best joomla menu module
Call Center.pngStop Illegal.png
100_3258.JPG17 pulau.JPG20160721_161823.jpgDSC00453.JPGDSC00546.jpgDSC_0044.JPGDSC_0404.JPGDSC_0530.JPGDSC_0556.JPGDSC_0648.JPGDSC_0768.JPGDSC_0964.JPGIMG_3146.JPGIMG_5732.JPGIMG_6219.JPGIMG_6411.JPGP1020015.JPG_DSC0323.JPGwae wuul.JPG

 

Penyambutan Kepala Balai Besar KSDA NTT

Malaka, 14 September 2019

Dengan iringan petikan dawai dan nyanyian tradisional dari Tokoh Adat Rasiwi, Kantor RKW CA Hutan Bakau Maubesi menjadi saksi bisu pertemuan Kepala BBKSDA NTT (Ir. Timbul Batubara, M.Si) dengan parapihak terkait. Selama 3 (tiga) hari sejak tanggal 13 s/d 15 September 2019 Kepala BBKSDA NTT melaksanakan kunjungan kerja di wilayah kerja SKW I, khususnya di RKW CA Hutan Bakau Maubesi (Wemasa, Kabupaten Malaka). Dengan didampingi Kepala Bidang KSDA Wilayah I, Kepala SKW I beserta personil terkait, Kepala BBKSDA NTT melaksanakan pembinaan pegawai, pertemuan parapihak, dan peninjauan ke kawasan CA Hutan Bakau Maubesi.

Dalam pembinaan pegawai untuk personil RKW CA Hutan Bakau Maubesi dan RKW SM Kateri, Kepala Balai Besar KSDA NTT menyampaikan arahan sebagai berikut :

  1. Personil resort harus kompak serta bekerja dengan ikhlas, kreatif, dan berjiwa inovatif sehingga dapat menghadapi dan menjawab permasalahan-permasalahan yang dijumpai di lapangan;
  2. Konsep pengelolaan kawasan konservasi berbasis tiga pilar arus dipahami dengan utuh dan dapat diimplementasikan dengan baik, sehingga kekuatan masyarakat adat, agama, dan pemerintah setempat bersinergi baik dengan Balai Besar KSDA NTT untuk mendukung pelestarian kawasan konservasi yang dikelola. Identifikasi tokoh kunci penting dilakukan karena kekuatan komunitas yang dapat mendukung konservasi sesungguhnya berada pada mereka;
  3. Pejabat fungsional agar menyusun DUPAK dengan baik sebagai penentu karir (syarat pengusulan kenaikan pangkat dan jabatan);
  4. Keterbatasan sumber anggaran kegiatan konservasi sumber daya alam dan ekosistem dapat diatasi dengan pendekatan dan usulan-usulan kreatif untuk menggali peran pihak-pihak lain yang dapat menjadi mitra kerja, baik lembaga pemerintah, perbankan, maupun BUMN, BUMDES, dll;
  5. Usulan pemenuhan kebutuhan sarana pengelolaan (keperluan survey, dll) harus diikuti dengan kemampuan personil dalam operasionalnya;
  6. Setiap usulan kegiatan baik yang bersifat kegiatan teknis maupun perlengkapan harus mempertimbangkan skala prioritas dengan disertai dokumen pendukung sebagai bahan pertimbangan. Pemenuhan kebutuhan tidak harus mengandalkan dari APBN (DIPA Balai Besar KSDA NTT) tetapi terbuka kesempatan menggunakan sumber dana dari kemitraan dengan Pihak Ketiga.

               Lokasi       : Kantor Resort Konservasi Wilayah CA Maubesi

Undangan Yang Hadir :

 

1.

Kepala Balai Besar KSDA NTT

12.

Kepala Desa Barada

2.

Kepala Bidang KSDA Wil I

13.

Kepala desa kakekun Barat

3.

Danramil Malaka Tengah

14.

Kepala Desa Lakekun Induk

4.

Kepala KPH Malaka

15.

Kepa;a Desa Lakekun Utara

5.

Kepala SKW I Atambua

16.

Kepala desa Kamanasa

6.

Tua Adat Uma Tasi di Kletek

17.

Kepala desa Fahiluka

7.

Tua Adat Resiwi di Lawalu

18.

Kepala desa Rainawe

8.

Tua Adat Uma Lita di Kada

19.

Kepala Desa Lawalu

9.

Kepala Desa Lita Mali

20.

Kepala Desa Bereliku

10.

