best joomla menu module
Call Center.pngStop Illegal.png
100_3258.JPG17 pulau.JPG20160721_161823.jpgDSC00453.JPGDSC00546.jpgDSC_0044.JPGDSC_0404.JPGDSC_0530.JPGDSC_0556.JPGDSC_0648.JPGDSC_0768.JPGDSC_0964.JPGIMG_3146.JPGIMG_5732.JPGIMG_6219.JPGIMG_6411.JPGP1020015.JPG_DSC0323.JPGwae wuul.JPG

 

Penetapan kawasan Cagar Alam (CA) Mutis Timau pertama kalinya adalah pada Tahun 1983 dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 89/Kpts-II/1983.  Yang terakhir adalah dengan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: SK.3911/MENHUT-VII/KUH/2014 tanggal 14 Mei 2014 tentang Kawasan Hutan dan Konservasi Perairan Provinsi NTT seluas ± 1.784.751 hentar termasuk didalamnya luas Cagar Alam Mutis Timau seluas 12.315,61 hektar dengan rincian yang berada di wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) seluas 9.888,78 Ha (80,29%) dan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) seluas 2.426,83 Ha (19,71%).

Kawasan CA Mutis Timau memiliki potensi wisata alam yaitu ekosistem pegunungan hutan hujan tropis yang didominasi oleh hutan ampupu (Eucalyptus urophylla)  yang beriklim sejuk pada ketinggian ± 2800 m dpl. Wilayah ini merupakan wilayah tertinggi di Pulau Timor dan merupakan satu-satunya kawasan hutan pegunungan yang memiliki daya tarik bagi  wisatawan baik mancanegara  maupun domestik di Pulau Timor.  Secara hidrologi  Cagar Alam Mutis Timau merupakan daerah tangkapan air di Pulau Timor dan terdapat dua sungai besar yang berhulu dari Gunung Mutis Timau yaitu daerah aliran sungai (DAS)  Benain  dan DAS Noelmina. Pada wilayah ini terdapat banyak sumber mata air yang selama ini dimanfaatkan oleh masyarakat untuk keperluan air  bersih, pengairan lahan pertanian, dan  pembangkit listrik tenaga mikro hidro.  Berbagai potensi dan aktivitas pemanfaatan ini tidak dapat diakomodir dalam kawasan CA Mutis Timau karena fungsinya saat ini terbatas hanya untuk perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan jenis tumbuhan dan satwa, penelitian, pendidikan dan kegiatan lainya yang menunjang budidaya.Oleh sebab itu maka diperlukan kegiatan evaluasi fungsi, yaitu serangkaian kegiatan untuk melakukan penilaian terhadap suatu kondisi yang sebelumnya telah ditetapkan kriterianya sebagai bahan penentuan kebijakan.

Dasar untuk melakukan evaluasi kesesuaian fungsi kawasan konservasi termasuk CA Mutis adalah Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor :P.49/Menhut-II/2014 tentang Tata Cara Pelaksanaan Evaluasi Kesesuaian Fungsi Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam.  Personil pelaksana untuk melaksanakan evaluasi kesesuaian fungsi adalah berdasarkan Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: SK. 371/Menlhk/KSDAE/KSA.0/8/2018 tanggal  31 Agustus 2018 tentang Pembentukan Tim Teknis Evaluasi Kesesuaian Fungsi Cagar Alam Mutis Timau Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Kabupaten Timor Tengah Utara Provinsi Nusa Tenggara Timor.  Beberapa kegiatan yang telah dilakukan adalah kegiatan pengambilan data lapangan yang telah dilaksanakan pada tanggal 16 s/d 22 November 2018. Dari hasil kegiatan lapangan, tim evaluasi kesesuaian fungsi sepakat bahwa 1). Cagar Alam  Mutis Timau harus tetap dipertahankan sebagai kawasan konservasi karena potensi keanekaragaman hayati yang dimiliki cukup tinggi, baik keanekaragaman ekosistem maupun spesies flora dan fauna yang khas; 2).Cagar Alam Mutis Timau telah dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan yang bertentangan dengan status kawasan sebagai cagar alam, yaitu pemanfaatan oleh masyarakat setempat, obyek wisata alam dan jasa lingkungan, oleh karena itu harus dialihfungsikan pada status kawasan konservasi lainnya yang dapat mengakomodir kepentingan tersebut.

