best joomla menu module
Call Center.pngStop Illegal.png
100_3258.JPG17 pulau.JPG20160721_161823.jpgDSC00453.JPGDSC00546.jpgDSC_0044.JPGDSC_0404.JPGDSC_0530.JPGDSC_0556.JPGDSC_0648.JPGDSC_0768.JPGDSC_0964.JPGIMG_3146.JPGIMG_5732.JPGIMG_6219.JPGIMG_6411.JPGP1020015.JPG_DSC0323.JPGwae wuul.JPG

          Balai Besar KSDA NTT kedatangan seorang Samurai dan beberapa rekannya langsung dari negeri Sakura Jepang!!!

Ceritanya ; Tsuyoshi Shirawa san adalah seorang Samurai atau ksatria asli negeri Jepang yang mendedikasikan hidup dan keahliannya dalam bidang satwa liar untuk kelestarian dan kehidupan satwa liar di seluruh pelosok dunia.

Jadi Tsuyoshi Shirawa san, bukanlah Samurai pengabdi penguasa Shogun dari jaman dahulu kala. Ini adalah cerita tentang Samurai millennial. Bahkan dalam kehidupan nyatanya, beliau adalah seorang direktur dari i Zoo, sebuah kebun binatang di Jepang. Di kehidupan modern. persahabatan dan perjuangan melestarikan satwa liar yang melintasi batas bangsa dan ras anak manusia.

Pada tanggal 7 s/d 9 di bulan Desember 2018, dengan ditemani oleh beberapa rekannya, yaitu :  Keisuke Endo san, dan Tadaaki Aoki san,mereka bertiga datang jauh-jauh ke Provinsi NTT untuk bekerja bersama membantu staf di BBKSDA NTT dan masyarakat asli di Pulau Menipo, Kabupaten Kupang, NTT yang sedang kesulitan menghadapi gangguan buaya muara (Crocodylus porossus) hingga memangsa manusia.

 Tujuannya adalah menangkap buaya berukuran besar yang meresahkan kehidupan masyarakat itu. Selain itu juga sekaligus untuk menyelamatkan buaya dari tindakan masyarakat yang bisa mengakibatkan terbunuhnya buaya. Bisa saja buaya yang dianggap membahayakan manusia dijebak dengan kail dan umpan, ditombak atau bahkan dikejar dan diburu dengan maksud untuk dibunuh.

Jalannya cerita petualangan Samurai ahli satwa liar ini adalah tentang kisah berbagi dan membawa pengetahuan baru dan alat alat serba guna untuk penyelamatan buaya dengan cara menangkapnya dengan melibatkan staf Balai Besar KSDA NTT. Kisah ‘adventure’ tentang Samurai dan satwa liar ini kemudian dikemas skenarionya dalam alur cerita film dokumenter dengan lokasi pengambilan gambar di Taman Wisata Alam Menipo, Kabupaten Kupang, NTT.  Program ini merupakan episode kedua, setelah sebelumnya dilakukan kegiatan pembuatan episode pertama pada bulan Juli 2018.

Petualangan ini pun dijalankan sesuai dengan peraturan yang ada, yaitu sesudah mengantongi ijin khusus berupa SIMAKSI (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi) untuk pembuatan film dokumenter di kawasan konservasi.

Kisah film dokumenter dari TV Tokyo Production Inc., ini memang sangat menarik. Menjadi lebih menarik adalah ketika kita mengetahui dalam kenyataannya, staf dari Balai Besar KSDA NTT yang terlibat sebagai bintang dalam film dokumenter tersebut adalah Wildlife Rescue Unit (WRU, Unit penanganan Satwa) BBKSDA NTT yang memiliki keahlian dan keterampilan mumpuni yang telah teruji dalam penanganan konflik satwa liar dan manusia khususnya buaya muara di wilayah Provinsi NTT yang juga telah diakui eksistensi dan kiprahnya di Indonesia. Pesan yang dapat diambil dari film ini adalah bahwa upaya yang dilakukan untuk menanggulangi dan meminimalisir korban konflik antara manusia dan satwa liar buaya tidak harus dilakukan dengan cara membunuh satwa liar buaya.

©Sulistyanto - BBKSDA NTT

Berita Terbaru

Gerakan Masyarakat Kota Ruteng...

Pada tanggal 25 Januari 2019 Balai Besar KSDA NT...

Penilaian METT Balai Besar KSD...

Dalam  rangka Pencapaian Target Indikator Kinerj...

Evaluasi Kesesuaian Fungsi Kaw...

  Penetapan kawasan Cagar Alam (CA) Mutis Timau p...

Simaksi dan SATS-DN Menuju Onl...

  Balai Besar KSDA Nusa Tenggara Timur diberi ama...

Mbou (Komodo) di Torong Padang

  Torong Padang, suatu tanjung di Utara Pulau Flo...

Ekosistem Blue Carbon di Batas...

    Ekosistem blue carbon adalah ekosistem diman...

Datang dan Bergema

  Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Te...

Samurai versus Buaya Pemakan M...

          Balai Besar KSDA NTT kedatangan seoran...

Bushcraft di Pulau Menipo

  Bushcraft adalah berkegiatan di alam bebas yang...

Sosialisasi Tumbuhan Dan Satwa...

            Pada sore hari di medio bulan Desembe...

Kabupaten Timor Tengah Selatan...

  Selama ini, kita mengenal Cagar Alam (CA) Mut...

Sio Manise Untuk Peningkatan P...

  Hasil diagnostic reading permasalahan pada Ba...

Analisis Pohon konflik TWA Rut...

Perambahan kawasan dan illegal logging TWA Ruteng ...

Perlindungan Habitat Komodo Be...

