best joomla menu module
Call Center.pngStop Illegal.png
100_3258.JPG17 pulau.JPG20160721_161823.jpgDSC00453.JPGDSC00546.jpgDSC_0044.JPGDSC_0404.JPGDSC_0530.JPGDSC_0556.JPGDSC_0648.JPGDSC_0768.JPGDSC_0964.JPGIMG_3146.JPGIMG_5732.JPGIMG_6219.JPGIMG_6411.JPGP1020015.JPG_DSC0323.JPGwae wuul.JPG

 

Kupang, 15 Oktober 2019

 

 

 

Pada Senin (14 Oktober 2019), Balai Besar KSDA NTT melangsungkan audiensi dengan para jurnalis untuk menyampaikan informasi mengenai Festival Menipo 2019, yang merupakan bagian dari Role Model Pengembangan Ekowisata TWA Menipo Berbasis Tiga Pilar (adat, agama dan pemerintah). Di depan para rekan media, Kepala Balai Besar KSDA NTT (Ir. Timbul Batubara, M.Si) menyampaikan bahwa guna meningkatkan pengelolaan TWA Menipo, pada tahun 2019 ini Balai Besar KSDA NTT melaksanakan Pengembangan Ekowisata TWA Menipo Berbasis Tiga Pilar (adat, agama dan pemerintah). Tujuan Role Model ini adalah untuk menggugah kesadaran sikap, perilaku dan partisipasi masyarakat serta peran kelompok adat, agama dan pemerintah dalam peningkatan pengelolaan ekowisata di TWA Menipo dengan dilengkapi sarana dan prasarana pendukung sehingga berdampak pada adanya kunjungan wisata domestik maupun asing yang berkunjung ke TWA Menipo secara berkesinambungan.

 

 

 

Pengembangan ekowisata ini berbasis tiga pilar, artinya dalam peranan/tindakan, SOP dan sumber dayanya berasal dari tiga pilar.  Kelompok adat berperan dengan mengeluarkan aturan adat yang mendukung pengelolaan ekowisata TWA Menipo. Pemerintah desa Enoraen telah memberikan dukungan pengembangan ekowisata dengan pembangunan pondok wisata yang saat ini sedang dalam tahap pembangunan. Dukungan dari kelompok agama adalah dukungan secara keimanan yang akan terus mengingatkan untuk melestarikan TWA Menipo sebagai bagian dari ibadah kepada Tuhan. Salah satu implementasinya adalah pada akhir bulan Oktober ini rencananya akan dibentuk “keluarga ekologis”.  Keluarga ekologis ini bertujuan sebagai wadah bagi kelompok agama di Menipo dalam berperan melestarikan TWA Menipo melalui berbagai aksi konservasi dalam rangkaian ibadah. Pada Bulan Oktober ini juga akan diadakan pertemuan SKPD terkait di Pulau Menipo untuk membahas mengenai peranan berbagai stakeholder dalam pengembangan ekowisata di Menipo.

 

 

 

Puncak acara dari role model ini adalah akan digelarnya Festival Menipo yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, sikap, perilaku dan partisipasi masyarakat serta peran kelompok tiga pilar dalam pengembangan ekowisata di Menipo. Acara tersebut akan berlangsung pada bulan November 2019, yang rangkaian kegiatannya telah dimulai sebelumnya dengan pelaksanaan agenda, yaitu :

 

a.      Pengembangan ekonomi kreatif

 

b.      Lomba fotografi

 

c.       Lomba melukis

 

d.      Lomba mewarnai untuk siswa TK dan SD

 

e.      Pembentukan keluarga ekologis di TWA Menipo

 

f.        Pembuatan jalur hijau dengan penanaman pohon bebuahan di wilayah daerah penyangga Desa Enoraen, Kecamatan Amarasi Timur, Kabupaten Kupang.

 

g.      Karnaval Menipo di kegiatan Car Free Day pada hari Sabtu Tanggal 9 November 2019.

