best joomla menu module
Call Center.pngStop Illegal.png
100_3258.JPG17 pulau.JPG17 pulau.jpg20160721_161823.jpgDSC00453.JPGDSC00546.jpgDSC_0044.JPGDSC_0404.JPGDSC_0530.JPGDSC_0556.JPGDSC_0648.JPGDSC_0768.JPGDSC_0964.JPGIMG_3146.JPGIMG_5732.JPGIMG_6219.JPGIMG_6411.JPGP1020015.JPG_DSC0323.JPGwae wuul.JPG

 

Fatumnasi, 19 Juli 2020

 

Pendekatan dengan filosofi “3 A” (Ahimsa, Anekanta, Aparigraha) selalu diterapkan BBKSDA NTT selaku perwakilan pemerintah dalam mengelola kawasan konservasi Cagar Alam (CA) Gunung Mutis untuk menjaga harmoni antara pemerintah dan masyarakat dengan alam.

 

Karena manfaat dari Gunung Mutis telah menghidupi masyarakat sekitar sejak turun temurun hingga saat ini. Pendekatan dengan cara damai untuk menghindari perilaku atau sikap kekerasan (violence). Sebaliknya mengutamakan perundingan (dialog, red) untuk kerukunan dan kesatuan. Lebih dari itu, kesadaran semua pihak untuk datang bermusyarawarah dengan hati yang murni dan bersih secara bersama-sama.

 

Latar belakang dari dilaksanakannya kegiatan ini antara lain karena perkembangan pengelolaan konservasi di Indonesia termasuk di NTT yang semakin dinamis; baik informasi, strategi, cara kelola, kondisi alam, maupun ekonomi dan social budaya masyarakat.  Pelibatan masyarakat sekitar dalam pengelolaan konservasi menjadi penting agar masyarakat diposisikan sebagai subjek dalam pengelolaan kawasan konservasi, demi terbangunnya rasa saling percaya mewujudkan harmoni alam dan masyarakat.

 

Kawasan Cagar Alam Gunung Mutis terletak di daratan Pulau Timor. Secara administratif pemerintahan, Kawasan CA Gunung Mutis berada di wilayah Kecamatan Fatumnasi dan Kecamatan Tobu, Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Kecamatan Miomafo Barat Kabupaten Timor Tengah Utara.

 

Kawasan Cagar Alam Gunung Mutis merupakan salah satu kawasan Suaka Alam yang ditunjuk melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan nomor : 423/Kpts-II/1999, tanggal 15 Juni 1999 dengan luas 17.211,95 hektar.

 

Walau demikian, tanpa dukungan seluruh komponen khususnya masyarakat di sekitar, Balai Besar KSDA NTT tentu tidak akan mampu melakukan pelestarian kawasan tersebut. Pada dasarnya masyarakat sekitar Gunung Mutis sangat menyadari betapa pentingnya keberadaan Gunung Mutis bagi kehidupan masyarakat setempat. Sebab sumber air Gunung Mutis dan manfaat lainnya telah menghidupi masyarakat setempat puluhan bahkan ratusan tahun hingga saat ini. Dengan demikian, harmoni masyarakat dan alam menjadi satu keniscayaan agar alam lestari dan masyarakat bahagia.

 

Kepala BBKSDA NTT, Ir. Timbul Batubara, M.Si menyatakan, “BBKSDA NTT akan melaksanakan salah satu arahan Bapak Dirjen dalam 10 cara kelola baru untuk membangun kesadaran semua pihak untuk datang musyawarah sebagai seakan akan tidak punya rumah, tidak punya atribut, dengan kemurnian kalbu, secara bersama-sama merenungkan nilai-nilai universal yang membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik mana yang buruk, mana yang bermanfaat dan mana yang tidak bermanfaat, mana yang halal dan mana yang haram. Masyarakat sebagai subjek jadi masyarakat itu diposisikan sebagai subjek atau pelaku utama dalam berbagai model pengelolaan kawasan. Harus sering turun ke lapangan dan mendengarkan masyarakat. Kalau ada masalah, selesaikan bersama-sama, dan bahwa BBKSDA NTT selaku perwakilan pemerintah dalam mengelola kawasan konservasi, termasuk kawasan CA Mutis, tentunya tidak ingin terjadi disharmoni antara pemerintah dan masyarakat. Untuk itu, berbagai pendekatan terus dilakukan. Salah satunya yakni pendekatan dengan filosofi “3 A” (Ahimsa, Anekanta, Aparigraha).

