best joomla menu module
Call Center.pngStop Illegal.png
100_3258.JPG17 pulau.JPG20160721_161823.jpgDSC00453.JPGDSC00546.jpgDSC_0044.JPGDSC_0404.JPGDSC_0530.JPGDSC_0556.JPGDSC_0648.JPGDSC_0768.JPGDSC_0964.JPGIMG_3146.JPGIMG_5732.JPGIMG_6219.JPGIMG_6411.JPGP1020015.JPG_DSC0323.JPGwae wuul.JPG

 

 

Ekosistem blue carbon adalah ekosistem dimana di dalamnya terdapat mekanisme penangkapan dan penyimpanan karbon atau carbon sequestration berupa karbon yang ditangkap dan disimpan oleh ekosistem laut dan ekosistem pesisir. karbon tersebut ditangkap dan disimpan oleh organisme hidup di dalam lautan dan disisihkan dalam bentuk biomass dan sedimentasi dari ekosistem mangrove (bakau), ekosistem pasang surut perairan air asin di pesisir pantai, ekosistem padang lamun dan potensial organisme alga (Nelleman et al., 2009).

Blue carbon mewakili keberadaan karbon yang terkandung di dalam ekosistem laut dan ekosistem perairan, berbeda dengan keberadaan karbon di dalam ekosistem yang biasa kita kenal seperti misalnya ekosistem hutan. Maka, meskipun habitat tumbuhan atau vegetasi ekosistem laut menutupi hanya sekitar 0,5 % permukaan dasar laut, penyimpanan karbon ini meliputi lebih dari 50 % dan bahkan bisa mencapai sampai dengan 70 % keseluruhan simpanan carbon yang ditemukan berada di dalam endapan permukaan dasar lautan (Nelleman, 2009).

Sebenarnya istilah ‘ekosistem blue carbon’ sendiri adalah mengacu kepada tiga tipe habitat vegetasi di perairan pantai,  yaitu : mangrove, Salt marshes atau daerah pasang surut perairan asin, dan padang lamun, serta peran keseluruhan tipe ekosistem tersebut di dalam putaran karbon dunia.

Dalam sudut pandang blue carbon, ketiga tipe ekosistem ini memiliki ciri-ciri utama berupa tingginya tingkat kandungan karbon yang terkubur di dalamnya dan memiliki kelebihan sehingga mencapai sampai dengan 40 kali lipat kandungan karbon yang dimiliki oleh sistem penyimpanan pada jenis ekosistem daratan (Mcleod, 2010).

Mangrove merupakan hutan yang selalu hijau sepanjang tahun –evergreen-  umumnya tumbuh mulai dari ketinggian sejajar tinggi permukaan air laut sehingga sampai dengan ketinggian daratan sejauh permukaan pasang laut tertinggi atau highest astronomical tide (HAT).  Setidaknya hampir sejumlah 40 jenis spesies pohon mangrove sejati ditemukan pada kawasan segitiga coral (Tomlisson, 1987). Spesies tersebut ditemukan di tiga zona utama, yaitu zona tepi laut, zona pertengahan atau mesozone dan zona tepi daratan. Daerah perbatasan atau peralihan mangrove menuju daratan yang lebih tinggi merupakan tempat muasal bagi jenis pohon dan habitus semak yang disebut sebagai jenis tumbuhan asosiasi mangrove, seperti misalnya yang ditemukan pada hutan rawa daratan rendah  (Tomascik et al., 1997).

Indonesia memiliki sejarah kepemilikan luasan kawasan hutan mangrove terluas sampai dengan saat ini.  Secara keseluruhan, kawasan Asia Tenggara memiliki luasan tutupan hutan mangrove seluas sekira 4,5 juta km2, dan merupakan bagian sebanyak 39% dari luasan keanekaragaman hayati mangrove seluruh dunia (FAO, 2015). Dari luasan tersebut, Indonesia memiliki tutupan luasan hutan mangrove terbesar seluas 2,24 juta ha, diikuti oleh luasan hutan mangrove yang dimiliki Malaysia seluas 521 ribu ha dan kemudian Phillipina seluas kira kira 356 ribu ha. Sedangkan Timor Leste dan Singapura memiliki luasan hutan mangrove yang tutupannya paling rendah sekira hanya 3 ribuan ha saja.

 Ekosistem padang lamun, hutan mangrove dan daerah pasang surut perairan asin dapat memerangkap karbon dioksida (CO2) dari atmosphere dengan cara menyimpan unsur karbon pada lapisan endapan sedimennya, juga di bawah permukaan tanah dan pada bagian biomassa di bawah permukaan serta serasah. 