 

h.      Puncak Perayaan Festival Menipo pada Tanggal 12 November 2019.

 

 

 

Taman Wisata Alam (TWA) Menipo-Kabupaten Kupang memiliki luas 2.449,50 hektar, persisnya berlokasi di tepi timur bagian selatan wilayah Kabupaten Kupang. Jaraknya dari Kota Kupang sekitar 119 km bila melalui jalur Oesao-Oekabiti-Ponain-Tesbatan-Bikoen atau 124 km bila melewati Batuputih di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Pada wilayah utara Pulau Menipo merupakan pulau utama, yaitu Pulau Timor, yang secara administratif merupakan bagian dari wilayah Desa Enoraen, Kecamatan Amarasi Timur, Kabupaten Kupang. 

 

 

 

Sebelum menjadi TWA, status Menipo  ditunjuk sebagai suaka margasatwa (SM) dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 749/Kpts/Um/12/1997 tanggal 30 Desember 1977.  Penunjukkan ini dilakukan dengan mempertimbangkan bahwa wilayah Menipo merupakan habitat satwa liar seperti: rusa, dara laut, angsa laut, dll. 

 

 

 

TWA Menipo merupakan miniatur ekosistem yang ada di Pulau Timor yang meliputi beberapa ekosistem, yaitu hutan Mangrove, padang savana dengan pohon lontar, pantai pendaratan penyu, habitat buaya muara dan hutan tropika kering. Sebagian wilayah merupakan pulau kecil seluas 571 hektar, dengan panjang  7328 meterdan lebar 700 meter. Wilayah ini penting secara konservasi karena merupakan habitat satwa langka yang hidup di pulau kecil yang terisolir dari daratan utama Pulau Timor dan merupakan habitat satwa dan burung-burung laut pada pasang surut. Satwa langka yang hidup di wilayah daratan pulau ini adalah kakatua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea parvula) dan rusa timor (Rusa timorensis). Pada wilayah perairan di sekitarnya, Pulau Menipo hidup buaya muara (Crocodylus porosus) dan pada wilayah pantai merupakan nesting site dari penyu lekang (Lephidochelys olivacea), penyu sisik (Erecmohelys imbricata) dan penyu hijau (chelonia mydas).

 

 

 

©Elisa Iswandono – BBKSDA NTT

 

© Dewi Indriasari – BBKSDA NTT

 

Berita Terbaru

Serunya Penyuluhan TSL di Maum...

Maumere, 26 November 2019 Pendidikan koservasi ...

Festival Menipo 2019

  Kupang, 15 Oktober 2019       Pada Senin ...

SRAK Biawak Komodo

Kupang, 16 Oktober 2019 Pada tanggal 15 Oktober...

Jemboreng ke TWA Menipo

Kupang, 1 November 2019 Menipo, “pulau” yang se...

Upaya Penyelamatan Paus Pilot

 Identifikasi dan Pengukuran Paus Pilot Maumere...

Kunjungan Kepala BBKSDA NTT di...

  Penyambutan Kepala Balai Besar KSDA NTT Mala...

Patroli Merah Putih di Batas N...

Atambua,  Agustus 2019 Presiden Republik Indone...

Workshop Pelestarian Penyu

  Maumere, 19 Juli 2019. Dalam rangka menjaga...

Komodo Kembali Ke Habitatnya D...

 Persiapan Pelepasliaran Komodo di Pulau Oentolo...

Kunjungan Sekda Provinsi NTT k...

 Sekda Provinsi NTT beserta rombongan dan Petuga...

Melepasliar Sanca Timor di Hut...

Pelepasliaran Sanca Timor di Hutan Egon Ilemedo ...

BBKSDA NTT sajikan KOPIKO di d...

Kepala BBKSDA NTT (Peci Hitam) Didampingi Pejaba...

Penemuan Bangkai Lumba-lumba d...