 

Kepala BBKSDA NTT juga menjelaskan bahwa makna filosofi dari masing-masing “3 A). Ahimsa adalah pendekatan dengan cara damai, menghentikan semua cara-cara kekerasan. Sedangkan Anekanta adalah melakukan perundingan, kerukunan dan persatuan. Aparigraha adalah kesadaran semua pihak untuk datang bermusyawarah dengan kemurnian kalbu secara bersama-sama. Memaknai filosofi tersebut bahwa duduk bersama bermusyawarah; membicarakan hal-hal baik untuk sebuah kebaikan dan kemaslahatan bangsa menjadi penting. Oleh karena itu, Balai Besar KSDA NTT selalu berusaha untuk menghadirkan suasana yang damai, mengajak para tokoh masyarakat untuk selalu berkomunikasi dan bermusyawarah.

 

Pengelolaan kawasan konservasi selalu berkembang, termasuk di CA Mutis. Baik itu karena alam maupun aktivitas manusia. Di CA Mutis kebakaran hutan dan lahan menjadi hal penting diantisipasi. Hal ini karena adanya bulan kering yang lebih panjang dan aktivitas perladangan masyarakat sekitar kawasan konservasi dan budaya bercocok tanam dengan cara tebas-bakar yang dapat menjadi ancaman bagi kelestarian kawasan CA Mutis.

 

Tercatat di NTT sejak tahun 2015-2019 terjadi kebakaran di 20 kawasan konservasi dan pada tahun 2019 kebakaran mencapai luas 340.152 ha, termasuk di CA Mutis 260,1 ha. Menghadapi kerawanan ini, perhatian serius dari pimpinan Kementerian LHK terus mengalir untuk meningkatkan kewaspadaan. Dirjen KSDAE pun mengingatkan semua pengelola hutan konservasi untuk waspada (melalui surat Nomor : S.295/KSDAE/KK/KSA.1/4/2020 tanggal 21 April 2020, perihal Peningkatan Kewaspadaan Dalam Rangka Antisipasi Kesiagaan Kebakaran Hutan Konservasi dan Pemutakhiran Data, red). Dari sebab itu Balai Besar KSDA NTT terus melakukan langkah antisipasi dengan cara sosialisasi dan bermusyawarah dengan para tokoh masyarakat di sekitar CA Mutis melalui pendekatan Aparigraha.

 

Kepala BBKSDA NTT menegaskan bahwa semua kegiatan tersebut dilakukan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan dalam tatanan normal baru (New Normal) di masa pandemi Covid-19. Kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan pada tanggal 17 – 18 Juli 2020, bertempat di daerah penyangga CA Mutis, Kabupaten Timor Tengah Selatan.

 

Kegiatan Aparigraha ini tidak hanya membicarakan masalah kerawanan kebakaran hutan dan lahan, tetapi juga perkembangan pengelolaan CA Mutis. Salah satunya tentang perubahan sebagian fungsi kawasan tersebut sesuai usulan tim evaluasi kesesuaian fungsi. Kemudian arahan Dirjen KSDAE Kementerian LHK melalui surat S.714/KSDAE/PIKA/KSA.0/9/2019 tanggal 25 September 2019 tentang Tindak Lanjut Laporan Evaluasi Cagar Alam Mutis Timau.

 

Diharapkan kegiatan sosialisasi dengan pendekatan Aparigraha ini menyatukan niat baik kita semua untuk pengelolaan CA Mutis yang lebih baik, dapat menjadi salah satu best practice dan lesson learned  dalam pengelolaan kawasan bersama extended family CA Mutis. Khususnya harmonisasi antara keberadaan alam CA Mutis dan budaya yang sangat kuat dari Masyarakat Mutis.

 

Kegiatan sosialisasi ditutup dengan penyerahan 500 bibit  pohon mangga, pohon  salam dan pohon kemiri secara simbolis di tua adat Mateos Anin, dan sisanya sementara di Karest Fatumnasi.

 

Berita Terbaru

SURVEY PEMANFAATAN JENIS TERIP...

Teripang merupakan salah satu komoditas unggulan N...

Pelepasliaran 6 Ekor Biawak Ko...

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK...

BBKSDA NTT Serahkan Bantuan Ek...

Balai Besar KSDA NTT  bersama  Balai TN Komodo dan...

BBKSDA NTT Bentuk Kader Konser...

Pada tanggal 20 September 2023 lalu Balai Besar ...

Supervisi ke Taman Buru Pulau ...

Pada tanggal 17 September 2023 lalu Kepala B...

KSDAE Mengajar di SD GMIT Baum...

KSDAE Mengajar merupakan program kependidikan ya...

