Call Center.pngStop Illegal.png
100_3258.JPG17 pulau.JPG20160721_161823.jpgDSC00453.JPGDSC00546.jpgDSC_0044.JPGDSC_0404.JPGDSC_0530.JPGDSC_0556.JPGDSC_0648.JPGDSC_0768.JPGDSC_0964.JPGIMG_3146.JPGIMG_5732.JPGIMG_6219.JPGIMG_6411.JPGP1020015.JPG_DSC0323.JPGwae wuul.JPG

BBKSDA NTT, 13 September 2018

 

Balai Besar KSDA NTT secara rutin telah melaksanakan pendidikan konservasi dengan sasaran generasi muda. Generasi muda tersebut adalah peserta didik sekolah (terutama sekolah dasar) dan peserta Saka Wanabakti. Kunjungan ke sekolah terutama dilakukan di wilayah Kota Kupang. Di luar Kota Kupang yang pernah menjadi lokasi penyelenggaraan pendidikan konservasi adalah di Kota Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Selain kunjungan ke sekolah dan melalui pembinaan Saka Wanabakti, pendidikan konservasi juga dilakukan dalam setiap kegiatan pameran wisata alam baik di tingkat Provinsi maupun kabupaten.

Mengapa pembangunan karakter melalui pendidikan konservasi mengambil sasaran siswa sekolah? Pembangunan karakter jika ingin efektif  dan utuh mesti menyertakan tiga institusi, yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Namun perlu diingat juga bahwa pembangunan karakter tidak dapat dilakukan oleh 1 (satu) pihak saja, melainkan perlu kesinambungan dan harmonisasi di antara ketia institusi tersebut.

Sebagaimana telah dibahas di bagian sebelumnya, sasaran pendidikan konservasi adalah aspek kesadaran, pengetahuan, sikap, keterampilan, kemampuan mengevaluasi, dan peran serta. Dalam pembentukan karakter melalui pendidikan konservasi, unsur terpentingnya adalah pikiran dimana terdapat seluruh program yang merupakan akumulasi pembentukan dari pengalaman hidup seseorang. Program ini membentuk sistem kepercayaan yang akhirnya dapat membentuk pola pikir dan mempengaruhi perilaku. Jika program pembentukan karakter konservasionis melalui pendidikan konservasi ini sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran universal, maka perilaku seseorang akan berjalan selaras dengan hukum alam.

Pendidikan konservasi yang dilakukan oleh Balai Besar KSDA NTT merupakan bagian dari pembentukan karakter konservasionis, yang tujuannya adalah untuk menciptakan generasi muda yang tumbuh dan berkembang dengan jiwa konservasi. Potensi karakter yang baik dimiliki manusia sebelum dilahirkan dan perlu untuk senantiasa dibina melalui sosialisasi dan pendidikan sejak usia dini.

Kita tahu bahwa usia anak-anak dan remaja merupakan masa belajar dan mencari jati diri. Peletakkan pondasi jiwa konservasi sejak awal diharapkan dapat menciptakan generasi selanjutnya yang sadar akan tugas manusia sebagai pemimpin di bumi yang tidak menyebabkan kerusakaan.Generasi muda yang sadar konservasi akan menciptakan masyarakat dan bangsa yang berkarakter konservasi pula.

Pelaksana tugas pendidikan konservasi Balai Besar KSDA NTT terdiri dari unsur penyuluh kehutanan, pengendali ekosistem hutan, dan polisi kehutanan. Masing-masing unsur tersebut bertugas menyusun dan membawakan materi konservasi. Materi tersebut meliputi perlindungan dan pengamanan hutan, pemanfaatan jasa lingkungan hutan konservasi (wisata alam dan air), pengenalan tumbuhan dan satwa dilindungi, serta peredaran tumbuhan dan satwa liar.