Kepala desa Kletek

21.

Anggota MMP CA Maubesi10 orang

11.

Kepala desa Railor

22.

 Anggota MMP SM Kateri10 orang

 

Pertemuan parapihak yang berlangsung dalam suasana kekeluargaan merupakan  implementasi penguatan pengeloaan kawasan konservasi berbasis tiga pilar, yaitu Adat, Agama, dan Pemerintah. Parapihak tersebut yaitu Danramil Malaka Tengah, Kepala KPH Malaka, Tetua Adat (Uma Tasi di Kletek, Rasiwi di Lawalu, dan Uma Lita di Kada), kepala desa (Desa Lita Mali, Desa Kletek, Desa Railor, Desa Barada, Desa Kakeun Barat, Desa Lakekun Induk, Desa Lakekun Utara, Desa Kamanasa, Desa Fahiluka, Desa Lawalu, Desa Rainawe, dan Desa Lawalu), dan MMP (CA Hutan Bakau Maubesi dan SM Kateri). Dalam arahannya dan memperhatikan saran dan usulan dari para tokoh adat yang hadir, Kepala BBKSDA NTT menyampaikan sebagai berikut :

  1. Penunjukan dan penetapan Hutan Bakau Maubesi menjadi Cagar Alam dilatarbelakangi oleh potensi hayati maupun ekosistem yang perlu dilestarikan agar bermanfaat untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan kebudayaan;
  2. Penunjukan dan penetapan areal hutan Kateri sebagai Suaka Margasatwa, mempunyai fungsi lindung untuk pengaturan tata air, pencegahan bahaya banjir, tanah longsor dan erosi dan merupakan hutan primer dengan berbagai jenis flora dan merupakan habitat satwa liar seperti Rusa timor, kuskus, kera, dan berbagai jenis burung, sehingga perlu dibina kelestariannya untuk kepentingan ilmu pengetahuan, pendidikan dan kebudayaan;
  3. Pemanfaatan hutan bakau oleh masyarakat dilakukan secara lestari melalui kreativitas dan inovasi agar terjaga kelestariannya. Pengembangan lebah madu pada hutan bakau bukan hal yang mustahil, bahkan jika dikelola dengan baik bernilai ekonomis yang sangat tinggi. Demikian pula inovasi pembuatan makanan ringan dengan memanfaatkan buah bakau diolah menjadi makanan ringan;
  4. Balai Besar KSDA NTT menyampaikan penghargaan dan terimakasih setinggi-tingginya kepada para tetua adat yang selama ini telah berperan dalam mengatasi permasalahan konflik buaya dan manusia. Mengatasi permasalahan konflik buaya dan manusia memang harus dilakukan dengan bijkasana, kehidupan manusia lebih penting namun keberadaan buaya sebagai bagian dari ekosistem suatu kawasan juga penting. Kepercayaan mengenai buaya sejak dahulu dan sudah dilantunkan nenek moyang, dengan demikian nilai-nilai lokal ini harus terus diharagai;
  5. Penanganan sampah di dalam kawasan hutan konservasi dapat dilakukan melalui upaya koordinasi dan komunikasi dengan pemerintah daerah setempat, sehingga dapat terselesaikan dengan baik;
  6. Peningkatan kesejahteraan atau penciptaan peluang-peluang usaha di masyarakat dapat dilakukan melalui pengeloaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) masing-masing desa.  BUMDES bisa menggunakan kesempatan untuk bekerja sama dengan lembaga2 keuangan yang ada di Kabupaten setempat, melalui CSR pada masing-masing lembaga yang ada.
  7. Masyarakat Mitra Polhut (MMP) diharapkan dapat berkonstribusi nyata dalam upaya perlindungan kawasan Ca Maubesi dan SM Kateri. Peran serta MMP tidak hanya dalam bentuk patroli bersama petugas resort BBKSDA, namun juga agar kreatif dan senantiasa menyampaikan pesan konservasi kepada masyarakat tentang pentingnya pelestarian kawasan CA Maubesi dan SM Kateri.

Agenda pertemuan ini merupakan sesuatu yang sangat bersejarah mengingat selama beberapa tahun terakhir ini belum ada pertemuan yang melibatkan unsur 3 Pilar di kawasan CA Hutan Bakau Maubesi dan SM Kateri. Sebagai penutup, Kepala BBKSDA NTT dan Danramil Malaka Tengah menyerahkan personal use secara simbolis kepada Anggota MMP.