Konsultasi publik pada wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan di Kota So’e yang telah dilakukan pada hari Kamis tanggal 29 November 2018 dan pada wilayah Kabupaten Timor Tengah Utara di Kota Kefamenanu pada hari Jumat tanggal 30 November 2018. Konsultasi publik tersebut telah dihadiri berbagai perwakilan peserta dari Bappeda, Dinas Pariwisata, Bagian Ekonomi SETDA, Kecamatan, KPH dan LSM setempat.  Hasil penting dari konsultasi publik tersebut adalah bahwa peserta konsultasi publik sepakat agar CA Mutis Timau  dialihfungsikan pada status kawasan konservasi lainnya yang dapat mengakomodir kepentingan masyarakat dan wisata alam. 

Setelah dilakukan konsultasi publik pada dua kabupaten TTU dan TTS maka dilakukan pembahasan draft laporan evaluasi kesesuaian fungsi pada tingkat pusat di ruang rapat Ditjen KSDAE di Gedung Manggala Wana Bakti pada hari Senin, tanggal 3 Desember 2018.  Rapat tersebut dipimpin oleh Direktur Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam (PIKA), Ibu Ir. Listya Kusumawardhani, M.Sc.  Pada saat rapat pembahasan tersebut dibahas mengenai kemungkinan alihfungsi kawasan CA Mutis Timau ke status kawasan konservasi lainnya yang dapat mengakomodir kepentingan masyarakat dan wisata alam. Namun satu hal yang paling prinsip adalah potensi keanekaragaman hayati harus tetap lestari lestari dengan adanya perubahan fungsi.  Perjuangan untuk alih fungsi masih belum berakhir. Apabila disetujui untuk alih fungsi maka akan ada kegiatan berikutnya, yaitu Evaluasi Fungsi Kawasan CA Mutis Timau yang akan menentukan apakah benar CA Mutis Timau perlu untuk berubah fungsinya ? Kalau benar maka status apakah yang lebih tepat ? Kita nantikan saja kabar selanjutnya ....

 

©Elisa Iswandono - BBKSDA NTT

Berita Terbaru

Gerakan Masyarakat Kota Ruteng...

Pada tanggal 25 Januari 2019 Balai Besar KSDA NT...

Penilaian METT Balai Besar KSD...

Dalam  rangka Pencapaian Target Indikator Kinerj...

Evaluasi Kesesuaian Fungsi Kaw...

  Penetapan kawasan Cagar Alam (CA) Mutis Timau p...

Simaksi dan SATS-DN Menuju Onl...

  Balai Besar KSDA Nusa Tenggara Timur diberi ama...

Mbou (Komodo) di Torong Padang

  Torong Padang, suatu tanjung di Utara Pulau Flo...

Ekosistem Blue Carbon di Batas...

    Ekosistem blue carbon adalah ekosistem diman...

Datang dan Bergema

  Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Te...

Samurai versus Buaya Pemakan M...

          Balai Besar KSDA NTT kedatangan seoran...

Bushcraft di Pulau Menipo

  Bushcraft adalah berkegiatan di alam bebas yang...

Sosialisasi Tumbuhan Dan Satwa...

            Pada sore hari di medio bulan Desembe...

Kabupaten Timor Tengah Selatan...

  Selama ini, kita mengenal Cagar Alam (CA) Mut...

Sio Manise Untuk Peningkatan P...

  Hasil diagnostic reading permasalahan pada Ba...

Analisis Pohon konflik TWA Rut...

Perambahan kawasan dan illegal logging TWA Ruteng ...

Perlindungan Habitat Komodo Be...

  Konsep Perlindungan Hutan Berbasis Ekosistem P...

Monitoring TSL (Ular) Usulan K...

Kupang, 7 Desember 2018 Wilayah kerja Balai Bes...

Pengamanan Kolaboratif TWA 17 ...

  Taman Wisata Alam (TWA) Tujuh Belas Pulau merup...

Rekreasi ke Camplong

  Kupang, 05/12/2018-Rekreasi, atau dulu kita bia...

Panduan Interpreter Wisata Ala...

  Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan ya...

Ruteng, The Refreshness of Flo...

Step on Flores land, it’s not only about the Kom...

Alam Spektakuler TWA Menipo

Memandang deburan ombak pantai selatan yang meng...

Ayo Wisata Bahari ke TWAL Telu...

TWAL Teluk Maumere juga dikenal dengan nama Gugu...

Eksotis dan Komplit, Wisata di...

Eksotis, kata yang mewakili Taman Wisata Alam La...

Pameran, Media Sosialisasi dan...

Pameran konservasi dilaksanakan dengan tujuan un...

Pentingnya Pembinaan Kader Kon...