Jamur Tudung Pengantin di TWA ...

  Jamur Tudung (Phallus multicolor) adalah jamu...

Pelatihan Pembuatan Produk Mak...

  Senin, 29 Mei 2023, Kepala Balai Besar KSDA N...

Petugas BBKSDA NTT Terima Peny...

  Pada hari Selasa, tanggal 2 Mei 2023 petugas ...

Capung di Taman Wisata Alam Ca...

  Taman Wisata Alam Camplong terkenal dengan po...

BBKSDA NTT Selenggarakan Pelat...

Selama dua hari pada tanggal 4 – 5 November 2022, ...

BALAI BESAR KSDA NTT SERAHKAN ...

  Balai Besar KSDA NTT  pada  minggu pertama Bu...

Sang Kupu- Kupu Raja Timor di ...

          Kupu-kupu Raja Timor atau Silver Bi...

Penyerahan SK TORA dan Hutan S...

  Balai Besar KSDA NTT sebagai Korwil UPT KLHK ...

Kini, Kolam Wisata Oenaek Memi...

Kolam wisata Oenaek merupakan tempat wisata di K...

Sosialisasi Indonesia's FOLU N...

  Pada tanggal 1-2 Februari 2023 kemarin telah di...

Awali KSDAE Mengajar di SDI Ai...

KSDAE Mengajar Begin!   Pada 3 Februari 2023, ...

STOP Buang Sampah di TWA Campl...

  #KawanKonservasi (https://www.instagram.com/e...

Persiapan Sosialisasi FOLU NET...

Jumat, 20 Januari 2023. Kepala Balai Besar KSDA ...

Penenun Warna Alam adalah Peju...

  Sepenggal kalimat tersebut keluar dari Ibu Myra...

Penandatanganan PKS BBKSDA NTT...

Kupang, 12 Oktober 2020 Rasa syukur melingkupi ...

Penandatanganan RKT PKS BBKSDA...

Kupang, 29 September 2020 Hai Kawan Konsevasi, ...

Peringatan Puncak Hari Konserv...

  Menjelang hitungan hari, peringatan puncak Hari...

BBKSDA NTT Sabet 35 Sertifikat...

Kupang, 3 September 2020 Kamis nan mani...

Upaya Penanganan Paus Biru (Ba...

  Kupang, Rabu, 22 Juli 2020.   Balai Besar K...

Pendekatan Filosofi 3A Dalam H...

  Fatumnasi, 19 Juli 2020   Pendekatan dengan...

Ber-KOMPAK ala BBKSDA NTT

  Kupang, 28 Mei 2020  Pada hari Kamis tanggal ...

Pelepasliaran Burung Anis Kemb...

Kupang, 5 Juli 2020 Minggu, 14 Juni 2020, BBKSD...

Webinar Ketahanan Pangan Masya...

  Kupang, 19 Juni 2019.   Balai Besar KSDA N...

Simulasi Penerapan Protokol Co...

  Enoraen, 17 Juni 2020 Bertempat di Taman Wis...

Peringatan Hari Lingkungan Hid...

  Kupang, 5 Juni 2020.   Hari ini, jam 10.00-...

Menjelang New Normal, BBKSDA N...

  Maumere, 4 Juni 2020  Saat ini kita tengah...

Penanganan Konflik Buaya Muara...

Kupang, 1 Juni 2020 Konflik satwa liar antara bua...

Kepala BBKSDA NTT Melakukan Ku...

  Kupang, 22 Mei 2020   Pagi tadi (Jumat, 22 ...

Aksi Peduli Darurat Covid-19, ...

  Kupang, 24 April 2020   Hari ini, Balai Bes...

BBKSDA NTT Gelar Doa Bersama L...

  Kupang, 18 April 2020   Sabtu pagi, 18 Apri...

BBKSDA NTT Serahkan Bantuan Ke...

    Kupang, 3 April 2020   Balai Besar KSDA...

UNIT PENANGANAN SATWA BBKSDA N...

Sumba, 03 Februari 2020 Unit Penanganan Satwa (...

Bbksda Ntt Serahkan Santunan U...

Penyerahan santunan dari BBKSDA NTT ke keluarga ...

TRAGEDI DI LEMBATA KALA “NENEK...

Lembata, 31 Januari 2020 Ah, barangkali judul di ...

Peta Rencana Kerja Resort Tahu...

Kupang, 22 Januari 2020   Peta Rencana Kerja Res...

Festival Menipo 2019

Kepala BBKSDA NTT (kiri) dan Gubernur NTT (tenga...

Serunya Penyuluhan TSL di Maum...