Maumere, 30 Juni 2019 Pada hari Minggu tanggal ...

Menyelamatkan Komodo Yang Masu...

Kupang, 2 Juli 2019 Balai Besar KSDA NTT melalu...

Evakuasi Dramatis Buaya Muara ...

  Kupang, 1 Juli 2019 Balai Besar KSDA NTT mel...

Repatriasi Kura-kura Leher Ula...

Pict. Kepala BBKSDA NTT dan Direktur WCS-IP Kup...

Gerakan Masyarakat Kota Ruteng...

Pada tanggal 25 Januari 2019 Balai Besar KSDA NT...

Hari Peduli Sampah Nasional (H...

Gubernur NTT dan Kepala BBKSDA NTT Senin, 4 Mar...

Penilaian METT Balai Besar KSD...

Dalam  rangka Pencapaian Target Indikator Kinerj...

Evaluasi Kesesuaian Fungsi Kaw...

  Penetapan kawasan Cagar Alam (CA) Mutis Timau p...

Simaksi dan SATS-DN Menuju Onl...

  Balai Besar KSDA Nusa Tenggara Timur diberi ama...

Mbou (Komodo) di Torong Padang

  Torong Padang, suatu tanjung di Utara Pulau Flo...

Ekosistem Blue Carbon di Batas...

    Ekosistem blue carbon adalah ekosistem diman...

Datang dan Bergema

  Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Te...

Samurai versus Buaya Pemakan M...

          Balai Besar KSDA NTT kedatangan seoran...

Bushcraft di Pulau Menipo

  Bushcraft adalah berkegiatan di alam bebas yang...

Sosialisasi Tumbuhan Dan Satwa...

            Pada sore hari di medio bulan Desembe...

Kabupaten Timor Tengah Selatan...

  Selama ini, kita mengenal Cagar Alam (CA) Mut...

Sio Manise Untuk Peningkatan P...

  Hasil diagnostic reading permasalahan pada Ba...

Analisis Pohon konflik TWA Rut...

Perambahan kawasan dan illegal logging TWA Ruteng ...

Perlindungan Habitat Komodo Be...

  Konsep Perlindungan Hutan Berbasis Ekosistem P...

Monitoring TSL (Ular) Usulan K...

Kupang, 7 Desember 2018 Wilayah kerja Balai Bes...

Pengamanan Kolaboratif TWA 17 ...

  Taman Wisata Alam (TWA) Tujuh Belas Pulau merup...

Rekreasi ke Camplong

  Kupang, 05/12/2018-Rekreasi, atau dulu kita bia...

Panduan Interpreter Wisata Ala...

  Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan ya...

Ruteng, The Refreshness of Flo...

Step on Flores land, it’s not only about the Kom...

Alam Spektakuler TWA Menipo

Memandang deburan ombak pantai selatan yang meng...

Ayo Wisata Bahari ke TWAL Telu...

TWAL Teluk Maumere juga dikenal dengan nama Gugu...

Eksotis dan Komplit, Wisata di...

Eksotis, kata yang mewakili Taman Wisata Alam La...

Pameran, Media Sosialisasi dan...

Pameran konservasi dilaksanakan dengan tujuan un...

Pentingnya Pembinaan Kader Kon...

    Telah menjadi kesadaran bersama bahwa kele...

Monitoring TSL (Burung) Usulan...

Kupang, 7 Desember 2018 Wilayah kerja Balai Besar...

Kunjungan TK Bintang Al Quran ...

“Awas tangannya.....” “Awas jarinya....” Kupang,...

Pilot Drone BBKSDA NTT

Kupang, 26 November 2018 Balai Besar KSDA NTT mer...

Konservasi Penyu TWA Menipo

  Perkembangan Konservasi Penyu di TWA Menipopada...

Konsultasi Publik Tapak TWA Ca...

Camplong, 14 November 2018 Pada hari Kamis, tangg...