Pada biomass tumbuhan hidup seperti misalnya dedaunan, batang batang, percabangan dan perakarannya, blue carbon dapat disimpan selama bertahun tahun bahkan hingga jutaan tahun dalam bentuk endapan sedimentasi bawah tanah. Sehingga, meski ekosistem perairan tersebut memiliki tutupan hutan dengan luasan yang lebih sedikit serta memiliki jumlah/volume biomassa diatas permukaan tanah yang kurang luas dibandingkan dengan volume biomass tumbuhan di daratan, mereka itu sesungguhnya memiliki potensi kandungan jangka panjang simpanan karbon, terutama adalah dalam bentuk endapan sedimentasi.

Konservasi di Cagar Alam Hutan Bakau Maubesi

Di batas negeri antara Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Republic Democratic Timor Leste terbentang ekosistem penting berupa ekosistem hutan bakau yang menjadi salah satu perwujudan utama ekosistem blue carbon dan bentuk nyata kerja konservasi sumber daya alam hayati di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

 Kawasan Cagar Alam (CA) Hutan Bakau Maubesi memiliki luas 3.246 hektar, penutupan vegetasi yang rapat dan tegakan berumur tua berasal dari beragam jenis mangrove yang membentuk kumpulan populasi sejenis di beberapa tempat seiring dengan perkembangan waktu dan daya adaptasi terhadap lingkungan. Beberapa jenis mangrove yang terdapat disini diantaranya adalah jenis Api-api (Avicenia sp.), Bakau (Rhizopora sp.), Buta-buta (Exoelcasia sp.), Nyiri (Xylocarpus sp.), Santigi (Pemphis acidula), Ceriops tagal, Bruguiera spDi kawasan CA Maubesi secara lebih lengkap ditemukan sebanyak 23 jenis mangrove yang terdiri dari 16 jenis mangrove sejati dan 7 jenis mangrove asosiasi (Hidayatullah dkk., 2013).

Ukuran vegetasi yang jauh dari pemukiman yaitu rerata tinggi pohon mencapai 15 meter dan diameter rata-rata mencapai 25 cm (Lesmana dkk, 2000). Hasil Analisis Citra menunjukkan bahwa dari total luas kawasan seluas 3.246 ha, penutupan hutan mangrove di Maubesi kurang lebih 2500 ha, luas badan air di kawasan ini kurang lebih seluas 350 ha yang merupakan muara sungai benain dan sungai-sungai utama yang ada di Kabupaten Malaka seperti Sungai Maubesi, Sungai Kotun, Sungai Darekama, dan Sungai Mamea. Cagar alam ini juga merupakan habitat bagi beragam satwa liar dari berbagai jenis mamalia, burung, reptilia, crustaceae, serangga dan dari jenis jenis lainnya, yaitu sebanyak 38 jenis burung, 8 jenis Herpetofauna dan 2 jenis mamalia. (Chrismiawati, 2016).

 

©Sulistyanto - BBKSDA NTT

 

Berita Terbaru

Gerakan Masyarakat Kota Ruteng...

Pada tanggal 25 Januari 2019 Balai Besar KSDA NT...

Penilaian METT Balai Besar KSD...

Dalam  rangka Pencapaian Target Indikator Kinerj...

Evaluasi Kesesuaian Fungsi Kaw...

  Penetapan kawasan Cagar Alam (CA) Mutis Timau p...

Simaksi dan SATS-DN Menuju Onl...

  Balai Besar KSDA Nusa Tenggara Timur diberi ama...

Mbou di Torong Padang

  Torong Padang, suatu tanjung di Utara Pulau Flo...

Ekosistem Blue Carbon di Batas...

    Ekosistem blue carbon adalah ekosistem diman...

Datang dan Bergema

  Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Te...

Samurai versus Buaya Pemakan M...

          Balai Besar KSDA NTT kedatangan seoran...

Bushcraft di Pulau Menipo

  Bushcraft adalah berkegiatan di alam bebas yang...

Sosialisasi Tumbuhan Dan Satwa...

            Pada sore hari di medio bulan Desembe...

Kabupaten Timor Tengah Selatan...

  Selama ini, kita mengenal Cagar Alam (CA) Mut...

Sio Manise Untuk Peningkatan P...

  Hasil diagnostic reading permasalahan pada Ba...

Analisis Pohon konflik TWA Rut...

Perambahan kawasan dan illegal logging TWA Ruteng ...

Perlindungan Habitat Komodo Be...

  Konsep Perlindungan Hutan Berbasis Ekosistem P...

Monitoring TSL (Ular) Usulan K...

Kupang, 7 Desember 2018 Wilayah kerja Balai Bes...

Pengamanan Kolaboratif TWA 17 ...

  Taman Wisata Alam (TWA) Tujuh Belas Pulau merup...

Rekreasi ke Camplong

  Kupang, 05/12/2018-Rekreasi, atau dulu kita bia...

Panduan Interpreter Wisata Ala...

  Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan ya...

Ruteng, The Refreshness of Flo...

Step on Flores land, it’s not only about the Kom...

Alam Spektakuler TWA Menipo

Memandang deburan ombak pantai selatan yang meng...

Ayo Wisata Bahari ke TWAL Telu...