    Telah menjadi kesadaran bersama bahwa kele...

Monitoring TSL (Burung) Usulan...

Kupang, 7 Desember 2018 Wilayah kerja Balai Besar...

Kunjungan TK Bintang Al Quran ...

“Awas tangannya.....” “Awas jarinya....” Kupang,...

Pilot Drone BBKSDA NTT

Kupang, 26 November 2018 Balai Besar KSDA NTT mer...

Konservasi Penyu TWA Menipo

  Perkembangan Konservasi Penyu di TWA Menipopada...

Konsultasi Publik Tapak TWA Ca...

Camplong, 14 November 2018 Pada hari Kamis, tangg...

FGD Tata Kelola PNBP TWAL G.P....

Maumere, 09 November 2018 Seksi Konservasi Wila...

Rescue Buaya Muara di Soliu

  Kupang, 2 November 2018 Pada tanggal 31 Oktobe...

Pemberdayaan Masyarakat di Des...

Maumere, 19 Oktober 2018. Balai Besar KSDA NTT m...

Pelatihan Penanganan Konflik M...

Kupang, 19 Oktober 2018. Dalam upaya mitigasi pe...

Guru Pemerhati KSDAE

Soe, 27 September 2018 Sebagai Unit Pelaksana Tek...

Konflik Satwa (Buaya) di Welul...

Maubesi, 17 September 2018 Pada tanggal 6 Septe...

Pemberdayaan Masyarakat Desa P...

BBKSDA NTT, 13 September 2018 Dalam pengelolaan T...

Upaya Pembangunan Karakter Gen...

BBKSDA NTT, 13 September 2018   Balai Besar KS...

Role Model Tanaman Obat Berbas...

BBKSDA NTT, 13 September 2018 Latar Belakang Tam...

Inventarisasi Masyarakat Tradi...

Riung, 12 September 2018 Taman Wisata Alam Laut (...

Penanganan Bangkai Paus Sperm...

Alor, 10 September 2018 Pada hari Senin,  tangg...

Nuri Diserahkan Sukarela di SK...

Maumere, 31 Agustus 2018 Balai Besar Konservasi...

Daging Penyu dan Lumba Lumba d...

Maumere, 31 Agustus 2018   Sebagai tindak lanj...

Penyerahan Satwa Secara Sukare...

Maumere, 28 Juni 2018 Balai Besar KSDA (BBKSDA) N...

Monitoring Penangkaran Ex-Situ...

Monitoring Penangkaran Ex-Situ Rusa Timor di Kota ...

Penyelamatan Komodo di Desa Ba...

Bari, 22 Juli 2018 Sehubungan dengan adanya inf...

Pengiriman Kulit Buaya dari Al...

Kupang, 2 Maret 2018. Sebanyak enam lembar kulit ...

TWA Camplong, Bukan TPA Camplo...

Camplong, 21 Februari 2018 “Ayo bergerak bersama”...

Partisipasi BBKSDA NTT di HMPI...

Kupang, 16 Desember 2017. Balai Besar KSDA Nusa T...

Kerjasama Pelestarian Kura-Kur...

Kupang, 28 September 2017 Dalam rangka Optimalisa...

Sosialisasi Perlindungan Rugu/...

Borong, 27  September 2017 Bertempat di Aula Dina...

Burung Beo dan Gigi Duyung Dia...

Kupang, 18 September 2017 Pada hari Senin tanggal...

Pembahasan Draft Role Model BB...

Kupang, 6 september 2017   BBKSDA NTT melaksanak...

Kerjasama Antara BBKSDA NTT da...

Kupang, 28 Agustus 2017. Bertempat di Kantor Bala...

Gubernur NTT di Stand Kehutana...

Kupang, 13 Agustus 2017 Gubernur NTT, Drs. Frans ...

Jelajah Sepeda Tahun 2017 di T...

Kupang, 13 Agustus 2017 Jelajah Sepeda Kompas 201...

Peringatan Hari Konservasi Ala...

Kupang, 10 Agustus 2017 Melalui Keppres Nomor 22 ...

Buaya Punya Kandang Baru

Kupang, 4 Agustus 2017 Buaya memiliki sifat 'homi...

Darurat Peredaran Tumbuhan dan...

Kupang, Februari 2017. Hanya dalam kurun waktu 2 ...

1 Ekor Buaya Betina Diamankan

Kupang, 9 Mei 2017. Menindaklanjuti laporan dari ...

Konservasi Penyu di TWA Menipo

Kupang, 19 Maret 2017. 150 ekor tukik hasil penet...