Metode yang digunakan selama ini adalah ceramah, diskusi, kunjungan ke kawasan konservasi, lomba, dan penyebarluasan informasi. Materi yang disampaikan oleh tim pelaksana pendidikan konservasi disajikan dalam bentuk powerpoint, film, kuis, dan pola mewarnai/ menggambar. Alat bantu lainnya yang digunakan oleh tim pendidikan konservasi adalah alat peraga berupa tumbuhan/satwa hidup/mati maupun bagian-bagiannya.

Pendidikan konservasi melalui ceramah (metode kelas) adalah metode yang paling sering digunakan pada setiap kunjungan ke sekolah-sekolah. Pemilihan metode ini didasari fakta bahwa peserta didik berjumlah banyak (rata-rata 30 anak per kelas). Terkadang untuk mengganggu agenda KBM (kegiatan belajar mengajar), pihak sekolah menggabungkan beberapa kelas menjadi satu. Dengan demikian metode yang paling sesuai adalah ceramah.

Metode ceramah ini didukung oleh materi penyuluhan dalam bentuk powerpoint, yang disusun sesingkat dan semenarik mungkin. Pada peserta didik usia dini, penggunaan materi yang didominasi tulisan akan menimbulkan kebosanan, yang dapat mengganggu kelancaran pendidikan konservasi itu sendiri.

Selain itu, dalam metode ceramah ini juga digabungkan dengan pemutaran film dan kuis. Pemutaran film pendek berdurasi maksimum 15 menit dengan pesan konservasi yang jelas akan tertanam kuat pada benak sasaran pendidikan konservasi.

Materi yang disampaikan adalah informasi mengenai konservasi, kawasan konservasi yang dikelola oleh Balai Besar KSDA NTT, pemanfaatan dan peredaran tumbuhan dan satwa liar, serta pencegahan gangguan terhadap kawasan hutan. Topik-topik tersebut sesuai dengan realita pengelolaan Balai Besar KSDA NTT dimana masih banyak masyarakat memanfaatkan tumbuhan satwa liar dilindungi/tidak dilindungi tidak sesuai peraturan perundang-undangan, serta adanya perambahan hutan dan kebakaran pada beberapa kawasan konservasi di NTT.

Ada kalanya banyak peserta didik yang belum mengenali tumbuhan dan satwa liar dilindungi. Maka peranan alat peraga di sini sangat penting. Penggunaan karapas penyu, cangkang kima, cangkang berbagai mollusca dilindungi akan memberikan gambaran obyek kepada sasaran pendidikan konservasi. Bahkan, pernah terjadi seorang guru melepas gelang kulit penyu karena mengikuti materi mengenai status perlindungan penyu.

Pendidikan konservasi melalui Saka Wanabakti diberikan dengan menggunakan metode diskusi dan praktik. Peserta Saka Wanabakti yang hadir pada setiap pertemuan rata-rata 15-20 orang, selain itu juga rentang usianya 10-17 tahun, sehingga lebih sesuai berdiskusi dibandingkan ceramah. Untuk materi yang diberikan disesuaikan dengan krida Saka Wanabakti, terutama adalah krida Reksa Wana. Praktik lapangan kepada peserta Saka Wanabakti yang telah dilakukan yaitu aksi bersih mata air TWA Baumata, pengenalan kawasan wisata dan potensi TWA Camplong, dan interpretasi wisata alam.

 

Pengenalan konservasi dan alam/ lingkungan secara partisipasi visual adalah metode yang digunakan untuk sasaran usia sekolah dasar (10-11 tahun). Alat bantu yang digunakan adalah pola mewarnai. Pola atau design dipilih yang bertema konservasi atau lingkungan. Kegiatan ini pernah dilakukan di SD Inpres Fafinisin, Soe. Seyogyanya untuk anak berusia 10-11 tahun  menggunakan metode menggambar, akan tetapi mengingat kondisi sekolah tersebut yang berada pada area kabupaten maka dirasa lebih tepat menggunakan metode mewarnai. Peserta didik dikenalkan dengan objek konservasi atau lingkungan yang sesuai/ familiar dengan kondisi wilayah setempat. Di sini, peran tim atau fasilitator sangat vital. Fasilitator perlu untuk mengenalkan tiap objek dan memancing daya ingat siswa terhadap persamaan objek gambar dengan kondisi lingkungan di sekitarnya.