  Konsep Perlindungan Hutan Berbasis Ekosistem P...

Monitoring TSL (Ular) Usulan K...

Kupang, 7 Desember 2018 Wilayah kerja Balai Bes...

Pengamanan Kolaboratif TWA 17 ...

  Taman Wisata Alam (TWA) Tujuh Belas Pulau merup...

Rekreasi ke Camplong

  Kupang, 05/12/2018-Rekreasi, atau dulu kita bia...

Panduan Interpreter Wisata Ala...

  Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan ya...

Ruteng, The Refreshness of Flo...

Step on Flores land, it’s not only about the Kom...

Alam Spektakuler TWA Menipo

Memandang deburan ombak pantai selatan yang meng...

Ayo Wisata Bahari ke TWAL Telu...

TWAL Teluk Maumere juga dikenal dengan nama Gugu...

Eksotis dan Komplit, Wisata di...

Eksotis, kata yang mewakili Taman Wisata Alam La...

Pameran, Media Sosialisasi dan...

Pameran konservasi dilaksanakan dengan tujuan un...

Pentingnya Pembinaan Kader Kon...

    Telah menjadi kesadaran bersama bahwa kele...

Monitoring TSL (Burung) Usulan...

Kupang, 7 Desember 2018 Wilayah kerja Balai Besar...

Kunjungan TK Bintang Al Quran ...

“Awas tangannya.....” “Awas jarinya....” Kupang,...

Pilot Drone BBKSDA NTT

Kupang, 26 November 2018 Balai Besar KSDA NTT mer...

Konservasi Penyu TWA Menipo

  Perkembangan Konservasi Penyu di TWA Menipopada...

Konsultasi Publik Tapak TWA Ca...

Camplong, 14 November 2018 Pada hari Kamis, tangg...

FGD Tata Kelola PNBP TWAL G.P....

Maumere, 09 November 2018 Seksi Konservasi Wila...

Rescue Buaya Muara di Soliu

  Kupang, 2 November 2018 Pada tanggal 31 Oktobe...

Pemberdayaan Masyarakat di Des...

Maumere, 19 Oktober 2018. Balai Besar KSDA NTT m...

Pelatihan Penanganan Konflik M...

Kupang, 19 Oktober 2018. Dalam upaya mitigasi pe...

Guru Pemerhati KSDAE

Soe, 27 September 2018 Sebagai Unit Pelaksana Tek...

Konflik Satwa (Buaya) di Welul...

Maubesi, 17 September 2018 Pada tanggal 6 Septe...

Pemberdayaan Masyarakat Desa P...

BBKSDA NTT, 13 September 2018 Dalam pengelolaan T...

Upaya Pembangunan Karakter Gen...

BBKSDA NTT, 13 September 2018   Balai Besar KS...

Role Model Tanaman Obat Berbas...

BBKSDA NTT, 13 September 2018 Latar Belakang Tam...

Inventarisasi Masyarakat Tradi...

Riung, 12 September 2018 Taman Wisata Alam Laut (...

Penanganan Bangkai Paus Sperm...

Alor, 10 September 2018 Pada hari Senin,  tangg...

Nuri Diserahkan Sukarela di SK...

Maumere, 31 Agustus 2018 Balai Besar Konservasi...

Daging Penyu dan Lumba Lumba d...

Maumere, 31 Agustus 2018   Sebagai tindak lanj...

Penyerahan Satwa Secara Sukare...

Maumere, 28 Juni 2018 Balai Besar KSDA (BBKSDA) N...

Monitoring Penangkaran Ex-Situ...

Monitoring Penangkaran Ex-Situ Rusa Timor di Kota ...

Penyelamatan Komodo di Desa Ba...

Bari, 22 Juli 2018 Sehubungan dengan adanya inf...

Pengiriman Kulit Buaya dari Al...

Kupang, 2 Maret 2018. Sebanyak enam lembar kulit ...

TWA Camplong, Bukan TPA Camplo...

Camplong, 21 Februari 2018 “Ayo bergerak bersama”...

Partisipasi BBKSDA NTT di HMPI...

Kupang, 16 Desember 2017. Balai Besar KSDA Nusa T...

Kerjasama Pelestarian Kura-Kur...

Kupang, 28 September 2017 Dalam rangka Optimalisa...

Sosialisasi Perlindungan Rugu/...

Borong, 27  September 2017 Bertempat di Aula Dina...

Burung Beo dan Gigi Duyung Dia...

Kupang, 18 September 2017 Pada hari Senin tanggal...

Pembahasan Draft Role Model BB...

Kupang, 6 september 2017   BBKSDA NTT melaksanak...

Kerjasama Antara BBKSDA NTT da...

Kupang, 28 Agustus 2017. Bertempat di Kantor Bala...

Gubernur NTT di Stand Kehutana...

Kupang, 13 Agustus 2017 Gubernur NTT, Drs. Frans ...

Jelajah Sepeda Tahun 2017 di T...

Kupang, 13 Agustus 2017 Jelajah Sepeda Kompas 201...

Peringatan Hari Konservasi Ala...

Kupang, 10 Agustus 2017 Melalui Keppres Nomor 22 ...

Buaya Punya Kandang Baru

Kupang, 4 Agustus 2017 Buaya memiliki sifat 'homi...

Darurat Peredaran Tumbuhan dan...

Kupang, Februari 2017. Hanya dalam kurun waktu 2 ...

1 Ekor Buaya Betina Diamankan

Kupang, 9 Mei 2017. Menindaklanjuti laporan dari ...

Konservasi Penyu di TWA Menipo

Kupang, 19 Maret 2017. 150 ekor tukik hasil penet...