 

©Errys Mart, S.Pi. – BBKSDA NTT

 

Berita Terbaru

Upaya Penyelamatan Paus Pilot

 Identifikasi dan Pengukuran Paus Pilot Maumere...

Kunjungan Kepala BBKSDA NTT di...

  Penyambutan Kepala Balai Besar KSDA NTT Mala...

Patroli Merah Putih di Batas N...

Atambua,  Agustus 2019 Presiden Republik Indone...

Workshop Pelestarian Penyu

  Maumere, 19 Juli 2019. Dalam rangka menjaga...

Komodo Kembali Ke Habitatnya D...

 Persiapan Pelepasliaran Komodo di Pulau Oentolo...

Kunjungan Sekda Provinsi NTT k...

 Sekda Provinsi NTT beserta rombongan dan Petuga...

Melepasliar Sanca Timor di Hut...

Pelepasliaran Sanca Timor di Hutan Egon Ilemedo ...

BBKSDA NTT sajikan KOPIKO di d...

Kepala BBKSDA NTT (Peci Hitam) Didampingi Pejaba...

Penemuan Bangkai Lumba-lumba d...

Maumere, 30 Juni 2019 Pada hari Minggu tanggal ...

Menyelamatkan Komodo Yang Masu...

Kupang, 2 Juli 2019 Balai Besar KSDA NTT melalu...

Evakuasi Dramatis Buaya Muara ...

  Kupang, 1 Juli 2019 Balai Besar KSDA NTT mel...

Repatriasi Kura-kura Leher Ula...

Pict. Kepala BBKSDA NTT dan Direktur WCS-IP Kup...

Gerakan Masyarakat Kota Ruteng...

Pada tanggal 25 Januari 2019 Balai Besar KSDA NT...

Hari Peduli Sampah Nasional (H...

Gubernur NTT dan Kepala BBKSDA NTT Senin, 4 Mar...

Penilaian METT Balai Besar KSD...

Dalam  rangka Pencapaian Target Indikator Kinerj...

Evaluasi Kesesuaian Fungsi Kaw...

  Penetapan kawasan Cagar Alam (CA) Mutis Timau p...

Simaksi dan SATS-DN Menuju Onl...

  Balai Besar KSDA Nusa Tenggara Timur diberi ama...

Mbou (Komodo) di Torong Padang

  Torong Padang, suatu tanjung di Utara Pulau Flo...

Ekosistem Blue Carbon di Batas...

    Ekosistem blue carbon adalah ekosistem diman...

Datang dan Bergema

  Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Te...

Samurai versus Buaya Pemakan M...

          Balai Besar KSDA NTT kedatangan seoran...

Bushcraft di Pulau Menipo

  Bushcraft adalah berkegiatan di alam bebas yang...

Sosialisasi Tumbuhan Dan Satwa...

            Pada sore hari di medio bulan Desembe...

Kabupaten Timor Tengah Selatan...

  Selama ini, kita mengenal Cagar Alam (CA) Mut...

Sio Manise Untuk Peningkatan P...

  Hasil diagnostic reading permasalahan pada Ba...

Analisis Pohon konflik TWA Rut...

Perambahan kawasan dan illegal logging TWA Ruteng ...

Perlindungan Habitat Komodo Be...

  Konsep Perlindungan Hutan Berbasis Ekosistem P...

Monitoring TSL (Ular) Usulan K...

Kupang, 7 Desember 2018 Wilayah kerja Balai Bes...

Pengamanan Kolaboratif TWA 17 ...

  Taman Wisata Alam (TWA) Tujuh Belas Pulau merup...

Rekreasi ke Camplong

  Kupang, 05/12/2018-Rekreasi, atau dulu kita bia...

Panduan Interpreter Wisata Ala...

  Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan ya...

Ruteng, The Refreshness of Flo...

Step on Flores land, it’s not only about the Kom...

Alam Spektakuler TWA Menipo

Memandang deburan ombak pantai selatan yang meng...

Ayo Wisata Bahari ke TWAL Telu...

TWAL Teluk Maumere juga dikenal dengan nama Gugu...

Eksotis dan Komplit, Wisata di...

Eksotis, kata yang mewakili Taman Wisata Alam La...

Pameran, Media Sosialisasi dan...

Pameran konservasi dilaksanakan dengan tujuan un...

Pentingnya Pembinaan Kader Kon...

    Telah menjadi kesadaran bersama bahwa kele...

Monitoring TSL (Burung) Usulan...