Pendidikan konservasi tidak melulu disampaikan kepada peserta usia sekolah, tetapi juga menyasar masyarakat luas. Pameran adalah metode paling sesuai karena dapat menjangkau masyarakat umum dengan berbagai jenis usia, profesi, dan lain-lain. Dalam pameran, masyarakat dapat menyaksikan langsung satwa dilindungi dalam kondisi hidup, memperoleh gambaran langsung pengelolaan kawasan konservasi, dan mendapatkan aneka bahan informasi bidang konservasi sumber daya alam dan kehutanan pada umumnya.

 Bagaimana pendidikan konservasi BBKSDA NTT dapat membentuk karakter?

Kunci utama pembentukan/ pembangunan karakter melalui pendidikan konservasi oleh Balai Besar KSDA NTT adalah pada pemilihan dan penyajian materi. Pemilihan dan penyajian materi perlu memperhatikan sasaran pendidikan konservasi, yang berbeda pada setiap jenjangnya (TK-SD-SMP-SMA-masyarakat umum).

Yel-yel salam konservasi “hu..ha..” dan isyarat jari berbentuk huruf “L” untuk salam lestari adalah metode paling sederhana untuk menanamkan konservasi sumber daya alam demi kelestarian.

Aspek penting yang diterapkan dalam pembelajaran adalah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Aspek kognitif meliputi proses pemahaman, yang dituangkan dalam materi powerpoint, mewarnai, dan pemutaran film. Aspek afektif meliputi sikap, nilai, dan komitmen yang diperlukan untuk membangun masyarakat yang berkelanjutan, yang dituangkan dalam bentuk pernyataan ajakan, himbauan dari fasilitator kepada sasaran pendidikan konservasi. Adapun aspek psikomotorik meliputi perilaku dan keterampilan dalam mengelola alam, yang diwujudkan dengan praktik lapangan dan penanaman bibit pohon.

Telah disampaikan di atas, hasil dari pendidikan konservasi yang pernah dijumpai antara lain :

1.       Seorang guru melepas perhiasan dari karapas penyu saat kegiatan pendidikan konservasi tengah berlangsung;

2.   Anak-anak usia sekolah (anak-anak yang itu-itu saja) berulangkali mengunjungi stand pameran untuk menanyakan mengenai tumbuhan dan satwa liar;

3.   Masyarakat Kota Kupang antusias mengunjungi stand pameran Balai Besar KSDA NTT karena penasaran dengan satwa liar berbahaya;

4.       Peserta Saka Wanabakti memahami makna konservasi, program-program konservasi sumber daya alam;

5.    Salah satu sekolah menerima bibit pohon untuk ditanam di lingkungan sekolah dan dibagikan kepada siswanya. Pihak sekolah langsung menanam bibit pohon usai kegiatan pendidikan konservasi.

Beberapa kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pendidikan konservasi, yaitu :

1.           Tidak semua sekolah dapat menerima permohonan pelaksanaan pendidikan konservasi. Ada pula sekolah yang menerima, namun jumlah jam pelajaran yang dialokasikan sangat terbatas;

2.           Perlu perbanyakan dan pengembangan alat peraga yang belum dapat diakomodir melalui APBN;

3.      Fasilitator perlu menerima ToT (training of trainer) agar mengetahui teknik penyampaian materi yang menarik/atraktif terhadap sasaran peserta usia sekolah.