FGD Tata Kelola PNBP TWAL G.P....

Maumere, 09 November 2018 Seksi Konservasi Wila...

Rescue Buaya Muara di Soliu

  Kupang, 2 November 2018 Pada tanggal 31 Oktobe...

Pemberdayaan Masyarakat di Des...

Maumere, 19 Oktober 2018. Balai Besar KSDA NTT m...

Pelatihan Penanganan Konflik M...

Kupang, 19 Oktober 2018. Dalam upaya mitigasi pe...

Guru Pemerhati KSDAE

Soe, 27 September 2018 Sebagai Unit Pelaksana Tek...

Konflik Satwa (Buaya) di Welul...

Maubesi, 17 September 2018 Pada tanggal 6 Septe...

Pemberdayaan Masyarakat Desa P...

BBKSDA NTT, 13 September 2018 Dalam pengelolaan T...

Upaya Pembangunan Karakter Gen...

BBKSDA NTT, 13 September 2018   Balai Besar KS...

Role Model Tanaman Obat Berbas...

BBKSDA NTT, 13 September 2018 Latar Belakang Tam...

Inventarisasi Masyarakat Tradi...

Riung, 12 September 2018 Taman Wisata Alam Laut (...

Penanganan Bangkai Paus Sperm...

Alor, 10 September 2018 Pada hari Senin,  tangg...

Nuri Diserahkan Sukarela di SK...

Maumere, 31 Agustus 2018 Balai Besar Konservasi...

Daging Penyu dan Lumba Lumba d...

Maumere, 31 Agustus 2018   Sebagai tindak lanj...

Penyerahan Satwa Secara Sukare...

Maumere, 28 Juni 2018 Balai Besar KSDA (BBKSDA) N...

Monitoring Penangkaran Ex-Situ...

Monitoring Penangkaran Ex-Situ Rusa Timor di Kota ...

Penyelamatan Komodo di Desa Ba...

Bari, 22 Juli 2018 Sehubungan dengan adanya inf...

Pengiriman Kulit Buaya dari Al...

Kupang, 2 Maret 2018. Sebanyak enam lembar kulit ...

TWA Camplong, Bukan TPA Camplo...

Camplong, 21 Februari 2018 “Ayo bergerak bersama”...

Partisipasi BBKSDA NTT di HMPI...

Kupang, 16 Desember 2017. Balai Besar KSDA Nusa T...

Kerjasama Pelestarian Kura-Kur...

Kupang, 28 September 2017 Dalam rangka Optimalisa...

Sosialisasi Perlindungan Rugu/...

Borong, 27  September 2017 Bertempat di Aula Dina...

Burung Beo dan Gigi Duyung Dia...

Kupang, 18 September 2017 Pada hari Senin tanggal...

Pembahasan Draft Role Model BB...

Kupang, 6 september 2017   BBKSDA NTT melaksanak...

Kerjasama Antara BBKSDA NTT da...

Kupang, 28 Agustus 2017. Bertempat di Kantor Bala...

Gubernur NTT di Stand Kehutana...

Kupang, 13 Agustus 2017 Gubernur NTT, Drs. Frans ...

Jelajah Sepeda Tahun 2017 di T...

Kupang, 13 Agustus 2017 Jelajah Sepeda Kompas 201...

Peringatan Hari Konservasi Ala...

Kupang, 10 Agustus 2017 Melalui Keppres Nomor 22 ...

Buaya Punya Kandang Baru

Kupang, 4 Agustus 2017 Buaya memiliki sifat 'homi...

Darurat Peredaran Tumbuhan dan...

Kupang, Februari 2017. Hanya dalam kurun waktu 2 ...

1 Ekor Buaya Betina Diamankan

Kupang, 9 Mei 2017. Menindaklanjuti laporan dari ...

Konservasi Penyu di TWA Menipo

Kupang, 19 Maret 2017. 150 ekor tukik hasil penet...