versus Buaya Pemakan M...

          Balai Besar KSDA NTT kedatangan seoran...

Bushcraft di Pulau Menipo

  Bushcraft adalah berkegiatan di alam bebas yang...

Sosialisasi Tumbuhan Dan Satwa...

            Pada sore hari di medio bulan Desembe...

Kabupaten Timor Tengah Selatan...

  Selama ini, kita mengenal Cagar Alam (CA) Mut...

Sio Manise Untuk Peningkatan P...

  Hasil diagnostic reading permasalahan pada Ba...

Analisis Pohon konflik TWA Rut...

Perambahan kawasan dan illegal logging TWA Ruteng ...

Perlindungan Habitat Komodo Be...

  Konsep Perlindungan Hutan Berbasis Ekosistem P...

Monitoring TSL (Ular) Usulan K...

Kupang, 7 Desember 2018 Wilayah kerja Balai Bes...

Pengamanan Kolaboratif TWA 17 ...

  Taman Wisata Alam (TWA) Tujuh Belas Pulau merup...

Rekreasi ke Camplong

  Kupang, 05/12/2018-Rekreasi, atau dulu kita bia...

Panduan Interpreter Wisata Ala...

  Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan ya...

Ruteng, The Refreshness of Flo...

Step on Flores land, it’s not only about the Kom...

Alam Spektakuler TWA Menipo

Memandang deburan ombak pantai selatan yang meng...

Ayo Wisata Bahari ke TWAL Telu...

TWAL Teluk Maumere juga dikenal dengan nama Gugu...

Eksotis dan Komplit, Wisata di...

Eksotis, kata yang mewakili Taman Wisata Alam La...

Pameran, Media Sosialisasi dan...

Pameran konservasi dilaksanakan dengan tujuan un...

Pentingnya Pembinaan Kader Kon...

    Telah menjadi kesadaran bersama bahwa kele...

Monitoring TSL (Burung) Usulan...

Kupang, 7 Desember 2018 Wilayah kerja Balai Besar...

Kunjungan TK Bintang Al Quran ...

“Awas tangannya.....” “Awas jarinya....” Kupang,...

Pilot Drone BBKSDA NTT

Kupang, 26 November 2018 Balai Besar KSDA NTT mer...

Konservasi Penyu TWA Menipo

  Perkembangan Konservasi Penyu di TWA Menipopada...

Konsultasi Publik Tapak TWA Ca...

Camplong, 14 November 2018 Pada hari Kamis, tangg...

FGD Tata Kelola PNBP TWAL G.P....

Maumere, 09 November 2018 Seksi Konservasi Wila...

Rescue Buaya Muara di Soliu

  Kupang, 2 November 2018 Pada tanggal 31 Oktobe...

Pemberdayaan Masyarakat di Des...

Maumere, 19 Oktober 2018. Balai Besar KSDA NTT m...

Pelatihan Penanganan Konflik M...

Kupang, 19 Oktober 2018. Dalam upaya mitigasi pe...

Guru Pemerhati KSDAE

Soe, 27 September 2018 Sebagai Unit Pelaksana Tek...

Konflik Satwa (Buaya) di Welul...

Maubesi, 17 September 2018 Pada tanggal 6 Septe...

Pemberdayaan Masyarakat Desa P...

BBKSDA NTT, 13 September 2018 Dalam pengelolaan T...

Upaya Pembangunan Karakter Gen...

BBKSDA NTT, 13 September 2018   Balai Besar KS...

Role Model Tanaman Obat Berbas...

BBKSDA NTT, 13 September 2018 Latar Belakang Tam...

Inventarisasi Masyarakat Tradi...

Riung, 12 September 2018 Taman Wisata Alam Laut (...

Penanganan Bangkai Paus Sperm...

Alor, 10 September 2018 Pada hari Senin,  tangg...

Nuri Diserahkan Sukarela di SK...

Maumere, 31 Agustus 2018 Balai Besar Konservasi...

Daging Penyu dan Lumba Lumba d...

Maumere, 31 Agustus 2018   Sebagai tindak lanj...

Penyerahan Satwa Secara Sukare...

Maumere, 28 Juni 2018 Balai Besar KSDA (BBKSDA) N...

Monitoring Penangkaran Ex-Situ...

Monitoring Penangkaran Ex-Situ Rusa Timor di Kota ...

Penyelamatan Komodo di Desa Ba...

Bari, 22 Juli 2018 Sehubungan dengan adanya inf...

Pengiriman Kulit Buaya dari Al...

Kupang, 2 Maret 2018. Sebanyak enam lembar kulit ...

TWA Camplong, Bukan TPA Camplo...

Camplong, 21 Februari 2018 “Ayo bergerak bersama”...

Partisipasi BBKSDA NTT di HMPI...

Kupang, 16 Desember 2017. Balai Besar KSDA Nusa T...

Kerjasama Pelestarian Kura-Kur...

Kupang, 28 September 2017 Dalam rangka Optimalisa...

Sosialisasi Perlindungan Rugu/...

Borong, 27  September 2017 Bertempat di Aula Dina...

Burung Beo dan Gigi Duyung Dia...

Kupang, 18 September 2017 Pada hari Senin tanggal...

Pembahasan Draft Role Model BB...

Kupang, 6 september 2017   BBKSDA NTT melaksanak...

Kerjasama Antara BBKSDA NTT da...

Kupang, 28 Agustus 2017. Bertempat di Kantor Bala...

Gubernur NTT di Stand Kehutana...

Kupang, 13 Agustus 2017 Gubernur NTT, Drs. Frans ...

Jelajah Sepeda Tahun 2017 di T...

Kupang, 13 Agustus 2017 Jelajah Sepeda Kompas 201...

Peringatan Hari Konservasi Ala...

Kupang, 10 Agustus 2017 Melalui Keppres Nomor 22 ...

Buaya Punya Kandang Baru

Kupang, 4 Agustus 2017 Buaya memiliki sifat 'homi...

Darurat Peredaran Tumbuhan dan...

Kupang, Februari 2017. Hanya dalam kurun waktu 2 ...

1 Ekor Buaya Betina Diamankan

Kupang, 9 Mei 2017. Menindaklanjuti laporan dari ...

Konservasi Penyu di TWA Menipo

Kupang, 19 Maret 2017. 150 ekor tukik hasil penet...