Pengukuran keberhasilan pendidikan konservasi memang belum pernah dilakukan. Tantangan terberat untuk pembangunan karakter adalah faktor lingkungan. Lingkungan yang tidak mendukung konservasi pastinya akan melunturkan jiwa konservasi pada anak usia sekolah. Pembangunan karakter jika ingin efektif dan utuh mesti menyertakan tiga institusi, yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat.

Di sekolah, penanaman nilai-nilai konservasi dapat dilakukan di luar jam pelajaran. Tenaga pengajar harus menjadi teladan bagi siswa, misalnya dengan tidak menggunakan aksesoris dari tumbuhan/satwa dilindungi dan menegur siswa yang mengenakannya. Lingkungan keluarga, orang tua dan teman bermain di rumah menjadi bagian dari pola pembentukan sikap peduli anak terhadap konservasi sumber daya alam.

@Dewi Indriasari - BBKSDA NTT

Berita Terbaru

Evaluasi Kesesuaian Fungsi Kaw...

  Penetapan kawasan Cagar Alam (CA) Mutis Timau p...

Simaksi dan SATS-DN Menuju Onl...

  Balai Besar KSDA Nusa Tenggara Timur diberi ama...

Mbou di Torong Padang

  Torong Padang, suatu tanjung di Utara Pulau Flo...

Ekosistem Blue Carbon di Batas...

    Ekosistem blue carbon adalah ekosistem diman...

Datang dan Bergema

  Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Te...

Samurai versus Buaya Pemakan M...

          Balai Besar KSDA NTT kedatangan seoran...

Bushcraft di Pulau Menipo

  Bushcraft adalah berkegiatan di alam bebas yang...

Sosialisasi Tumbuhan Dan Satwa...

            Pada sore hari di medio bulan Desembe...

Kabupaten Timor Tengah Selatan...

  Selama ini, kita mengenal Cagar Alam (CA) Mut...

Sio Manise Untuk Peningkatan P...

  Hasil diagnostic reading permasalahan pada Ba...

Analisis Pohon konflik TWA Rut...

Perambahan kawasan dan illegal logging TWA Ruteng ...

Perlindungan Habitat Komodo Be...

  Konsep Perlindungan Hutan Berbasis Ekosistem P...

Monitoring TSL (Ular) Usulan K...

Kupang, 7 Desember 2018 Wilayah kerja Balai Bes...

Pengamanan Kolaboratif TWA 17 ...

  Taman Wisata Alam (TWA) Tujuh Belas Pulau merup...

Rekreasi ke Camplong

  Kupang, 05/12/2018-Rekreasi, atau dulu kita bia...

Panduan Interpreter Wisata Ala...

  Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan ya...

Ruteng, The Refreshness of Flo...

Step on Flores land, it’s not only about the Kom...

Alam Spektakuler TWA Menipo

Memandang deburan ombak pantai selatan yang meng...

Ayo Wisata Bahari ke TWAL Telu...

TWAL Teluk Maumere juga dikenal dengan nama Gugu...

Eksotis dan Komplit, Wisata di...

Eksotis, kata yang mewakili Taman Wisata Alam La...

Pameran, Media Sosialisasi dan...

Pameran konservasi dilaksanakan dengan tujuan un...

Pentingnya Pembinaan Kader Kon...

    Telah menjadi kesadaran bersama bahwa kele...

Monitoring TSL (Burung) Usulan...

Kupang, 7 Desember 2018 Wilayah kerja Balai Besar...

Kunjungan TK Bintang Al Quran ...

“Awas tangannya.....” “Awas jarinya....” Kupang,...

Pilot Drone BBKSDA NTT

Kupang, 26 November 2018 Balai Besar KSDA NTT mer...

Konservasi Penyu TWA Menipo

  Perkembangan Konservasi Penyu di TWA Menipopada...

Konsultasi Publik Tapak TWA Ca...

Camplong, 14 November 2018 Pada hari Kamis, tangg...