Maumere, 26 November 2019 Pendidikan koservasi ...

Festival Menipo 2019

  Kupang, 15 Oktober 2019       Pada Senin ...

SRAK Biawak Komodo

Kupang, 16 Oktober 2019 Pada tanggal 15 Oktober...

Jemboreng ke TWA Menipo

Kupang, 1 November 2019 Menipo, “pulau” yang se...

Upaya Penyelamatan Paus Pilot

 Identifikasi dan Pengukuran Paus Pilot Maumere...

Kunjungan Kepala BBKSDA NTT di...

  Penyambutan Kepala Balai Besar KSDA NTT Mala...

Patroli Merah Putih di Batas N...

Atambua,  Agustus 2019 Presiden Republik Indone...

Workshop Pelestarian Penyu

  Maumere, 19 Juli 2019. Dalam rangka menjaga...

Komodo Kembali Ke Habitatnya D...

 Persiapan Pelepasliaran Komodo di Pulau Oentolo...

Kunjungan Sekda Provinsi NTT k...

 Sekda Provinsi NTT beserta rombongan dan Petuga...

Melepasliar Sanca Timor di Hut...

Pelepasliaran Sanca Timor di Hutan Egon Ilemedo ...

BBKSDA NTT sajikan KOPIKO di d...

Kepala BBKSDA NTT (Peci Hitam) Didampingi Pejaba...

Penemuan Bangkai Lumba-lumba d...

Maumere, 30 Juni 2019 Pada hari Minggu tanggal ...

Menyelamatkan Komodo Yang Masu...

Kupang, 2 Juli 2019 Balai Besar KSDA NTT melalu...

Evakuasi Dramatis Buaya Muara ...

  Kupang, 1 Juli 2019 Balai Besar KSDA NTT mel...

Repatriasi Kura-kura Leher Ula...

Pict. Kepala BBKSDA NTT dan Direktur WCS-IP Kup...

Gerakan Masyarakat Kota Ruteng...

Pada tanggal 25 Januari 2019 Balai Besar KSDA NT...

Hari Peduli Sampah Nasional (H...

Gubernur NTT dan Kepala BBKSDA NTT Senin, 4 Mar...

Penilaian METT Balai Besar KSD...

Dalam  rangka Pencapaian Target Indikator Kinerj...

Evaluasi Kesesuaian Fungsi Kaw...

  Penetapan kawasan Cagar Alam (CA) Mutis Timau p...

Simaksi dan SATS-DN Menuju Onl...

  Balai Besar KSDA Nusa Tenggara Timur diberi ama...

Mbou (Komodo) di Torong Padang

  Torong Padang, suatu tanjung di Utara Pulau Flo...

Ekosistem Blue Carbon di Batas...

    Ekosistem blue carbon adalah ekosistem diman...

Datang dan Bergema

  Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Te...

Samurai versus Buaya Pemakan M...

          Balai Besar KSDA NTT kedatangan seoran...

Bushcraft di Pulau Menipo

  Bushcraft adalah berkegiatan di alam bebas yang...

Sosialisasi Tumbuhan Dan Satwa...

            Pada sore hari di medio bulan Desembe...

Kabupaten Timor Tengah Selatan...

  Selama ini, kita mengenal Cagar Alam (CA) Mut...

Sio Manise Untuk Peningkatan P...

  Hasil diagnostic reading permasalahan pada Ba...

Analisis Pohon konflik TWA Rut...

Perambahan kawasan dan illegal logging TWA Ruteng ...

Perlindungan Habitat Komodo Be...

  Konsep Perlindungan Hutan Berbasis Ekosistem P...

Monitoring TSL (Ular) Usulan K...

Kupang, 7 Desember 2018 Wilayah kerja Balai Bes...

Pengamanan Kolaboratif TWA 17 ...

  Taman Wisata Alam (TWA) Tujuh Belas Pulau merup...

Rekreasi ke Camplong

  Kupang, 05/12/2018-Rekreasi, atau dulu kita bia...

Panduan Interpreter Wisata Ala...

  Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan ya...

Ruteng, The Refreshness of Flo...

Step on Flores land, it’s not only about the Kom...

Alam Spektakuler TWA Menipo

Memandang deburan ombak pantai selatan yang meng...

Ayo Wisata Bahari ke TWAL Telu...

TWAL Teluk Maumere juga dikenal dengan nama Gugu...

Eksotis dan Komplit, Wisata di...

Eksotis, kata yang mewakili Taman Wisata Alam La...

Pameran, Media Sosialisasi dan...

Pameran konservasi dilaksanakan dengan tujuan un...