TWAL Teluk Maumere juga dikenal dengan nama Gugu...

Eksotis dan Komplit, Wisata di...

Eksotis, kata yang mewakili Taman Wisata Alam La...

Pameran, Media Sosialisasi dan...

Pameran konservasi dilaksanakan dengan tujuan un...

Pentingnya Pembinaan Kader Kon...

    Telah menjadi kesadaran bersama bahwa kele...

Monitoring TSL (Burung) Usulan...

Kupang, 7 Desember 2018 Wilayah kerja Balai Besar...

Kunjungan TK Bintang Al Quran ...

“Awas tangannya.....” “Awas jarinya....” Kupang,...

Pilot Drone BBKSDA NTT

Kupang, 26 November 2018 Balai Besar KSDA NTT mer...

Konservasi Penyu TWA Menipo

  Perkembangan Konservasi Penyu di TWA Menipopada...

Konsultasi Publik Tapak TWA Ca...

Camplong, 14 November 2018 Pada hari Kamis, tangg...

FGD Tata Kelola PNBP TWAL G.P....

Maumere, 09 November 2018 Seksi Konservasi Wila...

Rescue Buaya Muara di Soliu

  Kupang, 2 November 2018 Pada tanggal 31 Oktobe...

Pemberdayaan Masyarakat di Des...

Maumere, 19 Oktober 2018. Balai Besar KSDA NTT m...

Pelatihan Penanganan Konflik M...

Kupang, 19 Oktober 2018. Dalam upaya mitigasi pe...

Guru Pemerhati KSDAE

Soe, 27 September 2018 Sebagai Unit Pelaksana Tek...

Konflik Satwa (Buaya) di Welul...

Maubesi, 17 September 2018 Pada tanggal 6 Septe...

Pemberdayaan Masyarakat Desa P...

BBKSDA NTT, 13 September 2018 Dalam pengelolaan T...

Upaya Pembangunan Karakter Gen...

BBKSDA NTT, 13 September 2018   Balai Besar KS...

Role Model Tanaman Obat Berbas...

BBKSDA NTT, 13 September 2018 Latar Belakang Tam...

Inventarisasi Masyarakat Tradi...

Riung, 12 September 2018 Taman Wisata Alam Laut (...

Penanganan Bangkai Paus Sperm...

Alor, 10 September 2018 Pada hari Senin,  tangg...

Nuri Diserahkan Sukarela di SK...

Maumere, 31 Agustus 2018 Balai Besar Konservasi...

Daging Penyu dan Lumba Lumba d...

Maumere, 31 Agustus 2018   Sebagai tindak lanj...

Penyerahan Satwa Secara Sukare...

Maumere, 28 Juni 2018 Balai Besar KSDA (BBKSDA) N...

Monitoring Penangkaran Ex-Situ...

Monitoring Penangkaran Ex-Situ Rusa Timor di Kota ...

Penyelamatan Komodo di Desa Ba...

Bari, 22 Juli 2018 Sehubungan dengan adanya inf...

Pengiriman Kulit Buaya dari Al...

Kupang, 2 Maret 2018. Sebanyak enam lembar kulit ...

TWA Camplong, Bukan TPA Camplo...

Camplong, 21 Februari 2018 “Ayo bergerak bersama”...

Partisipasi BBKSDA NTT di HMPI...

Kupang, 16 Desember 2017. Balai Besar KSDA Nusa T...

Kerjasama Pelestarian Kura-Kur...

Kupang, 28 September 2017 Dalam rangka Optimalisa...

Sosialisasi Perlindungan Rugu/...

Borong, 27  September 2017 Bertempat di Aula Dina...

Burung Beo dan Gigi Duyung Dia...

Kupang, 18 September 2017 Pada hari Senin tanggal...

Pembahasan Draft Role Model BB...

Kupang, 6 september 2017   BBKSDA NTT melaksanak...

Kerjasama Antara BBKSDA NTT da...

Kupang, 28 Agustus 2017. Bertempat di Kantor Bala...

Gubernur NTT di Stand Kehutana...

Kupang, 13 Agustus 2017 Gubernur NTT, Drs. Frans ...

Jelajah Sepeda Tahun 2017 di T...

Kupang, 13 Agustus 2017 Jelajah Sepeda Kompas 201...

Peringatan Hari Konservasi Ala...

Kupang, 10 Agustus 2017 Melalui Keppres Nomor 22 ...

Buaya Punya Kandang Baru

Kupang, 4 Agustus 2017 Buaya memiliki sifat 'homi...

Darurat Peredaran Tumbuhan dan...

Kupang, Februari 2017. Hanya dalam kurun waktu 2 ...

1 Ekor Buaya Betina Diamankan

Kupang, 9 Mei 2017. Menindaklanjuti laporan dari ...

Konservasi Penyu di TWA Menipo

Kupang, 19 Maret 2017. 150 ekor tukik hasil penet...