FGD Tata Kelola PNBP TWAL G.P....

Maumere, 09 November 2018 Seksi Konservasi Wila...

Rescue Buaya Muara di Soliu

  Kupang, 2 November 2018 Pada tanggal 31 Oktobe...

Pemberdayaan Masyarakat di Des...

Maumere, 19 Oktober 2018. Balai Besar KSDA NTT m...

Pelatihan Penanganan Konflik M...

Kupang, 19 Oktober 2018. Dalam upaya mitigasi pe...

Guru Pemerhati KSDAE

Soe, 27 September 2018 Sebagai Unit Pelaksana Tek...

Konflik Satwa (Buaya) di Welul...

Maubesi, 17 September 2018 Pada tanggal 6 Septe...

Pemberdayaan Masyarakat Desa P...

BBKSDA NTT, 13 September 2018 Dalam pengelolaan T...

Upaya Pembangunan Karakter Gen...

BBKSDA NTT, 13 September 2018   Balai Besar KS...

Role Model Tanaman Obat Berbas...

BBKSDA NTT, 13 September 2018 Latar Belakang Tam...

Inventarisasi Masyarakat Tradi...

Riung, 12 September 2018 Taman Wisata Alam Laut (...

Penanganan Bangkai Paus Sperm...

Alor, 10 September 2018 Pada hari Senin,  tangg...

Nuri Diserahkan Sukarela di SK...

Maumere, 31 Agustus 2018 Balai Besar Konservasi...

Daging Penyu dan Lumba Lumba d...

Maumere, 31 Agustus 2018   Sebagai tindak lanj...

Penyerahan Satwa Secara Sukare...

Maumere, 28 Juni 2018 Balai Besar KSDA (BBKSDA) N...

Monitoring Penangkaran Ex-Situ...

Monitoring Penangkaran Ex-Situ Rusa Timor di Kota ...

Penyelamatan Komodo di Desa Ba...

Bari, 22 Juli 2018 Sehubungan dengan adanya inf...

Pengiriman Kulit Buaya dari Al...

Kupang, 2 Maret 2018. Sebanyak enam lembar kulit ...

TWA Camplong, Bukan TPA Camplo...

Camplong, 21 Februari 2018 “Ayo bergerak bersama”...

Partisipasi BBKSDA NTT di HMPI...

Kupang, 16 Desember 2017. Balai Besar KSDA Nusa T...

Kerjasama Pelestarian Kura-Kur...

Kupang, 28 September 2017 Dalam rangka Optimalisa...

Sosialisasi Perlindungan Rugu/...

Borong, 27  September 2017 Bertempat di Aula Dina...

Burung Beo dan Gigi Duyung Dia...

Kupang, 18 September 2017 Pada hari Senin tanggal...

Pembahasan Draft Role Model BB...

Kupang, 6 september 2017   BBKSDA NTT melaksanak...

Kerjasama Antara BBKSDA NTT da...

Kupang, 28 Agustus 2017. Bertempat di Kantor Bala...

Gubernur NTT di Stand Kehutana...

Kupang, 13 Agustus 2017 Gubernur NTT, Drs. Frans ...

Jelajah Sepeda Tahun 2017 di T...

Kupang, 13 Agustus 2017 Jelajah Sepeda Kompas 201...

Peringatan Hari Konservasi Ala...

Kupang, 10 Agustus 2017 Melalui Keppres Nomor 22 ...

Buaya Punya Kandang Baru

Kupang, 4 Agustus 2017 Buaya memiliki sifat 'homi...

Darurat Peredaran Tumbuhan dan...

Kupang, Februari 2017. Hanya dalam kurun waktu 2 ...

1 Ekor Buaya Betina Diamankan

Kupang, 9 Mei 2017. Menindaklanjuti laporan dari ...

Konservasi Penyu di TWA Menipo

Kupang, 19 Maret 2017. 150 ekor tukik hasil penet...