Pentingnya Pembinaan Kader Kon...

    Telah menjadi kesadaran bersama bahwa kele...

Monitoring TSL (Burung) Usulan...

Kupang, 7 Desember 2018 Wilayah kerja Balai Besar...

Kunjungan TK Bintang Al Quran ...

“Awas tangannya.....” “Awas jarinya....” Kupang,...

Pilot Drone BBKSDA NTT

Kupang, 26 November 2018 Balai Besar KSDA NTT mer...

Konservasi Penyu TWA Menipo

  Perkembangan Konservasi Penyu di TWA Menipopada...

Konsultasi Publik Tapak TWA Ca...

Camplong, 14 November 2018 Pada hari Kamis, tangg...

FGD Tata Kelola PNBP TWAL G.P....

Maumere, 09 November 2018 Seksi Konservasi Wila...

Rescue Buaya Muara di Soliu

  Kupang, 2 November 2018 Pada tanggal 31 Oktobe...

Pemberdayaan Masyarakat di Des...

Maumere, 19 Oktober 2018. Balai Besar KSDA NTT m...

Pelatihan Penanganan Konflik M...

Kupang, 19 Oktober 2018. Dalam upaya mitigasi pe...

Guru Pemerhati KSDAE

Soe, 27 September 2018 Sebagai Unit Pelaksana Tek...

Konflik Satwa (Buaya) di Welul...

Maubesi, 17 September 2018 Pada tanggal 6 Septe...

Pemberdayaan Masyarakat Desa P...

BBKSDA NTT, 13 September 2018 Dalam pengelolaan T...

Upaya Pembangunan Karakter Gen...

BBKSDA NTT, 13 September 2018   Balai Besar KS...

Role Model Tanaman Obat Berbas...

BBKSDA NTT, 13 September 2018 Latar Belakang Tam...

Inventarisasi Masyarakat Tradi...

Riung, 12 September 2018 Taman Wisata Alam Laut (...

Penanganan Bangkai Paus Sperm...

Alor, 10 September 2018 Pada hari Senin,  tangg...

Nuri Diserahkan Sukarela di SK...

Maumere, 31 Agustus 2018 Balai Besar Konservasi...

Daging Penyu dan Lumba Lumba d...

Maumere, 31 Agustus 2018   Sebagai tindak lanj...

Penyerahan Satwa Secara Sukare...

Maumere, 28 Juni 2018 Balai Besar KSDA (BBKSDA) N...

Monitoring Penangkaran Ex-Situ...

Monitoring Penangkaran Ex-Situ Rusa Timor di Kota ...

Penyelamatan Komodo di Desa Ba...

Bari, 22 Juli 2018 Sehubungan dengan adanya inf...

Pengiriman Kulit Buaya dari Al...

Kupang, 2 Maret 2018. Sebanyak enam lembar kulit ...

TWA Camplong, Bukan TPA Camplo...

Camplong, 21 Februari 2018 “Ayo bergerak bersama”...

Partisipasi BBKSDA NTT di HMPI...

Kupang, 16 Desember 2017. Balai Besar KSDA Nusa T...

Kerjasama Pelestarian Kura-Kur...

Kupang, 28 September 2017 Dalam rangka Optimalisa...

Sosialisasi Perlindungan Rugu/...

Borong, 27  September 2017 Bertempat di Aula Dina...

Burung Beo dan Gigi Duyung Dia...

Kupang, 18 September 2017 Pada hari Senin tanggal...

Pembahasan Draft Role Model BB...

Kupang, 6 september 2017   BBKSDA NTT melaksanak...

Kerjasama Antara BBKSDA NTT da...

Kupang, 28 Agustus 2017. Bertempat di Kantor Bala...

Gubernur NTT di Stand Kehutana...

Kupang, 13 Agustus 2017 Gubernur NTT, Drs. Frans ...

Jelajah Sepeda Tahun 2017 di T...

Kupang, 13 Agustus 2017 Jelajah Sepeda Kompas 201...

Peringatan Hari Konservasi Ala...

Kupang, 10 Agustus 2017 Melalui Keppres Nomor 22 ...

Buaya Punya Kandang Baru

Kupang, 4 Agustus 2017 Buaya memiliki sifat 'homi...

Darurat Peredaran Tumbuhan dan...

Kupang, Februari 2017. Hanya dalam kurun waktu ...

1 Ekor Buaya Betina Diamankan

Kupang, 9 Mei 2017. Menindaklanjuti laporan dar...

Konservasi Penyu di TWA Menipo

Kupang, 19 Maret 2017. 150 ekor tukik hasil pen...