Kupang, 7 Desember 2018 Wilayah kerja Balai Besar...

Kunjungan TK Bintang Al Quran ...

“Awas tangannya.....” “Awas jarinya....” Kupang,...

Pilot Drone BBKSDA NTT

Kupang, 26 November 2018 Balai Besar KSDA NTT mer...

Konservasi Penyu TWA Menipo

  Perkembangan Konservasi Penyu di TWA Menipopada...

Konsultasi Publik Tapak TWA Ca...

Camplong, 14 November 2018 Pada hari Kamis, tangg...

FGD Tata Kelola PNBP TWAL G.P....

Maumere, 09 November 2018 Seksi Konservasi Wila...

Rescue Buaya Muara di Soliu

  Kupang, 2 November 2018 Pada tanggal 31 Oktobe...

Pemberdayaan Masyarakat di Des...

Maumere, 19 Oktober 2018. Balai Besar KSDA NTT m...

Pelatihan Penanganan Konflik M...

Kupang, 19 Oktober 2018. Dalam upaya mitigasi pe...

Guru Pemerhati KSDAE

Soe, 27 September 2018 Sebagai Unit Pelaksana Tek...

Konflik Satwa (Buaya) di Welul...

Maubesi, 17 September 2018 Pada tanggal 6 Septe...

Pemberdayaan Masyarakat Desa P...

BBKSDA NTT, 13 September 2018 Dalam pengelolaan T...

Upaya Pembangunan Karakter Gen...

BBKSDA NTT, 13 September 2018   Balai Besar KS...

Role Model Tanaman Obat Berbas...

BBKSDA NTT, 13 September 2018 Latar Belakang Tam...

Inventarisasi Masyarakat Tradi...

Riung, 12 September 2018 Taman Wisata Alam Laut (...

Penanganan Bangkai Paus Sperm...

Alor, 10 September 2018 Pada hari Senin,  tangg...

Nuri Diserahkan Sukarela di SK...

Maumere, 31 Agustus 2018 Balai Besar Konservasi...

Daging Penyu dan Lumba Lumba d...

Maumere, 31 Agustus 2018   Sebagai tindak lanj...

Penyerahan Satwa Secara Sukare...

Maumere, 28 Juni 2018 Balai Besar KSDA (BBKSDA) N...

Monitoring Penangkaran Ex-Situ...

Monitoring Penangkaran Ex-Situ Rusa Timor di Kota ...

Penyelamatan Komodo di Desa Ba...

Bari, 22 Juli 2018 Sehubungan dengan adanya inf...

Pengiriman Kulit Buaya dari Al...

Kupang, 2 Maret 2018. Sebanyak enam lembar kulit ...

TWA Camplong, Bukan TPA Camplo...

Camplong, 21 Februari 2018 “Ayo bergerak bersama”...

Partisipasi BBKSDA NTT di HMPI...

Kupang, 16 Desember 2017. Balai Besar KSDA Nusa T...

Kerjasama Pelestarian Kura-Kur...

Kupang, 28 September 2017 Dalam rangka Optimalisa...

Sosialisasi Perlindungan Rugu/...

Borong, 27  September 2017 Bertempat di Aula Dina...

Burung Beo dan Gigi Duyung Dia...

Kupang, 18 September 2017 Pada hari Senin tanggal...

Pembahasan Draft Role Model BB...

Kupang, 6 september 2017   BBKSDA NTT melaksanak...

Kerjasama Antara BBKSDA NTT da...

Kupang, 28 Agustus 2017. Bertempat di Kantor Bala...

Gubernur NTT di Stand Kehutana...

Kupang, 13 Agustus 2017 Gubernur NTT, Drs. Frans ...

Jelajah Sepeda Tahun 2017 di T...

Kupang, 13 Agustus 2017 Jelajah Sepeda Kompas 201...

Peringatan Hari Konservasi Ala...

Kupang, 10 Agustus 2017 Melalui Keppres Nomor 22 ...

Buaya Punya Kandang Baru

Kupang, 4 Agustus 2017 Buaya memiliki sifat 'homi...

Darurat Peredaran Tumbuhan dan...

Kupang, Februari 2017. Hanya dalam kurun waktu 2 ...

1 Ekor Buaya Betina Diamankan

Kupang, 9 Mei 2017. Menindaklanjuti laporan dari ...

Konservasi Penyu di TWA Menipo

Kupang, 19 Maret 2017. 150 ekor tukik hasil penet...